Ramadan tak terasa tinggal sebentar lagi. Kaum muslim di penjuru dunia mengencangkan ibadahnya di sepuluh malam terakhir. Baik sekadar merapal doa, bersedekah, berzikir, mengaji, membayar zakat, salat malam, semuanya lebih intens dilakukan di akhir-akhir ramadan.

Semua aktivitas itu dijalankan agar bertemu dengan malam yang agung, yang dipenuhi oleh malaikat seperti butiran-butiran pasir yang memenuhi bumi, limpahan berkah bercucuran, doa-doa melangit seumpama permata-permata yang dipancarkan cahaya—terang-menerang menghiasi kemegahan bagi siapa yang melihatnya.

Di malam itu, cucuran ampunan, deraian penyesalan, untaian harapan dipanjatkan dalam sajadah, disenandungkan dalam dekapan yang meminta. Rajutan-rajutan doa menghiasi dada-dada orang beriman. Bulir-bulir bening menghujam ke tanah memancar di semesta. Niat yang kuat membakar semangat beribadah. Ya, semuanya ada pada porsi masing-masing pribadi kita semua.

Lentera-lentera yang menyala dalam wadah bening terselip lantunan ayat-ayat Alquran, menghiasi di segala seluk-beluk rumah. Lekukan-lekukan selasar dipenuhi senyum-senyum anak kecil yang sedang bersendagurau. Tempat berlindung kaum muslim memancarkan cahaya Alquran.

Semua aktivitas itu hanya ada di bulan mulia. Bulan diturunkannya Alquran, yang lebih tinggi keagungannya dari bahan bacaan apapun. Di bulan ini juga ditetapkannya malam yang lebih baik dari seribu purnama. Dan amalan-amalan dilipatgandakan ganjarannya.

Ramadan merupakan madrasah bagi diri kita semua. Di bulan ini tempat melatih diri, bagaimana memurnikan kembali diri dari kegelapan dan keburukan yang dilakukan selama sebelas bulan. Beraneka macam niat dan target capaian dikhususkan.

Ada yang sekadar menghatamkan Alquran, menghafal Alquran, menargetkan hafalan beberapa hadits, menghabiskan buku bacaan, salat malam, kesemuanya mendapatkan hasil yang ditargetkan.

Implikasi akan dirasakan oleh individu yang melakukan segala aktivitas di bulan Ramadan. Magfirah terbuka sangat lebar, menerima siapa saja yang bertaubat. Mau sebesar gunung atau lautan, ampunan Allah lebih luas dari itu semua.

Dalam bulan Ramadan, terdapat sebuah malam penuh dengan cahaya-cahaya malaikat yang turun ke bumi. Tak terhingga jumlah bilangannya. Rasulullah pun memerintahkan kita agar senantiasa giat beribadah di sepuluh malam terakhir. Agar mendapatkan berkah dan rahmat dari-Nya.

Beberapa ulama berusaha meramalkan jatuhnya malam kemuliaan tersebut di akhir-akhir Ramadan. Tapi, daripada beribadah nanti menunggu hari-hari yang diramalkan. Lebih baik aktivitas dilakukan secara total di bulan ini. Pasti akan menemui Lailatul Qadr.

Wajah-wajah yang bersungguh-sungguh, akan memancarkan kilauan cahaya. Bagi siapa yang melatih diri memenuhi kebaikan dan amaliah-amaliah dalam kesehariannya di bulan Ramadan.

Totalitas dalam beribadah, akan mengantarkan jiwa-jiwa yang telah tersucikan seperti bayi-bayi yang baru dilahirkan. Tak ada dosa yang melekat. Umpama mutiara di lautan yang terbungkus rapi dalam kerang.

Masing-masing porsi yang didapatkan, tergantung berkahnya ibadah-ibadah yang dilaksanakan. Pelita-pelita dalam hati disucikan lagi, agar bersih dan memancarkan cahaya sempurna.

Ramadan tempat melatih ilmu menahan diri. Bukan sekadar menahan makan, minum, apalagi melakukan hubungan intim bagi yang sudah bersuami istri. Lebih dari itu, menahan diri dari segala perbuatan buruk. Ibarat hewan yang dikendalikan dengan seuntai tali-temali. Begitulah nafsu diikat.

Banyak sekali para begawan dan para ulama mencontohkan ilmu menahan diri. Tirakat batin—menjaga kecondongan hati dalam kedengkian, iri, hasut—adalah salah satu contoh ilmu menahan diri.  Tinggal bagaimana pribadi mengolahnya. Semua akan kembali ke diri kita masing-masing.

Kini, sampailah pada penghujung Ramadan. Begitu cepatnya bulan mulia meninggalkan kita semua. Harapan-harapan terselip dalam dada, semoga berjumpa dengannya tahun berikutnya. Kecil kemungkinan akan berjumpa lagi. Mungkin maut akan lebih dulu memanggil kita semua.

Mendekaplah dengannya, berbisiklah. Di penghujung yang hampir usai. Lepaskanlah belenngu kemalasan. Ikatlah niat dengan benar-benar sampai akhir, hingga suara takbir, tahmid, dan tahlil mulai terdengar dari kejauhan yang makin mendekat. Pertanda bulan Syawal akan menyambut.

 Sahut-sahutan dan lautan takbir menggema di malam awal. Di malam itu, banyak yang tidak diketahui oleh banyak orang, bahwa terdapat berkah yang melimpah ruah. Para ulama banyak yang melakukan salat malam—tidak tidur—demi berburu keberkahannya.

Mungkin Ramadan dan Idul Fitri kali ini terasa berbeda. Akibat pandemi yang merongrong kehidupan. Jangan mengaggap itu adalah sebuah azab. Karena tidak mungkin Allah mengazab suatu kaum, jika di dalamnya masih ada orang yang berzikir dan bersalawat.

Dahulu di zaman Rasulullah, Bilal menggunakan kumandang azan “Sollu fii buyutikum” ketika banjir. Bilal ingin, kaum muslimin saat itu, tidak terpeleset akibat banjir. Oleh karena itu, sesuai konteks hadis Nabi “Agama ini mudah, jangan dipersulit.”

Sebagai seorang muslim, harus bersabar atas apa yang menimpanya, dan berprasangka baik terhadapnya. Jangan saling menyalahkan bagi sesama. Saling merangkullah, dan berbagi kebahagiaan.

Sekali lagi, di akhir Ramadan ini, pasanglah niat yang sangat kuat dalam mengakhiri dengan ibadah di akhir-akhir malam. Dengan cara ikhlas dan tulus melakukannya. Demi menuju dalam niat yang sesungguhnya di luar Ramadan. Berharaplah semoga puasa kali ini diterima oleh Allah Swt.