48214_73619.jpg
Gaya Hidup · 3 menit baca

Sudah, Jangan Susah-Susah

Kena juga lirik lagu dari Nike Ardilah. Liriknya cukup filosofis dengan kalimat pertanyaan, misal, "Mengapa kita bersandiwara?" Jreng, jreng, jreng. Ulangi satu kali lagi, "Mengapa kita bersandiwara?"

Tidak tahu kenapa lirik lagunya Mbak Nike sering muter-muter di kepala. Entah ada bisikan dari siapa. Mungkin yang jelas karena pernah atau sering saja mendengarkan lagu tersebut. Jadi, sering muncul dalam situasi dan kondisi apa pun.

Tapi, ada kaitannya dengan kehidupan juga. Kenapa bisa? Lihat saja di sekeliling kita. Masih dan banyak sekali orang menjalani kehidupan penuh dengan settingan, tanpa disadari hukum atau peraturan hidup di era sekarang banyak sekali macamnya. Tidak hanya itu, bahkan yang lebih mengakar ke dalam tentang bagaimana mendefinisikan bahagia, sukses, dan hidup sejahtera.

Bahagia era sekarang mungkin akan sarat dengan kacamata ekonomis, sehingga kekuatan finansial akan sangat berpeluang menyetting kebahagiaan hidup seseorang. Kalau sudah seperti ini, apa namanya kalau bukan settingan alias bersandiwara seperti apa yang dilantunkan Mbak Nike Ardilah?

Tidak hanya soal kebahagiaan, soal karya pun kurang lebih seperti itu.

Mungkin yang tertancap di hati nurani orang yang sudah memiliki karya akan sangat berat jika hasil karya hanya mendapatkan tawar-menawar harga. Bukan soal tidak butuh akan finansial, tapi akan sangat rendah jika perspektif karya yang sudah dibuat ukurannya melulu soal uang.

Agaknya hidup semakin penuh settingan. Dan yang menyetting semua ini finansial, mulai dari tata cara bagaimana kita hidup sampai dengan bagaimana kita bersosial.

Ada yang menarik dari buku (Dilema Psikologi Muslim) yang menuturkan seperti ini, "Tiadanya ketenangan, keberatan hidup, perhatian terhadap kemanusiaan, dan tujuan hidup yang bersifat spiritual terus-menerus menggelisahkan hidup manusia modern. Meskipun terdapat kemajuan teknologi dan pengetahuan yang pesat, namun jawaban terhadap pertanyaan akan eksistensi manusia masih saja belum terpenuhi."

Dari keterangan tersebut, ada yang menganjal, karena ternyata tidak semua akan kemajuan dan kenikmatan hidup jaman now membawa ketenangan dan kebahagiaan. Belum lagi ditambahkan pernyataan, "Pada masa-masa sebelumnya, manusia mengalami kegelisahannya dengan diam-diam. Namun sekarang di balik kehidupan yang penuh kesejahteraan, manusia merintih," tandasnya.

Dikuatkan lagi dengan pernyataan, "Dalam saat-saat sepi ketika manusia hanya berada dengan dirinya sendiri, apa yang akan dilakukannya kalau tidak merasa kegelisahannya? Manusia telah menghancurkan kemanusiaannya sendiri. Kemanusiaan yang diciptakan untuk merasakan kedamaian dalam penyerahan dirinya kepada Allah." Intinya kurang lebih apa yang dijelaskan di buku tersebut soal ketimpangan akan spiritualitas yang dimiliki manusia jaman now, kenapa sampai dengan banyak yang gelisah serta tidak bahagia dengan sejatinya.

Tidak jauh dari isi buku tersebut yang selalu mempertanyakan soal tujuan hidup masyarakat yang kurang tepat, dalam keadaan seperti ini siapa yang dapat mengobati. Untuk soal resep obat, coba pakai anjuran Opick pendakwah sekaligus penyanyi "tombo ati, iku ono limo perkorone". Kalau sudah agak mendingan jangan lupa rekomendasikan ke yang lain, barangkali banyak yang membutuhkan. Apalagi kewarasan yang semakin menghilang dari permukaan kemanusiaan.

Tapi ini tidak akan berarti jika kacamata kita masih bermerek Sigmund Freud tentang terori psikoanalisisnya. Seperti yang ditulis Henri El-lenburger, "Meskipun Freud menghina filsafat, namun secara jelas ia menyatakan ide-ide filsafatnya yang mempunyai kaitan dengan ideologi yang materialistis dan ateis. Dan filsafatnya ini adalah sebuah bentuk ekstrem dari positivisme, paham yang dianggap membahayakan agama dan menganut metafisika yang berlebih. 

Freud mendefinisikan agama sebuah ilusi, suatu bentuk neurosis yang universal. Semacam obat bius yang menghambat seseorang untuk bisa secara bebas menggunakan kecerdasannya, dan sesuatu yang harus dibuang oleh manusia."

Belum lagi pandangannya tentang fenomena keagamaan yang hanya diperlukan oleh individu yang mengalami gangguan neurotik sebagai suatu hasil kejadian-kejadian masa lalu tentang sejarah manusia yang telah dilupakan. Karena jelas bagi Freud, konsep tentang Tuhan adalah sebuah delusi hasil ciptaan manusia.

Tenang, kegelisahan yang semakin dirasakan oleh manusia jaman now, apakah sudah termasuk dalam kacamata Freud? Kalau toh memang sudah, coba benahi ulang. Karena tema yang sedang dibahas soal lirik lagunya Mbak Nike Ardilah soal panggung sandiwara, apa iya? 

Kita masih bertahan dengan kacamata materialis. Sedangkan untuk sekadar kita bahagia masih saja sulit dirasa, kenapa karena cara pandangnya. Bukan soal karena hidupnya, orang kita hidup ya hidup saja, mau kita jungkir balik atau mau kita pus up hidup ya tetap hidup seperti ini adanya.

Tapi jika semua yang kita penuh dengan settingan yang tidak kita ketahui apa iya kita benar-benar hidup.