Dalam keseharian, saya sering menjumpai orang yang suka mengatur kehidupan orang lain. Bagi saya ini sah-sah saja bila orang tersebut, saat mengatur kehidupan orang lain, melakukan atas dasar peduli. Ia menginginkan perubahan yang akan membawa dampak baik bagi orang lain. Untuk hal ini, silakan saja.

Namun, sering kali yang terjadi justru kebablasan dan keinginan menyama-nyamakan orang. Seorang pemuda yang menjadi pengusaha, pegawai, pilot, tentara dll., baru bisa disebut sukses. Rambut pendek dan disisir rapi, begitulah seharusnya tampilan seorang lelaki. Sebaliknya, seorang perempuan, harus berpenampilan feminin. Gaya berpakaian harus begini dan begitu. Cara duduk harus seperti ini dan itu. Berlawanan dengan itu, dianggap “tidak normal.”

Itulah beberapa contoh mengenai “kenormalan” yang sering saya jumpai. Beberapa orang, terkadang terhisap dan mengikuti pola tersebut. Beberapa memberontak, meski terkadang menerima ganjaran yang juga cukup mahal, seperti dimusuhi oleh keluarga dan orang terdekat.

Seorang teman, pernah bercerita, ia terus didesak oleh keluarganya untuk memilih karier yang sama dengan Ayah, Ibu dan Kakaknya. Padahal, di saat itu, teman tersebut sedang kuliah di jurusan yang berbeda dengan jurusan yang disarankan keluarganya. Nilainya bagus. Tapi, menurut keluarganya ia harus meninggalkan jurusan tersebut.

Saya yakin, teman tersebut diperhadapkan posisi yang dilematis. Karena di satu sisi, jika tak menurut orangtua, akan menggolongkan dia sebagai anak yang tidak berbakti. Sementara di sisi yang lain, ia punya minat dan mimpi yang berbeda dari harapan keluarganya.

Saya tidak tahu bagaimana kehidupannya sekarang, karena kami tidak pernah saling berkabar lagi.

Kisahnya, membuat saya menyadari bahwa menjadi diri itu sendiri sulit. Benturan yang dihadapi tidak bisa dibilang enteng. Apalagi, jika benturan tersebut, datang dari orang-orang terdekat. Tapi, apakah sama sekali tak ada jalan untuk keluar dari hal ini? Tentu ada, meski tidak mudah.

Jalani dan Yakinkan

Tara Westover, penulis buku Educated, menuliskan tantangan dan pergumulan yang ia hadapi terkait menjadi diri sendiri. Ia terlahir dalam keluarga yang fanatik dengan kepercayaan mereka: Mormon. Dalam pemahaman Ayahnya, sekolah adalah “musuh Allah.” Itulah sebabnya, Tara, semasa kecil hanya dididik di rumah.

Praktis sejak kecil, Tara harus hidup dalam aturan yang ketat dari Ayahnya. Bukan sekadar masalah agama dan pendidikan, tetapi juga terkait masalah-masalah lain, termasuk kesehatan. Ketika sakit, hal utama yang harus dilakukan adalah berdoa, jangan ke dokter. Sederhananya, semua yang bukan datang dari Allah, patut dijauhi.

Namun, perlahan, Tara mulai membuka sekat-sekat tersebut dengan halus. Ia “memberontak” dan mulai meragukan banyak hal yang ia yakini selama ini. Berbekal rasa penasaran, kemauan, dan pengaruh dari saudara lelakinya, Tara pada akhirnya memberanikan diri menempuh pendidikan formal. Ayahnya tentu saja tidak memandang itu ide yang baik. Tapi, Tara dengan segala daya dan upaya tetap menjalani pilihan tersebut.

Membaca buku yang ditulis oleh Tara dan sempat menjadi New York Times Bestseller tersebut, pembaca akan disuguhkan suasana mendembarkan yang dihadapi Tara. Kesulitan yang ia hadapi, bukan hanya tekanan dan pengaruh orangtua, tetapi juga terkait pelajaran yang selama ini asing dengan dunianya.

Ayahnnya memang ketat dalam menjalankan kepercayaanya. Semua yang menurutnya bersebrangan, dilibasnya tanpa ampun. Bahkan, terkait poster Martin Luther King yang dipajang oleh Tara, juga dicurigai Ayahnya. Bagi Ayahnya, Martin Luther King adalah seorang komunis. Ini secara tidak langsung hendak mengatakan bahwa anaknya kini telah dipengaruhi oleh paham yang keliru, jauh dari ajaran agama mereka.

Tapi toh, pada akhirnya, Tara berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga memeroleh gelar PhD. Tentu dengan segala proses yang tidak mudah. Bahkan, ia harus merelakan hubungan dengan orangtuanya menjadi renggang. Sampai buku ini selesai, saya tidak menemukan momen di mana Tara dan ayahnya kembali akur. Namun, bukankah tidak ada yang kekal di bumi ini? Bisa saja, secara perlahan dan seiring berjalannya waktu, ayahnya bisa berubah pikiran.

Di akhir bukunya, ia menulis proses yang ia jalani seperti ini:

“You could call this selfhood many things. Transformation. Metamorphosis. Falsity. Betrayal. I call it an education.”

Begitulah kisah Tara dalam menghadapi pergulatannya dengan diri sendiri. Lingkungan terdekatnya, memaksanya untuk menjadi seperti yang mereka mau. Tetapi di hati kecilnya, ia mendamba hal yang lain, yang sesuai panggilan hatinya.

Ia mengikuti jalannya. Ia hanya perlu meyakinkan mereka dengan aksi nyata. Mental pejuang tidak berhenti hanya sebatas kata sifat yang ia sandang, tetapi terwujud dan berubah menjadi kata kerja: berjuang. Berjuang untuk jalannya, berjuang untuk meyakinkan bahwa apa yang ia pilih tidak salah.

Kelak, jika keadaan memaksa kita harus sama dan menjadi seperti yang didambakan oleh “komentator hidup,” ingat kisah Tara ini. Baca bukunya bila perlu.