Sufisme (tasawuf) itu mengamalkan teologi monoteisme (tauhid). Di dalam tauhid, didiskusikan secara serius sifat yang wajib bagi Allah, sifat yang mustahil bagi-Nya, dan sifat jawaz. Ilmu harus diamalkan. Maka, bagaimana cara mengamalkan ilmu tentang sifat wajib bagi Allah itu?

Sifat pertama, di antara dua puluh sifat yang wajib bagi Allah, adalah wujud. Untuk mengamalkan ilmu sifat pertama Tuhan ini, kaum sufi menggunakan instrument hati. Sebab, titik fokus perhatian kaum sufi adalah hati.

Setiap detik, hati kaum sufi berdetak nama Allah. Di setiap tempat dan di dalam keadaan apapun. Saat dia bekerja, hatinya tak berhenti-henti berdetak nama Allah. Hatinya tak pernah diam. Hatinya terus menerus berkata, “Allah, Allah, Allah”, tanpa henti. Saat berbicara, hatinya tetap berdetak “Allah, Allah, Allah”. Imam al-Sya’rani, pengarang kitab al-Mizan al-Kubra, kitab perbandingan empat madzhab fikih, mengaku bahwa full 24 jam hatinya berdetak Allah, Allah, Allah.

Di dalam literature sufisme, dzikir dengan nama “Allah” semata dikenal dengan istilah dzikir dzat atau Isim Mufrad. Syaikh al-Ya’kubi, seorang tokoh Tarekat Syadziliah, di salah satu bait syairnya ketika berziarah ke Humaitsirah, tempat di mana Imam Abu al-Hasan al-Syadzili dimakamkan, menulis, “Wahai sufi, tempuhlah perjalanan menuju Allah dengan kendaraan Isim Mufrad”.

Meskipun demikian, kaum sufi tak sembarangan mendetakkan hatinya dengan Isim Mufrad ini. Mereka mengamalkan dzikir dzat ini melalui sebuah proses sakral yang disebut Bay’at. Fungsi Bay’at ini adalah sebagai penyambung mata rantai dzikir yang tak terputus dan terus bersambung hingga ke Rasulullah Saw.

Ibarat kran air, seorang yang mengambil Bay’at, maka dia telah membuka kran yang mengalirkan air yang sumber puncaknya adalah Rasulullah Saw. Dengan membuka kran, dia telah memiliki sinyal yang sambung menyambung hingga ke Rasulullah Saw.

Tujuan Utama Kaum Sufi

Seorang sufi mempunyai satu tujuan; Allah. Allah adalah satu-satunya tujuan kaum sufi. Dia ingin mengenal Allah selengkap mungkin dan sedalam mungkin. Karena, tak ada kebahagiaan sejati kecuali mengenal Allah Swt. Bahkan, seandainya kebahagiaan itu tak dicapai, namun Allah bisa digapai, maka seorang sufi lebih mendahulukan Allah Swt daripada kebahagiaan itu sendiri. Karena, kebahagiaan tak ada gunanya tanpa mengenal Allah Swt.

Yang ada di pikiran seorang sufi hanya Allah. Hatinya pun tak berdetak kecuali dengan nama Allah. Bahkan, di dalam kitab Tafsir Shawi syarah dari kitab Tafsir Jalalain, terdapat sebuah bait syair yang berbunyi, “Satu detik saja, saya melupakan Allah, maka saya telah murtad”. Seorang sufi tergila-gila kepada Allah Swt.

Kaum sufi memulai pengembaraannya mencari Allah Swt dengan mempelajari ilmu tauhid (teologi monoteisme). Ilmu ini menggunakan instrument logika. Pengetahuannya yang sangat mendalam tentang Allah Swt hingga pada batas melumpuhkan logika. Logika tak cukup kuat untuk berkenalan dengan Allah Swt secara intens. Logika hanya satu tangga menuju Allah Swt. Maka, mereka tak berhenti di logika. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt melalui Syariat.

Di dalam Syariat, mereka mengikatkan diri dengan kekokohan yang kuat. Setelah menamatkan sekolah syariat, mereka baru melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu sekolah Tarekat. Sejak saat itu, tepat di saat Bay’at diucapkan, simbolisme sufistik tersemat di pundak mereka.

Mencari Allah Di Puncak Semesta

Pada jenjang menuju puncak, seorang sufi menyerahkan segala-galanya dan sepenuhnya kepada Allah Swt. Tak ada yang sampai kepada Allah, kecuali Allah sendiri yang menyampaikan dia ke Diri-Nya. Tak semua orang mau bersusah payah mencari jalan menuju Allah Swt. Bagaimana mungkin mau mencari, mengenal Allah saja mereka tak mau.

Kata Tuangku Syaikh M. Ali Hanafiah al-Rabbani, mursyid Tarekat Qadariah Hanafiah, “Orang yang mencari Allah Swt adalah orang yang Allah sendiri memanggilnya untuk mencari-Nya.”