Beberapa bulan lalu, saya sempat mengajar di salah satu yayasan yang membawahi RA, MI, dan MTS yang baru berdiri beberapa tahun. Nah, ketika itu, ada teman saya yang bekerja sebagai staf TU di sana dan memberi tahu bahwa mereka butuh guru pengganti untuk mengajar MI. 

Saya yang kebetulan menganggur langsung mengajukan diri. Dan Alhamdulillah, saya diterima. Jadilah saya menggantikan wali kelas 6 yang kebetulan cuti melahirkan. 

Saya tidak akan cerita sukaduka menjadi guru yang. Jujur saja, karena saat itu banyak dukanya. Murid kelas bawah yang luar biasa bandel dan susah dibilangi, hingga banyak siswa yang menganggap kehadiran saya itu ‘nihil’. Mungkin, karena saya juga ‘cuma’ guru pengganti saja. 

Meskipun demikian, banyak juga dari mereka yang cukup terbuka dan nyaman untuk membicarakan banyak hal dengan saya. Jadi, saat itu di kelas 6, saya bertanya kepada salah satu murid, setelah lulus dari sini, mau nyambung ke mana? Ke MTS di sini? 

Rata-rata dari mereka bilang tidak. “Malas, ah, Mi, nyambung sini lagi. Saya dari TK udah di sini. Bosan.” 

“Terus kalian mau nyambung ke mana? Kalau bisa, ke sekolah agama juga. Biar akhlaknya benar,” kata saya saat itu. 

Mereka langsung sahut-menyahut, “saya mau ke pesantren, Mi. Biar bagus bacaan Qurannya.”

“Kalau saya, Mi, tidak mau di sini. Saya mau nyambung ke MTsN di kota,” kata salah seorang murid. 

Dia memang bukan murid yang paling cerdas, tapi saya bisa melihat bagaimana giatnya dia belajar. 

Sejujurnya, dia nakal dan sering bikin saya naik darah juga. Tapi, ketika bicara soal sekolah, saya rasa dia memiliki minat yang sedikit lebih tinggi daripada teman-temannya. Dia pernah bilang bahwa dia ingin menjadi Profesor. 

“Kalau ke MTsN, mau naik apa kamu ke sana?” 

“Naik angkot, Mi. Pokoknya, saya mau ke sana. Sekolah di sana bagus, kan, Mi? Ummi pernah lihat sekolahnya?” tanyanya antusias. 

Saya tahu Mts yang dimaksud murid saya ini. Stahu saya, sekolah itu memang bagus.

Selayaknya sekolah kota pada umumnya, Mts Negeri itu memang memiliki fasilitas yang jauh lebih lengkap ketimbang sekolah di daerah. Sebagai guru, yang bisa saya lakukan adalah mendukung dan mendoakan supaya dia lulus untuk masuk ke sekolah impiannya. 

Tapi, beberapa hari yang lalu (posisinya saya sudah tidak mengajar lagi), saya mendengar kabar dari anak tetangga bahwa sekolah sekarang mengambil sistem zonasi. Jujur, saya tidak tahu apa itu sistem zonasi. 

Kemudian, anak tetangga ini menjelaskan bahwa yang paling dekat rumahnya dengan sekolah lebih diutamakan untuk masuk. Ini artinya, anak tetangga otomatis masuk ke SMP Negeri di belakang rumah kami. Saya lalu ingat dengan murid yang ingin sekolah di MtsN. Secara zonasi, apakah dia masuk ke dalam zona yang lulus untuk sekolah di MtsN? 

Karena penasaran, jadilah saya googling soal zonasi sekolah tersebut. Jadi, sistem zonasi sekolah adalah sistem di mana siswa yang rumahnya lebih dekat, lebih diutamakan untuk masuk. 

Sistem ini sebenarnya telah diterapkan sejak tahun 2018, hanya saja tahun 2019 lebih diperketat. Jarak rumah juga menjadi salah satu syarat. 

Sebenarnya, tujuan dari sistem ini cukup baik, yakni ingin memetakan dan mempercepat pemerataan layanan dan kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan sistem zonasi, diharapkan penyebaran guru dan murid menjadi merata, dan fasilitas sekolah juga bisa disama-ratakan di seluruh wilayah. 

Kelebihan lain dari sistem ini adalah adanya ‘rasa aman’ bagi orang tua untuk melepas anaknya berangkat sekolah karena jaraknya yang lumayan dekat. Seperti yang kita tahu, kejahatan pada anak sekolah memang banyak terjadi akhir-akhir ini. 

Pertanyaannya adalah sudah siapkah Indonesia dengan sistem itu? Menurut saya belum. Hal pertama yang membuat saya merasa sistem zonasi belum pantas diterapkan di Indonesia adalah karena fasilitas dari sekolah berbeda dengan sekolah lain. 

Oke, pemerintah berharap sistem zonasi ini akan mendobrak paradigma soal sekolah favorit yang berkembang di masyarakat. Tapi, apakah mereka pernah bertanya kenapa ada sekolah favorit yang berkembang di masyarakat?

Sekali lagi, jawabannya sudah jelas, ini karena fasilitas yang dimiliki setiap sekolah itu berbeda. Menurut saya, sebelum mendobrak paradigma tersebut, ada baiknya pemerintah memperbaiki dulu kualitas sekolahnya.

Sebelum membagi siswa berdasarkan zonasi, sebaiknya dilakukan dulu pemerataan terhadap fasilitas sekolah sekaligus kualitas guru yang mengajar. Ini bukan tanpa alasan. 

Di kecamatan tempat saya tinggal, ada 3 SMP Negeri. Fasilitas yang dimiliki berbeda dan sampai sekarang.

Tentu saja yang terbaik adalah SMP Negeri yang pertama. Dua SMP yang lain hanya bisa berusaha mengejar (semoga tahun ini terkejar dengan memiliki fasilitas sebaik SMP pertama). 

Bagaimana dengan siswa yang ingin mendapatkan fasilitas terbaik tapi terhalang zonasi? Ini masalah pertama. 

Selain itu, belum ratanya kuantitas sekolah yang ada di daerah-daerah. Misalnya saja di kecamatan saya (saya ambil contoh yang dekat dan bisa saya amati). Di kecamatan saya, hanya ada 1 SMA Negeri. Sekolah ini harus ‘menampung’ lulusan 3 SMP Negeri dan 4 Mts Swasta. 

Jika diukur berdasarkan jarak, akan sangat tidak adil bagi mereka yang tidak masuk cakupan zonasi. Ditambah lagi, SMA Negeri dari kecamatan sebelah itu jauhnya bukan main. Lalu, teknologi kita belum cukup maju untuk melakukan penjaringan secara daring. 

Seperti kasus yang terjadi di banyak tempat, banyak sekolah yang hanya mengandalkan Google untuk mendeteksi jarak. Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa Internet banyak salahnya kalau berurusan dengan peta. 

Yang terakhir yang bisa saya ingat adalah murid saya tadi. Dia sangat ingin masuk Mts Negeri, tapi zonasinya tidak masuk. Padahal, di daerah rumahnya tidak ada lagi Mts Negeri, yang swasta banyak. Tapi, ya, seperti itu. Belum lagi lulusan SMP/Sederajat yang ingin masuk SMK Negeri padahal di kecamatan kami hanya ada 1 SMK, itu pun swasta. 

Bagaimana pemerintah menyikapi usaha pemerataan yang ternyata tidak rata ini? 

Meskipun sekali lagi, sistem ini bagus. Karena tidak perlu jauh-jauh mencari sekolah. Tapi kembali lagi, menurut saya, daripada memberlakukan sistem zonasi untuk mendobrak dogma sekolah favorit, bukankah lebih baik semua sekolah dijadikan favorit? 

Jika zonasi dimaksudkan agar pemerataan fasilitas bisa lebih baik, maka kasihan murid zonasi di tahun-tahun awal. Karena pada tahun-tahun itu, mereka tidak bisa menikmati fasilitas sekolah yang selengkap sekolah sebelah.