3 tahun lalu · 327 view · 6 min baca · Media stock-illustration-90388733-free-brain.jpg
istockimg.com

Sudah Cukup Internet

Di suatu pagi saat tengah berselancar di dunia maya tentang fenomena Brexit, ibu saya memanggil dari luar rumah. Ia ingin dicarikan info di internet cara merawat pohon kurma. Soalnya biji kurma yang jatuh di halaman depan berhasil tumbuh kuncupnya kurang lebih 45 cm. Ibu kepalang gembira dan menganggap ini mukjizat dari Tuhan.

Dengan sedikit malas, saya membuka laman baru di browser gawai. Saya tuliskan kata kunci “Cara merawat pohon kurma”. Ternyata ada banyak yang menuliskan pengalamannya soal menanam kurma di Indonesia. Saya pun menjadi antusias membaca artikel tersebut dan meninggalkan bacaan seru soal Brexit tadi. Sementara ibu tengah menunggu penjelasan dari saya yang sedang membaca artikel di internet.

Ibu saya berasal dari generasi bermedia yang masih menggunakan jaringan kabel seperti telegram atau telepon. Kalau menurut Don Tapscott dalam Grown Up Digital (1998), ibu saya ialah generasi Baby Boomer. Permediaannya masih sangat konvensional. Beliau sendiri tidak pula tertarik untuk menggunakan media baru atau belajar memakainya. Tidak seperti si generasi Alpha sekarang yang sudah fasih menikmati media interaktif global bernama internet.

Ibu saya sendiri mengetahui kemampuan internet dari perbincangan tetangga dan televisi yang mulai sering mengiklankan start up company berbasisnya online shop. Ditambah lagi anaknya, saya, sering pamer betapa mudahnya mendapatkan ilmu dari sini (internet). Bahkan orang bisa belajar tanpa harus pergi bersekolah sesumbar saya.

Saya beruntung lahir di masa dimana internet tengah bertumbuh pesat. Kurikulum semasa sekolah mendukung kami untuk terampil menggunakan jaringan komputer global itu. Kecepatan mengakses data pun semakin baik. Salah seorang dosen saya pernah bercerita pengalamannya menggunakan internet pertama kali.

Pada tahun 1990an saat masih berstatus mahasiswi di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM ia menjadi pelanggan di warung internet pertama di area kampus. Saat itu bisnis warung internet (warnet) baru buka di kota-kota besar dan belum sepopuler tahun 2000an. Warnet yang tergolong eksklusif itu menjadi tempat begadang baginya hanya untuk sekadar mengunduh mp3 yang hanya berkapasitas beberapa mega saja dengan kecepatan unduh maksimal hanya 10kbps.

Sekarang kecepatan mengakses data sudah jauh lebih lumayan. Meskipun, bandwith kita kalah besar dengan negara lainnya. Bahkan untuk ukuran ASEAN kecepatan akses saat ini tidak sampai peringkat lima besar. Kecepatan akses di Indonesia sendiri masih timpang antara pusat dengan daerah. Kawasan seperti Papua dan Maluku ternyata hanya bisa menikmati kecepatan unduh antara 200 hingga 300 Kbps saja.

Terlepas dari soal ketimpangan, internet bagi saya tidak hanya memberikan informasi. Saya bisa memesan apa saja di internet. Saya tidak perlu mengeluarkan uang bensin, menghidupkan sepeda motor, berkendara di panas terik jalan raya, memarkir motor dan membayar uang parkir, memilih dan menyibukkan diri berkeliling mal atau pusat perbelanjaan untuk hanya berbelanja sepatu mana yang pas untuk digunakan saat lebaran. Banyak online shop yang tersedia. Hanya dengan satu klik saja maka segala kegiatan mulai dari belanja, membayar tagihan listrik, air, telepon atau bahkan transaksi bank semuanya bisa lewat internet.

Semasa kuliah, internet membantu saya dalam menyelesaikan persoalan referensi terkait tugas kuliah. Dulu, paman saya yang berkuliah di Jurusan Teknik Sipil tahu benar arti penting perpustakaan. Tempat itu menjadi satu-satunya sarana untuk menemukan referensi akademis berupa teori atau konsep dari buku-buku babon.

Kita harus Menemukan bentuk fisik buku atau jurnal. Memeriksa daftar buku dari identitas namanya untuk mendapatkan kode penyimpanan. Menghadapi dinding rak-rak yang tinggi. Menyisir kode buku satu per satu guna menemukan satu buku dari ribuan kertas berbundel lainnya.

Saat menemukannya, maka kita akan membaca buku tersebut halaman per halaman. Menyalinnya bila perlu. Sementara itu jika waktu tidak mencukupi untuk membacanya di dalam perpustakaan, maka kita akan meminjamnya dan membawa pulang dengan tambahan beban di dalam tas. Itu pun jika buku atau jurnal yang kita inginkan tersedia dan belum sedang dipinjam. Kalau tidak, alamat kelimpunganlah kita mencari referensi yang diharapkan mampu menjadi acuan tugas bagi dosen untuk pertemuan kelas berikutnya tersebut.

Sekarang, internet membuat mahasiswa dengan mudahnya mengakses makalah, jurnal atau esai. Karya-karya ilmiah yang bertaburan dalam bentuk kertas itu sekarang tersedia dalam bentuk elektronik. Fasilitas semasa di kampus dengan menggratiskan akses jurnal bagi akun mahasiswa yang menggunakan domain kampus ialah pemanjaan yang tak dapat ditolak. Perpustakaan sendiri saat ini lebih berfungsi sebagai tongkrongan wifi bagi mahasiswa untuk berselancar di dunia maya ketimbang berjalan di sekitar rak-rak buku.

Segala kemudahan ini ternyata mengubah saya. Karena begitu mudahnya untuk menemukan kutipan, seperti di google scholar, saya hanya membaca yang penting-penting saja. Hal ini mengakibatkan pembacaan terhadap suatu konsep atau gagasan tertentu terkadang tidak holistik.

Lama kelamaan saya jadi kehilangan gairah untuk membaca sebuah buku teori besar dan tebal itu. Karena internet dengan mudahnya membuat kita dapat langsung mengakses bagian apa yang kita inginkan tanpa menggunakan waktu sebanyak membaca sebuah buku.

Hal serupa dirasakan pula oleh Bruce Friedman, seorang ahli patologi dari fakultas kesehatan universitas michigan. Internet mengubahnya menjadi pembaca dengan metode skimming, membaca hanya sepintas lalu dan bertumpu pada penemuan ide penting dan diingini saja. “Saya yang sekarang (semenjak menggunakan internet) mungkin sudah tidak sanggup lagi membaca novel legendarisnya Leo Tolstoy, War and Peace,” ungkapnya seperti yang tertuang dalam buku karangan Nicholas Carr, What the Internet Is Doing to Our Brain (2010).

Saya ingat ketika harus membaca mahakarya Tan Malaka “Madilog”. Kami ditugaskan untuk membuat review. Buku yang tebal dengan penggunaan bahasa melayu-indonesia ala balai pustaka itu tidak sempat habis terbaca. Kami kebanyakan mengandalkan review dari internet untuk sekadar mengetahui gagasan pokok dari buku Bapak Republik yang Terlupakan itu. Tentu sebagian dari kami memang ada niat membaca namun tidak utuh dan tuntas.

Bagi sebagian orang, mungkin, membaca buku saat ini sudah ketinggalan zaman. Masih dari buku Nicholas Carr tadi, seorang mahasiswa Filsafat Universitas Florida, Joe O’Shea, mengaku sudah tidak menggunakan buku lagi untuk kepentingan akademisnya. “Saya cuma butuh google untuk menyerap semua informasi yang dibutuhkan,” ujarnya. Baginya, duduk dan meluangkan waktu untuk membuka lembar demi lembar halaman buku hanya buang-buang waktu saja.

Nicholas Carr yang saya kutip bukunya tadi ialah seorang penulis finalis Pulitzer Prize lewat karyanya yang menyoalkan isu soal internet ancaman pendangkalan. Bukunya yang berjudul , Is Google Making Us Stupid (2008), ialah karya penting abad ini yang mengritisi efek Internet terhadap kognisi manusia. Carr berargumen bahwa Internet yang tampil serba praktis itu memiliki efek merugikan pada kognisi yang mengurangi kapasitas untuk fokus, berkonsentrasi dan melakukan kontemplasi.

Kepraktisan menggunakan internet juga ditemukan dari karakter berita daring saat ini. Banyak dari kita, termasuk saya, tidak mau membuang waktu dengan membaca substansi berita. Langsung saja geser ke bawah layar gawai untuk melihat judul di halaman utama situs berita.

Akibatnya, banyak tulisan artikel berita yang belum memadai kelengkapan fakta 5W+1H. Seringkali kita menemui judul berita terlalu panjang karena terlalu rakus ingin mendeskripsikan suatu peristiwa langsung secara umum. Maka tak jarang banyak judul berita daring yang bermunculan mengandalkan bombastisitas, kontroversial dan vulgarisme.

Internet memang berjasa dalam menyajikan banyak informasi. Seperti tadi saat saya memerlukan info soal menumbuhkan kurma di halaman depan rumah ini. Namun, informasi yang tersaji banyak itu terlalu menumpuk. Terkadang kita sebagai pengguna gampang teralihkan dari satu informasi ke informasi lain. Seperti saat saya tengah mencari informasi soal cara merawat kurma tadi. Saya meninggalkan sejenak, dan bahkan melupakannya, soal berita terbaru soal Brexit.

Hari ini, internet membuat banjir informasi yang tak terbendung oleh pengguna jaringan tersebut, yakni manusia. Informasi yang banyak dan hadir dalam waktu bersamaan itu selain memudahkan kita juga menciptakan gangguan soal fokus pada pikiran kita. Penggunaan internet secara tidak cermat mampu mengubah kebiasaan dan cara berpikir manusia, terutama dalam hal mengolah informasi.

Serta menciptakan ketidaksabaran pada pikiran kita karena tuntutan untuk cepat dan kerakusan untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Disaat kita merasa tercerahkan dan pintar dengan ragamnya informasi, namun disaat itu pula sebenarnya pengetahuan yang kita dapatkan terasa dangkal.

Artikel Terkait