Kok masih ada PNS yang nyambi sih? Apa gaji PNS masih kurang untuk memenuhi kebutuhan bulanan? Pertanyaan-pertanyaan ini wajar sih dilontarkan. Apalagi kalau melihat PNS dengan dandanan parlente, tunjangan juga besar eh masih punya penghasilan sampingan.

Kondisi seperti ini membuat iri para pekerja sektor swasta hingga sektor nonformal. Yha wajar aja sih mereka iri, PNS itu sudah dapat gaji bulanan yang pasti, kenaikan gaji secara berkala plus dana pensiun di hari tua kok masih mengambil lahan rejeki orang lain.

Di saat para pekerja nonformal harus dihadapkan pada kemungkinan paceklik, terlilit kredit yang sulit dibayar, PNS yang cari sampingan ini, jika mengalami kegagalan berbisnis sekali pun, cadangan penghasilan atau ketergantungan untuk dapat kredit di bank pun masih dapat diandalkan.

Tapi boleh kah sesungguhnya PNS itu punya sampingan penghasilan? Dalam aturan berupa kewajiban dan larangan bagi PNS sesuai PP 94 tahun 2021 yang belum lama dikeluarkan, tidak menyebutkan bahwa PNS dilarang untuk punya bisnis atau pun usaha di bidang lain. Ya selama PNS itu bisa profesional, kalau dia mau berdagang atau punya bisnis ya sah-sah saja sih. Nah, gimana? Masih irikah?

Namun, sesungguhnya ada beberapa alasan mendasar bagi PNS untuk memiliki penghasilan sampingan.

Alasan pertama, karena terdesak oleh kebutuhan. Terdesak? Bukannya gaji PNS ditambah tunjangan-tunjangan itu sudah cukup, bahkan lebih dari cukup? Tunggu dulu. Gaji PNS ditambah tunjangan-tunjangan lainnya memang sudah bisa dibilang mencukupi. Tapi iya sih kalau PNS itu tidak memiliki tanggungan lainnya.

PNS memang memiliki fasilitas mudah untuk memperoleh kredit bank. Istilahnya itu ialah ‘menyekolahkan SK. Dengan jaminan SK, seorang PNS bisa mengambil kredit untuk konsumsi pribadi hingga seratus juta ke atas. Tentu saja cicilan diambil dari gaji tiap bulannya.

Nah, dengan fasilitas kemudahan ini banyak PNS yang mengambil kesempatan untuk mengambil pinjaman ini. Tentu saja dengan dorongan kebutuhan beraneka ragam. Namun, kemudahan ini tidak berarti si PNS juga memiliki keistimewaan untuk tiba-tiba punya harta melimpah dari kredit bank. Sebagian PNS menggunakan uang pinjaman bank benar-benar untuk memenuhi kebutuhan dan itu berdampak pada pemotongan gaji. Saat gaji dipotong tiap bulannya untuk kurun waktu tahunan, saat itu seorang PNS harus benar-benar berhemat.

Rekan saya yang seorang PNS bahkan nyambi jadi supir taksi grab di saat sore dan malam hanya untuk memenuhi kebutuhan. Gajinya sudah dipotong untuk meminjam sejumlah uang demi merenovasi rumah orang tuanya. Maka, gaji yang diterima olehnya bahkan di bawah UMR Jogjakarta. Dengan seorang istri yang ibu rumah tangga begitu juga dua orang anak, mau tak mau ia harus mencari sampingan untuk mencari tambahan penghasilan.

Tentu saja kondisi masing-masing PNS beragam. Namun, percayalah, PNS yang hidup dengan jumlah tanggungan keluarga di luar keluarga intinya itu juga banyak. Apalagi kalau sudah dapat embel-embel PNS, tak sedikit kemudian anggota keluarga lain bahkan teman yang mencoba minta utangan, bantuan keuangan sampai minta traktir. Lha dikira gaji PNS sama dengan gaji pegawai BUMN apa?

Alasan kedua, menyalurkan hobi. Di luar keterdesakan kebutuhan, ada sebagian PNS yang mencari sampingan dengan menyalurkan hobi yang menghasilkan secara ekonomi.

Di luar aktivitas kedinasan, seorang PNS boleh lah menyalurkan kebutuhan eksistensialnya dalam bentuk penyaluran hobi. Hobi ini bisa saja tidak terkait sama sekali dengan kompetensi pekerjaan yang dilakukan oleh PNS itu.

Seorang rekan saya yang PNS guru bahasa Inggris, memiliki usaha sampingan yaitu Wedding organizer yang cukup sukses di sini. Kegemarannya dalam bereksperimen di dunia make up mendorongnya untuk mendirikan sebuah salon kecantikan untuk pernikahan. Tak disangka responsnya bagus dan usahanya semakin berkembang menjadi wedding organizer dengan puluhan karyawan yang ia pekerjakan.

Kalau dipikir-pikir, dunia make up, kecantikan hingga mengurus pernak-pernik pernikahan itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan kompetensi berbahasa Inggris atau mengajar bahasa Inggris yang merupakan tugas utamanya. Lha tapi itu hobinya yang ingin ia salurkan. Lha kalau ada yang tanya, kok nggak bikin kursusan bahasa Inggris saja? Ya suka-suka lah. Hobi kan bisa di luar kompetensi kita di dunia kerja.

Ada lagi rekan saya yang PNS guru Agama tapi memiliki bisnis berupa agen perjalanan. Hobinya yang suka jalan-jalan membuat ia terdorong untuk mendirikan usaha agen perjalanan. Tentu saja usahanya di dunia agen perjalanan ini tidak akan luput dari pertanyaan, kok guru agama nggak bikin pondok saja? Yah silakanlah menjawabnya suka-suka kalau ini ya.

Alasan ketiga, ingin menjadi kaya raya. Apakah menjadi PNS itu tidak bisa kaya? Oh tentu saja bicara masalah kaya raya ini berarti bicara masalah hitung-hitungan finansial. Kalau ‘kaya’ itu ukurannya bisa subyektif, tapi ‘kaya raya’ itu sudah beda.

Nah jadi, untuk menjadi kaya dengan ‘hanya’ mengandalkan gaji PNS, itu berarti harus dengan  cara rutin menabung. Gaji yang diterima satu kali sebulan di awal bulan ini harus dikalkulasi perhitungannya tiap bulan agar bisa menabung. Dan dari menabung ini, dengan istilah sedikit demi sedikit lalu menjadi bukit, maka si PNS ini bisa saja sih mendapat kelebihan uang.

Bisa dibayangkan si PNS ini harus menunggu dalam kurun waktu yang cukup lama untuk memetik hasil dari ‘menabung’nya. Itu saja belum mampu mencapai kriteria kaya raya.

Sebagian PNS berpikir bahwa untuk menjadi kaya raya atau mendapat sumber kekayaan lebih bahkan melimpah, maka ia harus memiliki sampingan. Rekan saya yang lain, yang sudah cukup senior dengan pangkat VI B, memiliki bisnis mebel, kontrakan hingga saat ini memiliki dealer mobil.

Tidak main-main, ia merintisnya semenjak masih muda saat awal ia diangkat menjadi PNS. Saat ini ia pun memiliki sejumlah properti hingga ruko yang disewakan. Bolehlah saya berdecak kagum. Dan ia pun mengakui semua bisnis yang ia jalani ini atas keinginan untuk kaya raya.

Tentu saja dorongan lain yaitu anggapan gaji PNS yang kecil di masa lalu  membuatnya semakin ingin kaya raya. Lagi pula menjadi kaya adalah hak semua warga negara ya kan? Yang penting kekayaan PNS itu tidak dari hasil korupsi atau mendulang pungutan liar dari jalur birokrasi.