Saat kita melihat suatu karya seni, kira-kira apa yang ada di pikiran kita? Bisa jadi kita akan menangkapnya sebagai objek keindahan, atau sesuatu yang merepresentasikan emosi dan suasana, dan lain sebagainya.

            Dalam menilai karya seni tersebut, ada dorongan emosional dari dalam diri kita yang membuat karya seni itu menjadi bernilai bagi kita. Hal ini disebut penilaian subjektif, yang mana diajarkan dan dikembangkan oleh para pemikir subjektivisme.

            Sedikit kita pahami mengenai subjektivisme sebelum masuk ke sejarah perkembangan subjektivisme aksiologis. Berdasarkan Kamus Filsafat, subjektivisme merupakan suatu kategori umum yang meliputi semua doktrin yang menekankan unsur-unsur subjektif pengalaman.

            Jadi apa yang ditangkap berdasarkan pengalaman, pencerapan, dan persepsi individual atau dengan kata lain mengacu pada apa yang dari pikiran dan bukan dari sumber-sumber objektif, luar.

            Sejarah perkembangan subjektivisme aksiologis bermula pada seorang Alexsius von Meinong yang merupakan orang pertama yang memberikan penafsiran subjektivistik terhadap nilai.

            Pemikirannya ini tentu saja tidak lepas dari ajaran gurunya, Franz Brentano, mengenai intensionalitas. Dalam hal ini, mengenal seorang Meinong saja tidaklah cukup, terdapat satu orang lagi yang bisa dikatakan sebagai kolega yang sama-sama memperjuangkan subjektivisme yakni Christian von Ehrenfels.

            Brentano memberikan titik pijakan bagi Meinong dan Ehrenfels untuk perkembangan subjektivisme. 

            Dari pemikiran Brentano, di mana ia menggunakan intensionalitas kesadaran untuk menyusun dasar aksiologi yang memungkinkannya untuk memulai penyelidikan dari pengalaman sampai objek yang diacu oleh pengalaman tersebut.

            Meinong meyakini bahwa persoalan atas nilai berakar dalam kehidupan emosional manusia, dengan demikian ia berusaha menjelaskan persoalan atas nilai melalui psikologi. Baginya sesuatu memiliki nilai apabila objek dapat memunculkan daya tarik secara emosional dari dalam diri kita.

            Dalam karyanya yang berjudul Psychological Ethical-Inquiry bahwa penilaian harus didasarkan pada fakta psikis, maksudnya adalah nilai dapat ditemukan ketika kita mengamati dalam suatu ranah emosional sehingga apa yang disebut nilai tidak lain dari sebuah sentimen individu.

            Berkaitan dengan apa yang dikemukakan oleh Brentano bahwa pertimbangan selalu berkaitan dengan eksistensi objek, Meinong juga menggunakan hal tersebut untuk mengatakan bahwa sentimen ini terikat dengan eksistensi. Dengan mengacu pada objek yang eksis, nilai menjadi sebuah suasana subjektif emosional individu.

            Namun sepertinya Ehrenfels tidak sependapat dengan pandangan ini, ia menyanggah bahwa teori tersebut mengandaikan jika hanya objek yang eksis yang akan memberikan kenikmatan atau kesenangan sehingga objek tersebut menjadi bernilai.

            Baginya adalah justru dengan hasrat dan nafsu kita akan menemukan nilai, dan agaknya sensasi kenikmatan dan kesenangan tidak dapat dijadikan landasan untuk hal tersebut.

            Tapi keberatan Ehrenfels ini tidak diterima begitu saja oleh Meinong, ia kemudian kembali mengajukan sanggahan terhadap teori Ehrenfels tadi. 

            Meinong berpendapat kalau nilai tidak bergantung pada apakah objek tersebut dihasrati atau tidak, karena orang hanya akan menghasrati sesuatu yang tidak dimiliki dan penilaian kita adalah pada apa yang kita miliki.

            Setelah itu ditekankanlah bahwa nilai merupakan hubungan antara subjek dan objek yang keberadaan objek menentukan kondisi emosional kita.

            Di sisi lain, Meinong setidaknya mengakui bahwa kita juga menilai apa yang tidak eksis namun dengan maksud bahwa jika objek tersebut eksis maka akan menimbulkan kenikmatan atau kesenangan.

            Dari sini ia mulai membedakan antara nilai yang masih berupa potensi dan nilai yang dialami pada suatu waktu. 

            Nilai yang masih berupa potensi maksudnya adalah nilai yang dimiliki oleh individu ketika objek masih belum eksis, dan nilai yang dialami pada suatu waktu maksudnya adalah nilai yang terkandung dalam objek yang telah eksis.

           Dengan demikian berakhirlah perdebatan antara Meinong dan Ehrenfels yang ditutup dengan karya Ehrenfels berjudul System der Werttheorie pada tahun 1898. Meinong akan melanjutkan riset aksiologisnya yang nantinya membuat dirinya berpindah haluan ke arah objektivisme.

           Tentu saja perkembangan subjektivisme aksiologi tidak berhenti sampai di situ, pada abad ke 20 subjektivisme aksiologi mengembalikan pertimbangan nilai kepada pernyataan atas sikap mental terhadap objek sehingga pertimbangan nilai hampir sama seperti pernyataan setuju dan tidak setuju.

           Tokoh lain yang turut dalam perkembangan subjektivisme aksiologi adalah R.B. Perry. Baginya nilai tidak lain merupakan objek dari suatu kepentingan sehingga dalam pertimbangan nilai ada kepentingan subjek yang ikut mengambil peran. 

         Kurang lebih bagi R.B. Perry, nilai sepenuhnya bergantung pada pengamalam individu. Di sana refleksi dari perasaan, sikap dan tanggapan individual, dapat dijadikan nilai. 

      Namun objek dapat dianggap bernilai apabila objek dapat menimbulkan suatu keadaan yang diingkan oleh kesadaran, perasaan, atau pengalaman.

           Sejauh ini kita pahami bahwa nilai akan selalu berkaitan pada subjek, dalam arti bahwa subjeklah yang akan mengadakan nilai tersebut. Persis seperti apa yang dinyatakan oleh Meinong bahwa nilai menjadi sebuah suasana subjektif emosional individu.

           Suatu karya seni tidak akan bernilai keindahan apabila subjek tidak tertarik padanya, tetapi masing-masing individu akan memiliki penilaiannya sendiri terhadap keindahan karya seni tersebut.

         Subjektivisme sebagai suatu aliran yang menjadikan subjek sebagai titik tolak dalam segala sesuatu, dalam hal ini yakni nilai. Nilai dipahami sebagai sesuatu yang murni datang dari penilaian subjek, bukan dari apa yang secara objektif berlaku.

            Namun dalam perkembangannya, subjektivisme tidak bisa diterima begitu saja oleh sebagian orang yang pada dasarnya mereka merupakan para penganut objektivisme. Perdebatan panjang antara objektivisme dan subjektivisme nantinya senantiasa mewarnai filsafat terutama pada ranah aksiologis.


Daftar Pustaka

Frondizi, Risieri. 1963. Pengantar Filsafat Nilai. Cuk Ananta Wijaya. 2001. Pustaka Pelajar: Yogyakarta, Indonesia.

Bagus, Lorens. 1996. Kamus Filsafat. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, Indonesia