3 tahun lalu · 721 view · 4 min baca · Budaya beware-of-dogma.jpg

Suci Tanpa Tuhan?

Ada kelakar yang berkata, Indonesia adalah negara dengan too much religion. Di Indonesia, agama tak lagi termasuk countable noun, melainkan uncountable noun, dan karenanya harus disebut too much, bukan lagi too many.

Kelakar itu nyata. Masyarakat kita, apapun agamanya, sangat mudah mengaitkan apa saja dengan agama. Agama kerap dijadikan ukuran untuk menentukan etis / tidaknya perilaku, sehingga “kebersihan” pun harus dianggap “sebagian dari iman.”

Mungkinkah agama tak sejalan dengan etika? Mengapa tidak? Tengoklah sekitar, mulai dari razia-razia brutal pada bulan puasa, korupsi oleh orang-orang saleh, sampai radikalisme agama dalam segala bentuknya.

Kita boleh menuduh mereka “munafik,” “tidak menjalankan agama dengan benar,” dan seterusnya. Akan tetapi tuduhan itu pun masih melanggengkan kebenaran agama. Dalam isu-isu agama, perkara kerap ditimpakan pada si manusia, dan bukan agama itu sendiri. Agama tak mungkin salah, yang salah adalah “oknum”-nya.

Sungguhkah agama tak mungkin salah? Hanya para teolog yang berhak menjawab pertanyaan itu. Ada pertanyaan lain yang lebih mendesak: mengapa pola pikir “agama tidak mungkin salah” mengakar begitu kuat dalam kesadaran masyarakat kita?

Sekularisasi

Yang segera jelas adalah bahwa Indonesia tak pernah mengalami sekularisasi dalam artinya yang paling ketat. Kita tak pernah hidup dalam roh zaman yang sekular benar-benar: suatu roh zaman di mana lampu merah akan tetap berarti berhenti “etsi Deus non daretur” (bahkan seandainya Tuhan tidak ada) (Taylor 2007, 126), di mana tak perlu iman untuk membuat orang menjaga kebersihan, tak perlu kutipan Alkitab untuk meyakinkan orang bahwa menolong orang miskin adalah mulia.

Hal ini berkebalikan dengan pengalaman saudara-saudara kita di Barat. Masyarakat Barat mengalami sekularisasi di hampir semua lini. Sejak Renaisans, Reformasi Protestan, Pencerahan, Revolusi Prancis, hingga warta “kematian Tuhan” dari Nietzsche, laju sekularisasi di Barat nyaris tak terbendung. Itu sebabnya dunia intelektual Barat pernah begitu yakin, barangkali secara gegabah, suatu saat takhayul bernama agama akan sirna (keyakinan yang hingga kini tak pernah terbukti).

Kemajuan? Entah. Derap peradaban seperti itu memang melahirkan otonomi moral yang cukup kuat, setidaknya pada aras pemikiran: orang tak lagi merujuk pahala surga atau hukuman neraka untuk percaya bahwa jujur itu baik. Akan tetapi, justru itulah masalah besar bagi Eropa sekarang.

Gelombang pengungsi, orang-orang muda Eropa yang bergabung dengan ISIS adalah tuntutan zaman yang tak mungkin disangkal: suka tidak suka, Eropa harus menghitung agama dalam imajinasi sosialnya – suatu gejala yang boleh disebut “post-sekular” (Budi Hardiman 2016, 6).

Jalan Kita Sendiri

Kita di Indonesia tak mengalami die Umwertung aller Werte seperti itu. Kelemahan atau kekuatan? Kita tak tahu, sebab kutub sebaliknya, yaitu keseriusan beragama, tampaknya juga bukan ciri umum masyarakat kita.

Khazanah-khazanah dari Serat Gatholoco hingga Syi’ir tanpå Wathon telah bersaksi, sejak dahulu hingga kini, kritik atas praktik agama yang legalistik-formalistik selalu kita miliki. Karya-karya seperti itu mustahil tercipta seandainya jiwa kita hanya berisi ortodoksi agama.

Kita boleh yakin, roh kritik agama seperti itu tak akan seluruhnya mati. Cukup banyak orang menjalankan agama dengan ringan, kalau perlu sekali-kali meninggalkannya demi kepercayaan lain (gejala multiple religious belonging). Demikian pula cukup banyak dari kita dengan mudah meninggalkan ajaran agama demi keyakinan etis tertentu yang dari sudut agama tampak menyimpang.

Corak kritik agama seperti itu tak sama dengan corak kritik agama dalam peradaban Barat. Kita tak pernah seluruhnya yakin bahwa agama harus sama sekali dihapus, apalagi akan sirna. Jalan kita bukanlah jalan totalitas atau-atau: agama atau sekular – pilih salah satu, hapus yang lain. Jalan kita adalah jalan kompromi: bukan ini, bukan pula itu – bukan agama, tetapi bukan pula sekular. Tidakkah pola neither-nor itu pula yang melandasi berdirinya negara kita?

Kenyataan itu sebaiknya dipandang lebih sebagai harta daripada kekaburan pendirian. Jalan kompromi telah memelihara Indonesia yang kompleks ini selama 70 tahun, dengan segala puji dan celanya. Pengalaman ini barangkali dapat membuka mata dunia yang dewasa ini hanya mengenal dua kemungkinan: negara yang sepenuhnya berlandaskan agama seperti ISIS, atau negara yang sepenuhnya sekular di mana agama dikurung dalam penjara bernama “ruang privat” (Setyo Wibowo 2015, 57).

Di sini slogan “Kebersihan adalah sebagian dari iman” menjelma menjadi siasat yang jeli, bukan lagi kenaifan kerdil. Ia merangkul, di satu pihak, religiositas yang selalu laten di jantung eksistensi manusia dan, di lain pihak, kebutuhan akan pendewasaan moral publik. Dalam tegangan itulah selama ini kita hidup, dan tegangan itu pula yang hendaknya selalu kita rawat.

Akan tetapi hidup dalam tegangan juga berarti memasuki kawasan yang tak nyaman. Mustahilnya menghapus agama dari ruang publik mengakibatkan kehidupan sosial kita akan selalu terancam oleh radikalisme agama. Derap zaman yang kian majemuk dan terbuka membuat masyarakat semakin mudah tergiur dengan janji kepastian agama.

Itu sebabnya, kaum agamawan dan umat beragama perlu mengatakan “cukup” terhadap unsur-unsur agama yang legalistik-formalistik – sesuatu yang tentu tak akan nyaman. Begitu pula mereka yang berwawasan sekular juga perlu mengatakan “cukup” terhadap mimpi bahwa Indonesia seolah-olah akan beres tanpa agama – bukan karena agama selamanya benar, melainkan karena Indonesia tak mungkin dicabut dari akar-akar religiusnya.

Dengan itu, mudah-mudahan, agama akan menjelma menjadi kekuatan sosial yang membangun, bukan mengancam.

Suci Tanpa Tuhan?

Pada titik ini terkenanglah saya akan Jean Tarrou, seorang pahlawan moral tragis dalam La peste, roman terkenal karangan Albert Camus. Tarrou pernah berandai-andai, adakah kemungkinan terbuka untuk menjadi “santo tanpa Tuhan” (Camus 1985 [1947], 112). Camus sendiri tampaknya meragukan heroisme semacam itu.

Tarrou, yang bertempur melawan sampar demi heroisme kemanusiaan tanpa Tuhan, akhirnya mati. Begitu pula Romo Paneloux, yang berperang demi “cinta akan apa yang tidak kita mengerti” (1985 [1947], 186), sebut saja Tuhan, juga akhirnya mati.

Kematian tragis Romo Paneloux dan Jean Tarrou adalah peringatan: heroisme, baik agama maupun anti-agama, adalah jalan yang terlalu sederhana untuk menghadapi rumitnya kenyataan.

Rujukan

Budi Hardiman, F. 2016. “Post-sekularisme”, dalam harian Kompas, 7 Juni 2016, 6.

Camus, Albert. 1985 [1947]. Sampar, terj. Nh. Dini. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Setyo Wibowo, A. 2015. “Ketuhanan Yang Mahaesa dan Filsafat Kompromi Khas Indonesia”, dalam Armada Riyanto dkk. (eds.). Kearifan Lokal – Pancasila: Butir-butir Filsafat Keindonesiaan. Yogyakarta: Kanisius, 57-83.

Taylor, Charles. 2007. A Secular Age. Cambridge, London: The Belknap Press of Harvard University Press.

Artikel Terkait