Kasus “Klepon Bukan Islami” menambah deretan panjang masalah barang yang sengaja diislamisasikan di Indonesia. Kasus tersebut menjadi sorotan mengapa ada orang yang begitu teganya sampai sebutir klepon seukuran kelereng pun dipaksakan untuk beragama?

Tentu saja klepon tidak sendiri. Masih banyak saudara sebangsanya yang tidak ada label islami. Nasi, tempe, tahu, gula, garam, jagung, sagu, itu semua tidak ada embel-embel islami. Pokoknya cuma kurma, unta, dan kambing yang bisa dilabeli islami. Itu pun syaratnya harus dari Negeri Arab.

Baru dari segi makanan. Belum barang-barang lain yang dipaksakan untuk beragama. Jilbab sekarang saja sudah terbungkus label halal. Baju lebaran saja dianggap baju islami, walaupun asalnya dari China dengan nama Baju Koko. Kalau bukan baju islami, ya nama lainnya, Baju Syar’i.

Kenapa sih sebagian orang mau-maunya mempersulit diri dengan mengkultus suatu barang dengan label agama? Emangnya kalau sudah dilabel islami, itu baju dan makanan islami jadi rajin sholat dan puasa? Kan tidak.

Kadang ingin menyindir para kaum pemuja “Label Islam”, maupun mereka-mereka yang akan melarisi dagangan berstempel “Islami” atau “Syar’i”. “Sampeyan iki ngajine nang ngendi tha? Dolane wes adoh durung?”. Karena saya berkeyakinan, pendukung Labelisasi Islam ini mainnya tidak jauh-jauh amat dari rumah. Bahkan menginjakkan kaki di tanah Merauke di ujung timur pun sepertinya belum pernah.

Coba kalau mau ke Merauke, terus berkomentar “Sagu bukan makanan Islami”. Hmmm bisa-bisa kamu disuruh survival di Hutan Papua, mencari makanan yang menurutnya islami sendirian. Apa tidak kasihan kamunya? Kecuali kamunya yang gendeng. Tidak tahu artinya “gendeng”? Googling saja sana.

Sebagian orang, termasuk saya, jelas ikut bersimpati dengan keadaan klepon saat ini. Sudah hijau, dengan butiran kelapa dan lumeran gula merah didalamnya, kurang Islami apa coba klepon itu? Katanya menurut ustaz siapa itu lupa, hijau menggambarkan Islam. Masya Allah diriku juga baru tahu. Hijau sama dengan Islam. Kalau ada yang tega memurtadkan hal-hal yang hijau, seperti klepon ini, apa ga mikir kalau dia sudah berdosa besar, menuduh saudaranya sudah kafir?

Anggap saja klepon ini sudah kafir alias tidak islami. Terus kita mau mengajak si klepon ini kembali kepada Islam yang kaffah. Coba caranya bagaimana? Dari proses merujuk kembali ke jalan yang benar, sampai klepon itu mau berucap dua kalimat sakti, kalimat syahadat, itu bagaimana? Sebagai orang yang masih sehat jasmani dan rohani, tentu saya tidak bisa menjalani tugas berat itu. Hanya orang-orang “terbalik” yang bisa melakukannya.

Itu baru kasus dari kleponnya. Belum dengan orang-orang yang sudah terlanjur makan klepon ini. Beruntung yang sudah makan dengan mengucap “bismillah” sebelum memasukkan klepon itu ke mulut. Si Klepon dan penikmatnya setidaknya terbebas dari ancaman api neraka. 

Nah bagi yang belum sempat berucap “bismillah” bagaimana? Sudah ga ngucapin, tubuh mereka telah kotor karena mengandung barang haram. Ancaman neraka sudah di depan mata, neraka dengan api yang menyala-nyala. Astaghfirullahal’dziim, segeralah bertobat wahai saudaraku yang sudah makan klepon tanpa basmalah.

Bukan hanya penikmat klepon, tapi penjualnya pun kena. Bayangkan sejak dulu mereka dengan santai tanpa ada rasa takut berdosa menjual barang konsumsi tersebut untuk sekedar mengganjal perut kosong. Tapi sekarang dihukum menjual barang yang tidak islami. Haram lah hukumnya. 

Padahal, dari hasil penjualan klepon sebagian digunakan untuk anak-anaknya makan, sekolah, dan lain sebagainya. Kasihan anak-anak penjual klepon. Nangis saya membayangkan anak-anak yang bersih dari dosa, malah mengonsumsi hasil jualan barang tidak islami. Semoga saja hasil keringat jualan klepon tetap berkah bagi keluarga penjualnya.

Dan yang paling kasihan dari semua ini ada Sang Pembuat klepon. Jelas tuduhan membuat makanan tidak islami itu sangat tidak manusiawi. Bagaimana tidak? Dengan niat dari Si Pembuatnya “Semoga dengan klepon ini membawa keberkahan untukku, penjualnya, dan penikmatnya. Juga menjadi penyelamat dikala orang lain kelaparan.” masa dituduh tidak islami kleponnya?

Hukumannya pun bisa lebih berat lagi dibanding penjual. Sebagai hulu dari terciptanya jajanan hijau bulat, tentu saja menjadi pangkal dari segala masalah. Beliau bisa menanggung dosa beberapa orang yang telah menikmati klepon tersebut. Mengurusi dosa sendiri saja masih kelabakan, apalagi kalau ditambah banyak orang yang makan beberapa butir klepon itu?

Selain orang di sekitar klepon perihal dosa-dosa mengonsumsi barang non islami, efek pengakuan bahwa Klepon bukan Islami bisa jauh lebih besar, terutama bidang ekonomi. Jelas pendapatan akan menurun drastis. Bisa saja omzet yang dulu bisa menutup biaya produksi, sekarang sekedar membeli bahan baku saja susah.

Setelah itu, baru perlahan tapi pasti kita semua akan meninggalkan Klepon sebatang kara. Siapapun tak akan mau mendekatinya. Klepon menggelinding ke pojokan tembok rumah. Sambil menangis dan membersihkan dirinya dari butiran kelapa, klepon sambat ke Tuhan, “Untuk apa gunanya aku di Bumi ini, ya Tuhan? Untuk apa?”.

Tuhan mendengar jerit rintihan klepon dari kedzaliman seseorang yang menuduh pertama kali kalau dia tidak islami. Akhirnya Tuhan mengirim ilham ke salah satu warga bangsa lain untuk membuat pernyataan, “Klepon ini adalah Makanan Milik Bangsa A. Titik!”.

Terus yang membuat klaim “Klepon Bukan Islami” akan mengajak orang-orang untuk berdemo ke Bangsa T sambil menyuarakan “Dasar Bangsa A pencuri. Luck Nut. Boikot Produk Bangsa A!”. Mungkin saja demonya akan berjilid-jilid juga itu.

Baru dari satu butir klepon saja bisa berefek ke perselisihan bangsa. Apalagi kalau beberapa barang yang diklaim milik kaum mayoritas. Kasihan teman-temannya klepon nanti. Pohon cemara tidak ada teman dari kaum Islami. Sapi nantinya tidak akan jadi hewan Qurban, karena sudah dideklarasikan menjadi salah satu Dewa.

Untung saja untuk urusan dengan baju koko, Negeri China tidak terlalu egois. Mereka membebaskan kita untuk menyatakan bahwa baju koko adalah baju yang islami. Bersyukur bisa memiliki teman dengan Negeri Para Panda ini. “Wooo dasar antek China!

Sudahlah, cukuplah sudah untuk mengislamisasi barang. Biarkan klepon, jilbab, baju, dan kawan-kawannya hidup damai dan sejahtera. Tak perlu mempersoalkan agama mereka. Penting sekarang kita berterima kasih kepada klepon dkk itu. Tanpa mereka, hidup kita akan hampa.

Tanpa klepon, kita tidak bisa merasakan manisnya gula merah. Tanpa klepon pula kita tidak bisa mengganjal perut kita dikala lapar.

Toh selama ini, klepon juga sangat terbuka. Mau islam atau bukan islam, mau cewek atau cowok, mau anak kecil atau orang dewasa (kecuali bayi. Iya bayi), klepon mau menerima dengan senang hati. “Silahkan siapaun gigit aku dengan cinta. Rasakan manisnya di setiap sudutku. Rasakan gurihnya kelapaku.” Ohh so sweet-nya.

Baiklah, mari sama-sama untuk berani mengonsumsi klepon, tanpa embel-embel ini islami atau tidak. Jangan lupa konsumsi dengan cinta dan kasih sayang, serta memberi tagar #SaveKlepon.