Jakarta - Sudirman Cup adalah olahraga Badminton yang dipertandingkan dua tahun sekali di setiap tahunnya. Sistem pertandingan "Sudirman Cup" dilaksanakan secara beregu campuran dari masing-masing negara yang ikut bertanding, tentunya akan mempersiapkan atlitnya dengan matang seperti "tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, ganda campuran".

Pertandingan sudah berlangung yang dilaksanakan di negara "Finlandia kota Vantaa" mendapatkan suatu kehormatan untuk menjadi tuan rumah "Sudirman Cup 2021" pada periode 26 September sampai dengan 3 Oktober 2021 mendatang. Dari hasil drawing atau pengelompokkan group perwakilan atlit dari 16 negara yang ikut berpertisipasi atau semangat juang untuk merebutkan piala Sudirman Cup tahun 2021.
*** 
Adapun hasil drawing atau pembagian group terdiri dari 4 group diantaranya "Group A atlit dari negara China, Thailand, Finlandia dan India, Group B atlit dari negara Taiwan, Korea Selatan, Tahiti, dan Jerman, Group C atlit dari negara Indonesia, Denmark, Rusia dan Kanada, sedangkan Group D atlit dari negara Jepang, Malaysia, Inggris dan Mesir". "Yang akan di pertandingan pada tanggal 26 - 29 September "Group Stage", 30 September dan 01 Oktober "Quarter Finals", 02 Oktober "Semi Finals" dan 03 Oktober "Finals" dalam waktu rata-rata dimulai dari jam 14.00 - 00.00 wib kecuali pertandingan finals akan dilaksanakan dari jam 17.00 - 22.00 Wib".

"Analisa dalam group C" Indonesia jauh lebih unggul walaupun akan berhadapan dengan Denmark, namun yang di unggulkan Denmark hanya beberapa pemain saja seperti tunggal putra yang menjadi tulang punggung dalam pertandingan regu campuran ini. Sedangkan pertandingan "berhadapan dengan Rusia dimenangkan Indonesia dengan Skor 5 - 0 (26/09/21), berhadapan dengan Kanada akan dilaksanakan (27/01/2021) jam 20.00 Wib menang tipis dengan skor 3 - 2 namun tidak di tayangkan, sedangkan berhadapan dengan Denmark akan dilaksanakan (29/09/30) jam 14.00 Wib".

Mengingat sejarah bahwa pertandingan badminton "Sudirman Cup" menjadi tantangan terbesar bagi atlit Indonesia untuk membawa piala pulang, sebab dari tahun 1989 belum pernah menjadi juara. Artinya banyak hal yang "perlu dievaluasi baik itu dari atlit, pelatih, program pembinaan dan pengembangan pelatihan, support dari pemerintah" yang perlu terlibat dalam mendukung kegiatan badminton Indonesia. Sehingga dalam waktu jangka panjang ketersediaan bibit-bibit baru atau calon atlit sudah siap bertarung dalam pertandingan badminton dunia.
*** 
Di buktikan dengan daftar pemenang piala "Sudirman Cup dari tahun 1989 - 2021" Indonesia mendapat piala hanya 1 kali di "tahun 1989, korea selatan mendapat piala sebanyak 4 kali pada tahun 1991, 1993, 2003, dan tahun 2017 sedangkan China meraih piala sebanyak 11 kali pada tahun 1995, 1997, 1999, 2001, 2005, 2007, 2009, 2011, 2013, 2015 dan tahun 2019". Sebanyak 16 kali pertandingan yang paling banyak atau dominan meraih piala Sudirman Cup adalah negara tirai bambu "China", ini lah menjadi pembelajaran dari para badminton negara lain terutama Indonesia.

"Memang membutuhkan proses dan kerja keras" dengan terus berlatih untuk menggapai juara sehingga secara otomatis piala langsung bisa bawah pulang. Plashback olimpiade Agustus pekan lalu Indonesia mendapatkan medali emas dan medali perak dengan "melalui Apri Rahayu/Greysia Polli juara 1 ganda putri dan Anthony Ginting juara 3 tunggal putra". Sehingga hal ini, bisa menjadi motivasi bagi masyarakat Indonesia terutama dari keluarga, sahabat, pemerintah dan pihak yang berkepentingan lainnya.
*** 
Menjadi penyesuaian diri para atlit dalam berbagai pertandingan terutama dalam laga "Sudirman Cup" tampilnya beregu semua team harus saling mendukung walaupun ada yang mengalami kekalahan, bahan evaluasi diri baik secara individu maupun kelompok harus bangkit dari setiap  kekecewaan karena kalah dalam bertanding.Tidak bisa dihindari juga, kekuatan pertandingan "Sudirman Cup" tergantung kelompok yang akan tampil sampai menuju final dan membawa piala pulang ke Indonesia. 

"Strategi pelatih dalam pengaturan pemain atau para attit" memang digabungkan antara senior dan junior, sehingga bisa mengimbangi dalam pertandingan artinya secara mental membuat junior lebih semangat bertanding tentunya butuh dukungan dari senior. Dalam babak pengisian group pemain dari Indonesia berbeda-berbeda seperti contoh kita ambil dari ganda putra saja, Indonesia VS Rusia (ROC) atlit ganda putranya "Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo, Indonesia VS Kanada atlit ganda putranya "Fajar Alvian dan Muhammad Rian Ardianto sedangkan Indonesia VS Denmark atlit ganda putranya adalah Hendra Setiawan  dan Mohammad Hasan".
*** 
Adapun junior yang digabungkan dalam setiap pertandingan group C Indonesia seperti, saat "Indonesia VS Rusia (ROC) menurunkan ganda putri Siti Fadia Silvia Ramadhanti/Ribka Sugiarto, Indonesia VS Kanada menurunkan tunggal putri Ester Nurumi Tri Wardoyo dan ganda campuran Rinov Rivaldy /Phita Haningtyas Mentari, sedangkan Indonesia VS Denmark akan menurunkan Junior dari sisi tunggal putra Shesar Hiren Rhustavito, tunggal putri menurunkan Putri Kusuma Wardani dan digabungkan juga yang sudah bertanding melawan Rusia dan Kanada terutama pemain ganda campuran dan ganda putri".

Kombinasi para atlit Indonesia bagian dari formasi untuk memenangkan pertandingan "Sudirman Cup" dengan menempatkan re-generasi pemain antara junior dan senior, sehingga pada saat "senior gantung raket atau pensiun" jauh lebih mudah beradaptasi terkait pertandingan badminton kelas nasional maupun internasional. Dalam beberapa laga lainnya "secara psikologis dan mental sudah terbangun dengan sendirinya" akan bangkit untuk menjadi juara mengikuti jejak para senior sebelumnya. Hal ini kemungkinan besar menjadi semangat baru dalam berbagai kesempatan pertandingan lainnya.
"Sukses selalu untuk para Atlit Badminton Indonesia, kami menunggu piala Sudirman Cup hadir di Indonesia"