Pancor, secara geografis, adalah sebuah daerah kecil yang terletak di kota Selong, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Dan kemungkinan besar, teritori ini tidak akan nampak jelas jika diamati dari peta dunia. 

Terlebih akan sulit untuk dicari via Joox, Spotify, Deezer, Jango Radio, Langit Music dan beberapa aplikasi online lainnya. Cukup buka Google Map saja.

Pancor adalah daerah istimewa yang menjadi kiblat berbaurnya para santri yang tiap hari berbusana rapi, menyandang kitab suci, hilir-mudik silih berganti, pulang pergi mengaji. Banyak ulama masyhur terlahir dari rahim kota ini. 

Pun dari rahim yang sama terlahir pula salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang cabangnya sudah beranak pinak ke banyak pelosok di dunia.

Aku adalah satu dari ribuan saksi yang sempat menyaksikan betapa kota ini selalu hidup dari generasi ke generasi. Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah menggariskan takdirku untuk pernah singgah di kota ini. Juga untuk hatiku yang telah bermukim di dalamnya. 

Separuh usiaku menua di sini. Sungguh kota yang melimpah berkah lagi sarat ilmu.

Kota ini telah setia menjadi teman bisu dalam menumbuh kembangkan ilmu, pikiran dan perasaan – bertahun lamanya. 

Dari yang dulunya hanya sebagai pasukan berjubah dengan peci lusuh dan kitab kuning yang kertasnya dipenuhi tai lalat, hingga menjelma menjadi garda nekad yang penanya telah melangkah jauh hingga ke negeri sang paulus.

Dari kota ini pula aku pertama kali belajar membuka hati. Menemukan rasa nyaman yang tidak hanya terbatas pada kata tempat, tetapi juga hati. 

Sebuah mahakarya yang dilahirkan Tuhan berupa gadis cantik dengan senyum yang melengkung begitu sabit. Dari sebatas mengagumi senyumnya, hingga sekujur sosoknya yang membekas abadi di kepala.

Aku telah begitu jauh menyusuri dunia baru bersama cita-cita luhur yang kupenakan bertahun lamanya. Tetap saja kumuhnya gang-gang sempit, nyanyian sholawat yang menggema setiap pagi, serta senyumnya yang begitu rimbun adalah kemana rinduku bermuara. 

Sejauh apapun langkahku menyusuri mimpi, di tempat inilah hatiku akan kembali.

Tiga tahun masa belajarku dipenuhi beraneka ragam  rasa. Ingatanku yang bersemayam pada sosoknya, rinduku yang bermukim pada segala apa yang meliputinya, serta segelintir orang yang menjadi medan terjal untuk mendekatinya adalah sejumlah kehendak yang harus kutebas. 

Hingga hari kelulusanku tiba, aku terlalu ciut meneriakkan rasa yang telah mengakar dari tahun ke tahun.

Aku rindu suasana kota yang kumuh dengan alunan nasyid-nasyidnya yang begitu riuh. Dengan beragam latar belakang yang bercampur baur menjadi satu. 

Pada sebuah jalan setapak yang setiap kulewati, suaramu seolah menyeruak memanggilku. Pada tembok kelas usang yang menjadi museum tempat mengabadikan namamu.

Aku mengenang saat kita harus terpaksa berpapasan di lorong kelas itu. Saat kita mulai melayangkan tatap di antara sekat yang membentang. Saat kutitipkan salam lewat sahabat karibmu. Saat aku meminjamimu buku kesukaanku. 

Ingat saat kudapati dirimu tersenyum lalu seketika memunggungiku di antara jendela kelas itu? Aku tak pernah merasa sehebat itu.

Pancor hanyalah sebuah tempat pengasingan, namun dipenuhi berjuta perasaan. Kisah kasih di madrasah yang menjelma sejarah. Suka duka berasrama yang menuai asmara. Sepetak kos-kosan sebagai majlis untuk melangsungkan pertemuan. 

Dari sini, aku tak akan kehabisan kata cinta untuk menggambarkan segala keapa-adaannya.

Lalu, bagaimana dengan rindu yang telah aku wakafkan di sana? 

Masihkah kamu sering mengunjunginya di waktu luangmu? Atau kamu malah menyimpannya di dalam saku kemejamu yang selanjutnya kamu bawa pulang? Atau di antara lipatan kertas yang kamu baca di setiap pagimu? Atau mungkin di balik pesan singkat yang selalu kamu abaikan? Ah, sudahlah!

Kini, aku telah berjarak begitu jauh dari keramaian kota. Baru sebentar rasanya rindu yang begitu purba ini terpasung. Jika diingat-ingat, kita telah lama terjeda jarak tanpa hubung. Bagaimana kabarmu sekarang? 

Dengar-dengar, ada lelaki yang berkunjung ke rumahmu tempo hari itu. Semoga orantuamu tak lekas mengiyakan lamaran itu.

Untuk Pancor, terimakasih untuk tahun-tahun yang sangat bermemori. Terimakasih untuk cerita bahagianya, keluh kesahnya, kecewanya, sedihnya. 

Jika pada akhirnya aku gagal berpulang kepangkuannya, biarkan aku kembali ke sudut-sudut kotamu lalu meruangkan nasibku di sana. Di dalamnya akan kutidurkan segala resah. Di sana pula kusemayamkan rasa yang telah wafat.

Untuk Pancor, kutitipkan rindu untuk kabar yang sempat menghilang semenjak enam tahun yang lalu. Untuk seseorang yang senyumnya tertinggal di samping kelasku. 

Maaf, belum sempat kukembalikan. 

Kupastikan untuk kembali menaruhnya di tempat semula. Izinkan tanahmu yang lapang menjadi tempat untukku berpulang. Aku akan tetap apa adanya.

Pada akhirnya, Pancor bukan hanya masalah geografis. Lebih jauh dari itu, ia melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi, yang bersamaku ketika rindu. 

Mungkin saja ada tempat lain yang lebih masyhur  untukku menuju. Akan tetapi, perasaanku sepenuhnya kusemayamkan di sana. Tunggu beberapa bulan lagi. Nanti aku akan kembali. Tenang saja.