Ketika saya sedang mencari referensi untuk skripsi di Google, tiba-tiba terlintas sebuah skripsi yang menganalisis novel berjudul Biola Tak Berdawai karya sastrawan pujaan saya, Seno Gumira Ajidarma, yang diadaptasi dari film dengan judul yang sama.

Seno Gumira, seorang sastrawan yang memopulerkan "senja" ketika kata itu masih terdengar suci dan perawan, sebelum dijarah maknanya oleh para kaum indie yang, kabarnya, dicap sebagai pelopor kata tersebut. Entahlah, lagi pula saya tidak hendak membicarakan siapa yang lebih dulu memelopori kata itu.

Novel tersebut mengisahkan seorang anak tunadaksa bernama Dewa. Walaupun dengan kondisi seperti itu, Ibu Renjani tetap memiliki kasih sayang yang hebat dalam mengasuh Dewa. Padahal diceritakan novel tersebut, biasanya ketika ada seorang anak tunadaksa yang lahir akan langsung dibuang oleh orang tuanya ke panti asuhan karena anak tersebut dianggap sebagai kutukan. 

Namun kekejian itu tidak berlaku pada diri Renjani, ibu Dewa. Di dalam cerita tersebut, banyak sekali nilai moral yang dapat diambil dan diaplikasikan dalam cara kita memandang hidup.

Pada waktu yang sama, saya jadi berpikir, mungkinkah seorang berkebutuhan khusus didudukkan sebagai subjek dalam sastra dan tidak hanya sebagai objek kajian sastra? Dapatkah orang-orang seperti dewa, setidaknya, menikmati produk-produk literasi seperti fiksi dan non-fiksi?

Jika demikian, sudah tepatkah kampanye literasi yang sedang berjalan? Atau justru secara tidak sadar, kampanye literasi kita "memarjinalkan" kelompok ini? Dan beragam pertanyaan yang muncul dalam benak saya pasca melihat skripsi tersebut.

***

Begini, sering kali saya mendengar kata "melek" dalam setiap kampanye yang berhubungan dengan literasi. Dari sana muncul kesan bahwa literasi hanya dapat dinikmati dengan membaca, suatu tindakan yang mensyaratkan kemampuan untuk melihat. 

Entah apakah tafsir saya akan makna kata "melek" ini dikatakan sembrono atau tidak, namun dari sini saya berpendapat jika, umumnya, kampanye literasi kita "intoleran", yang mana untuk hal ini terjadi kepada sahabat-sahabat kita, salah satunya penyandang tunanetra.

Tuduhan "intoleran" ini bukan tanpa sebab. Selain karena penggunaan kata yang justru mendiskreditkan kelompok tertentu, produk yang dihasilkan oleh kampanye literasi bertajuk "melek" ini berbentuk komponen yang hanya dapat dibaca, yakni buku cetak atau e-book. 

Apakah kampanye ini demi kemajuan literasi nasional atau hanya kepentingan pemasaran segelintir penerbit, saya pribadi tidak berani mengambil kesimpulan sampai ke sana. Namun, sampai saat ini (atau memang saya yang belum menemukan), saya belum mendapatkan penerbit yang memproduksi audio book sebagai pelengkap dari buku yang mereka produksi. Terutama yang berbentuk novel-novel terkenal.

Namun, ada beberapa komunitas yang berikhtiar agar sahabat-sahabat kita penyandang tunanetra ini mendapatkan kesempatan untuk, minimal, menikmati karya sastra secara utuh. Salah satu dari komunitas tersebut adalah Difalitera, yang mempunyai misi untuk menghadirkan sastra bagi para penyandang tunanetra. 

Dan juga pada lain kesempatan, saya menemukan novel One Hundred Year of Solitude dalam bentuk audio book di YouTube pada channel bernama horror stories, yang juga menyajikan beberapa novel internasional namun sayangnya berbahasa Inggris, walaupun tetap bisa dinikmati.

Suatu ketika, saya berkonsultasi dengan beberapa teman tentang rencana mengalihwahanakan beberapa novel menjadi bentuk audio. Namun, teman saya tadi menyarankan agar saya menahan niatan tersebut sambil mengkaji ulang hal itu. 

Karena beberapa hal yang memang belum saya ketahui, salah satunya, apakah pengalihwahanaan tersebut melanggar regulasi hukum tentang hak cipta. Karena, lazim diketahui, dalam hukum kita, tertulis bahwa usaha untuk memperbanyak sebuah buku dalam bentuk apa pun tanpa izin penerbit merupakan sebuah tindakan melanggar hukum.

Maka dari itu, alangkah baiknya, terdapat beberapa penerbit yang terjun pada ikhtiar tersebut. Semata-mata demi merealisasikan kampanye literasi yang menyeluruh dan menyentuh untuk setiap kalangan, salah satunya sahabat-sahabat kita penyandang tunanetra. 

Atau setidaknya, berkerja sama dengan komunitas-komunitas difabel seperti difalitera, akartuli dan komunitas difabel lain serta pusat studi disabilitas di beberapa lembaga dalam proses kampanye literasi ini.

Toh, hal demikian tentu dapat menjadi pembuka lebih banyak jalan bagi para penyandang disabilitas untuk menunjukkan tajinya, terutama di bidang literasi. Dan juga, dari ikhtiar tersebut akan dapat pula memperkaya khazanah sastra kita. Bukan tidak mungkin dari sana akan muncul sastrawan-sastrawan baru yang moncer lagi bersinar.

Terkadang, kita sendiri terkesan abai terhadap sahabat-sahabat kita yang menyandang disabilitas. Kesempatan mereka seakan tidak "setara" dengan kesempatan yang kita miliki, terutama apa yang menjadi concern tulisan ini, akses "bacaan" serta media ekspresi yang tidak mudah untuk diakses oleh sahabat-sahabat penyandang disabilitas.

Bagi saya, toleransi, keadilan serta kesetaraan tidak cukup hanya berhenti pada warna kulit, ras, gender serta agama. Ia sejatinya melampaui sekat-sekat perbedaan dalam kehidupan. Ketika sekat-sekat tadi telah runtuh, saat itulah keadilan dan kesetaraan telah menyebar secara menyeluruh.