Mahasiswa
1 minggu lalu · 199 view · 4 min baca menit baca · Gaya Hidup 21597_26575.jpg
Instagram/glennharveyart

Sudah Dapat Apa dari Menulis?

Saya sering mendapat pertanyaan ketika saya sedang asyik dengan laptop dan tulisan yang saya buat. Ada teman saya yang tiba-tiba menyapa saya dan bertanya. “Itu kamu nulis-nulis gitu sudah dapat apa emang?” 

Tentu saja saya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Itu bukanlah pertanyaan kejutan yang baru saya dengar pertama kali. Saya selalu mendengar pertanyaan tersebut dalam setiap pembicaraan bersama teman saya yang penasaran seberapa menguntungkannya aktivitas menulis yang saya lakukan.

Saya pada akhirnya berpikir bagaimana harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jujur, saya sebenarnya bukanlah penulis seperti yang kalian pikirkan. Penulis yang menelurkan novel dan ada bentuk nyatanya. Tulisan-tulisan saya hanya terpampang di website-website online yang tentu keberadaannya hanya bisa ditemukan ketika kalian memanfaatkan teknologi yang bernama Internet.

Lantas, ketika saya ditanya apa saja yang sudah saya dapat dari aktivitas yang saya lakukan tersebut, saya selalu bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bagi saya, pertanyaan soal keuntungan menulis memiliki banyak makna. Seolah-olah segala sesuatu yang dilakukan manusia harus didasarkan keuntungan dan materi . 

Saya sempat kesal ketika mendapat pertanyaan yang terkesan meremehkan semacam, “nulis-nulis gitu, ujungnya bikin hoaks, kan? Bikin hoaks dapat untung pasti. Iya gak sih?” Saya muak dengan pertanyaan-pertanyaan yang goblok seperti itu. “Menulis adalah sebuah keberanian” adalah salah satu quote Pram yang saya pegang filosofinya sampai sekarang.

Saya sering bingung dengan orang-orang yang mempertanyakan aktivitas menulis dan menganggap remeh aktivitas tersebut. Seolah-olah menulis adalah kegiatan yang tidak penting.

Seiring waktu, sebagai penulis yang tulisannya hanya bisa dibaca di portal-portal berita online, saya makin sadar bahwa pertanyaan teman-teman saya yang berkaitan dengan aktivitas menulis yang saya lakukan harus saya jawab dengan diplomatis. 


Semua orang harus tahu, menulis tidak hanya soal dapat duit, buku terbit, dan dikenal banyak orang. Bagi saya pribadi, menulis adalah salah satu metode menyalurkan badai yang ada di dalam pikiran saya; bagaimana pandangan saya, pola pikir saya, dan kritik apa yang ingin saya sampaikan. Lewat sebuah tulisan, saya bisa menyelipkan hal-hal yang menurut saya bisa membuat merasa tenang dan damai.  

Bagi saya, menulis yang saya lakukan saat ini bukanlah sebuah aktivitas yang didasarkan pada kepuasan materi dan popularitas. Lebih dari semua itu, menulis adalah self-healing yang paling murah. Kita tidak bisa terus-terusan memberlakukan sistem komersialisasi dalam berbagai sisi kehidupan. Buka kembali pikiran kalian sebelum bertanya soal keuntungan menulis. 

Sebelumnya, ajaklah berdiskusi orang yang ingin kalian tanyai pertanyaan apa keuntungan menulis. Dan saya yakin, jawabannya sangat beragam. Semua tidak tentang uang, uang, dan uang.

Tingkat penasaran seseorang memang hal yang wajar. Apalagi jika ada seseorang di sebuah lingkungan yang melakukan aktivitas unik dan menarik. 

Untuk soal unik dan menarik, saya tidak masalah. Namun soal penasaran, cobalah menjadi seseorang dengan rasa penasaran yang bijak. Bertanya boleh saja, tapi jangan dibumbui dengan pandangan meremehkan soal aktivitas menulis.

Untuk orang-orang yang memiliki pengalaman yang sama dengan saya, jangan terpancing dan lantas marah saat ditanya sudah dapat apa saja dari aktivitas menulis. Saya yakin kalian dan saya menulis pada awalnya ditujukan untuk satu hal, menyuarakan suara hati yang sering tidak pernah tersampaikan. 

Tentu kebanyakan orang bingung mau menyalurkan ke mana suara-suara hatinya. Bagi mereka yang paham akan dirinya dan hatinya, kegiatan menulis adalah perilaku positif penyalur berahi pikiran dan hati agar tersalurkan.

Namun, jika kalian pada akhirnya muak dan memang benar-benar mau menjawab mereka yang bertanya, “sudah dapat apa dari menulis?”, maka ikuti langkah-langkah berikut:

Pertama, kalian bisa menjawab dengan diplomatis bahwa menulis itu adalah fitrah manusia. Diawali dari perintah bacalah, menulis adalah poin lanjutan dari seruan bacalah. 

Ini bukan jawaban bercanda. Jawaban ini akan menjawab pertanyaan soal dapat apa dari menulis itu. Walaupun kalian tidak pernah dapat apa-apa dari menulis, intinya kalian punya alasan yang kuat untuk apa kalian menulis.


Kedua, jawab saja dengan jujur. Jelaskan jika kalian memang mendapatkan keuntungan dari menulis, Dan jika tidak, jelaskan juga kalau kalian tidak mendapatkan apa pun dari menulis. Saya yakin, orang-orang yang menulis selalu punya filosofi dari setiap aktivitas menulis yang dilakukannya.

Ketiga, jelaskan bahwa kalian saat ini sedang melakukan perjuangan. Sebuah perjuangan suci yang sedikit orang yang bisa meraih kemenangan dalam aktivitas yang kalian lakukan saat ini. 

Sebut saja kalian sedang berusaha menembus pertahanan tanggguh beberapa website menulis yang sangat sulit ditembus. Saya yakin semua orang akan paham bahwa perjuanganmu sangat sulit dan suci. Mereka akan mengapresiasimu dan menyemangatimu untuk lebih semangat. Karena semua orang tahu, menulis itu susah sekali, mas bro.

Kita harus realistis terhadap kenyataan. Jawab saja dengan jujur dan berdasarkan hati. Tidak ada gunanya melebih-lebihkan apa yang kalian dapat dari sebuah aktivitas menulis.

Pada akhirnya semua orang harus benar-benar paham, menulis bukan melulu aktivitas komersial yang menghasilkan fulus. Tidak semua orang yang menulis berorientasi jadi kaya. Ada mereka yang menulis karena patah hati, ada mereka yang menulis karena jatuh cinta, dan ada mereka yang menulis hanya untuk menyindir tetangganya. 

Komersialisasi aktivitas menulis hanya akan menghilangkan ruh dari arti menulis itu sendiri. Tujuan-tujuan yang tidak bisa dicerna hanya dengan sekali baca dan sekali lihat adalah misteri tersendiri dari kegiatan menulis.

Dan pertanyaan “sudah dapat apa dari menulis?” sebaiknya direvisi menjadi “pengalaman apa yang sudah didapat dari menulis?” Bijak, bukan?

Artikel Terkait