Deru laju kereta bawah tanah membangunkan semua hal dan perangkat yang berada di dalamnya. Peron-peron yang tampak berkilau karena baru saja dibersihkan, petugas dan penumpang yang telah setia menunggu sang kereta tiba, pun begitu pula Hamim yang menguap tersentak karenanya.

Hey, wake up!”, teriak dua orang petugas subway berpakaian biru muda membangunkan sederet tunawisma yang terkulai nyaman―berlindung semalaman dari dinginnya kota padat pekerja di Amerika sana.

Hamim pun bergegas merapikan semua barang-barang yang dibawanya. Tiga lapis baju yang ia kenakan, sebuah blazer lusuh semata wayangnya, dan sebuah tas kecil bersimbol tanda centang tergantung di bahunya.

***

Namanya, Hamim. Seorang imigran laki-laki berusia 25 tahun―berdarah Indonesia, yang kini terlunta-lunta di kota New York tersebut. Sejarah panjang perkuliahan, yang membuatnya kini harus rela melepaskan impian pendidikan seni yang tiga tahun lalu masih dirasakannnya.

Ia bukanlah seorang tunawisma pada umumnya. Hamim memiliki aktivitas keseharian, selayaknya para New Yorker lain yang  bergelut dalam pekerjaannya. Mantan mahasiswa kesenian New York University itu, kini asyik mementaskan puppet jalanan―sebuah pementasan boneka tangan yang ia tampilkan secara sederhana di pinggiran stasiun kereta New York ataupun tempat lainnya.

***

“Morning, Mam!”, sapa Hamim kepada seorang wanita paruh baya di depan sebuah toko roti tak jauh dari tempatnya bermalam.

The Morning Bread, begitu tulisan yang terpampang di atas papan penanda tersebut dan Nyonya Keith adalah pemiliknya. Wanita asli Amerika yang kini cukup mahir berbahasa Indonesia. Perempuan berparas ceria yang selalu membiarkan Hamim menggelar pertunjukkannya di depan toko tersebut.

Tak ada uang pengganti yang dimintanya. Nyonya Keith hanya meminta agar Hamim menemani putra bungsunya yang kini terduduk di atas kursi roda. Remaja laki-laki yang telah menjadi teman bercerita Hamim sejak setahun silam. Kemudian, sebagai imbalan atas jasanya, Nyonya Keith akan memberikan sarapan pagi dan makan siang gratis di toko roti tersebut. Sebuah penawaran yang terasa cukup adil, bagi Hamim yang tak memiliki siapapun di kota berpenduduk padat ini.

Hamim, tak begitu saja dapat melupakan peran dan kebaikan dari Keith, begitu ia kerap memanggilnya. Sebuah pesan yang terus terngiang di dalam hatinya.

Please, be my son’s friend.” Sepenggal kalimat yang diutarakan pada Hamim setahun yang lalu, ketika mereka berpapasan tak sengaja di dalam sebuah kereta. Perjalanan singkat yang cukup membawa keberuntungan pada kehidupannya.

***

Hamim pun bergegas menggelar panggung pertunjukkannya tersebut. Pertunjukkan yang setidaknya dapat menjadi pengobat rindu atas gairah seni yang dimilikinya. Segera, sebuah kain persegi yang diberi pemberat pada setiap ujung sisinya, satu kardus besar yang ia sulap menjadi sebuah panggung boneka kecil, dan sebuah kaleng bertuliskan ‘thanks for your kindness’ pun tersaji di hadapannya.

Sembari menunggu waktu pertunjukkan tiba, Hamim menyambangi Nyonya Keith untuk menerima jatah sarapan pagi yang selalu ditunggu dan dinikmatinya.

“Ah, pagi yang menyenangkan bukan, Keith?”. Hamim berbicara kepada Nyonya Keith yang tengah sibuk menggiling beberapa adonan roti di balik meja sajinya tersebut.

“Ya, sangat menyenangkan.” Nyonya Keith menjawab dengan sedikit menoleh kepadanya, sembari tersenyum hangat selayak seorang Kakak ataupun Ibu yang menawarkan seseruput hangat kasih di pagi hari untuknya.

***

Hari itu pun berlalu seperti biasanya. Setelah Hamim menyelesaikan pertunjukkannnya, ia akan segera menemani Ronan―anak Nyonya Keith yang telah menjadi teman dan penggemar setia puppet jalanannya itu.

Kemudian, di malam hari Hamim akan beranjak menuju pinggiran Brooklyn untuk menyelesaikan mural pertamanya di kota tersebut. Sebuah kedai kopi malam hari, yang mengizinkannya untuk menghiasi tembok di samping kedai tersebut. Dengan bayaran beberapa puluh dollar yang akan diterimanya dalam waktu seminggu kemudian. Sebuah persinggahan lain baginya, untuk mewujudkan impian besar yang masih ia miliki. Menjadi seorang pelukis Brooklyn yang dapat menggelar pameran lukisan atas perjalanan hidupnya sendiri.

***

Malam di kota New York pun mulai berlalu. Semua orang telah kembali ke rumahnya setelah seharian bergulat pada sibuk pekerjaan mereka. Termasuk Hamim, yang akan kembali ke dalam tempat bernaungnya di malam ini.

Stasiun Subway, New York City.

***

“Apakah kau tak mau tinggal di toko rotiku ini?”, tanya Nyonya Keith kepada Hamim―yang sedari tadi sibuk memeriksa pekerjaan rumah milik Ronan.

Dengan tersenyum meyakinkan, ia pun menjawab,

“Nanti saja, Keith.”

“Ketika setidaknya aku, mendapat pekerjaan tetap untuk membelikanmu atau Ronan sesuatu.”

Nyonya Keith hanya sanggup menuruti apapun yang diinginkannya. Karena , begitulah Hamim. Ia adalah manusia yang tidak ingin menjadi beban orang lain, bagaimana pun ia sangat membutuhkannya dan Nyonya Keith menghargai pemikirannya tersebut.

You’re a nice Asian that I ever know.” Tutup Nyonya Keith, sembari tertawa kecil bersama di dalam toko roti miliknya pagi itu.

***

Sepekan telah berlalu. Lukisan mural yang dikerjakan Hamim, kini telah selesai dan terpampang memesona di samping kedai kopi itu.

Hamim, thanks for your help. The guest was very happy when they’re coming to here.”

Sang pemilik kedai berkata memuji, sebelum dirinya memberikan beberapa puluh dollar seperti yang telah ia janjikan kepadanya.

***

Tidak seperti biasanya, Hamim tak langsung segera kembali ke tempat berteduhnya di bawah subway sana. Ia tampak berjalan membawa satu kantong besar makanan dan beberapa buah menuju downtown kota New York.

Keith, I got my first paid!”, ungkap Hamim dengan bahagia ketika sampai di kediaman Keith.

Nyonya Keith pun mempersilakan Hamim masuk dan membiarkan ia bercerita panjang lebar dengan suami dan Ronan anaknya. Sembari ia menyiapkan sajian teh dan pie apel yang Hamim bawa. Kemudian, malam pun berlalu dengan Hamim yang akhirnya menyetujui untuk menginap di kamar Ronan malam itu.

***

Keesokan harinya, Hamim mendapatkan seorang tamu yang akan menjadi hadiah terindah di kehidupannya hari itu.

You’re Hamim, right?”, tanya seorang laki-laki berpakaian rapi kepada dirinya di toko roti milik Nyonya Keith.

Pembicaraan panjang pun berlalu dengan Hamim yang ditawarkan untuk bekerja sebagai pelukis pada galeri milik laki-laki tersebut. Sebuah galeri lukisan Brooklyn, yang kini membawa napas segar dan baru kepada impian Hamim pada akhirnya.

***

Hamim bukanlah lagi seorang tunawisma yang terlunta-lunta tak menentu di pinggiran Amerika. Kini, ia adalah seorang pelukis muda. Seorang manusia yang akan selalu berterima kasih kepada toko roti, boneka, kedai kopi, dan subway di bawah sana.