Beberapa waktu lalu, saya bersama rekan berkesempatan untuk berwisata. Dengan memakai dua buah kereta (sebutan sepeda motor di daerah kami) dari Siantar dan menempuh perjalanan sekitar 1 jam, akhirnya sampai di hadapan pelabuhan kapal, yakni Pelabuhan Ajibata yang berada di Kota Parapat.

Sudah lama kiranya saya men-schedule waktu untuk menyempatkan berkunjung ke daerah Pulau Samosir. Ya, Pulau Samosir. Siapa yang tidak mengenal pulau di atas danau itu!

Selain merupakan salah satu warisan dunia, pun merupakan salah satu danau vulkanologi terbesar di dunia dan hendaknya kita jaga bersama-sama.

Perjalanan kali ini cukup memberikan kesan yang amat baik terhadap diri saya dan teman perjalanan saya. Untuk itu saya tak lupa untuk menuliskan cerita singkat perjalanan kami, kiranya menjadi salah satu  jejak literasi pada besok lusa, hari esok, bahkan di hari tua nanti.

**

Kendaraan kami telah memasuki badan kapal, diikuti kendaraan para penumpang lainnya dan diakhiri oleh sebuah bus masuk ke dalam tubuh kapal, bus tersebut bernamakan “pribumi”.

Ya, "pribumi”. Sontak setelah membaca nama itu saya berpikir jauh ke belakang tentang perjuangan para leluhur suku Batak sampai di pulau ini hingga telah menyebar ke penjuru nusantara.

Walaupun penggunaan kata “pribumi” sudah dilarang di era Presiden Habibie, dengan mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 26 tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non Pribumi, bus tersebut masih menjadi angkutan yang cukup digemari masyarakat bila hendak menuju Pulau Samosir menggunakan angkutan umum.

Kapal bergerak perlahan meninggalkan pulau Sumatera dan beranjak menuju Pulau Samosir. Di dalam kapal kami mulai saling berkomunikasi, dari membahas hal penting sampai hal yang kurang penting juga sih. Hehehe.

Dalam kapal tampak segerombolon orang yang telah usai melakukan adat pesta kematian, dan hendak menguburkan orang yang telah meninggal agar dikebumikan di Pulau Samosir.

Wajar, Pulau Samosir saat ini bisa dikatakan menjadi tempat pemakaman orang-orang Batak, baik dari luar Pulau Sumatera sampai dari penjuru dunia.

Bahkan, tugu-tugu marga orang Batak tak jarang akan banyak kita temukan di daerah Pulau Samosir, ditengarai dari segi legenda, Pulau Samosir adalah awal sejarah peradaban orang Batak di bumi nusantara.

Sekitar 30 menit telah berlalu, masih saja dengan suasana yang sama, orang-orang saling berkomunikasi dengan kerabat mereka masing-masing.

Rasa penasaran saya muncul untuk melihat suasana di luar kapal. Akhirnya saya meniatkan diri untuk berjalan mengintip suasana luar dari kaca kapal, untuk sekedar menikmati keindahan Pulau Samosir yang sudah tepat berada di hadapan kami.

Dan tanpa disadari, akhirnya badan kapal pun telah menyentuh Pulau Samosir, dengan rasa bahagia satu persatu kendaraan mulai meninggalkan badan kapal dan menyentuh Pulau Samosir.

Tampak beberapa orang supir dengan transportasi umum mereka masing-masing di pelabuhan kami bersandar, menunggu para turis lokal yang melancong ke pulau itu dan siap mengantar para turis ke lokasi yang mereka tuju.

Kereta (sepeda motor) kami pun mulai bergerak dan perlahan meninggalkan pelabuhan itu serta meninggalkan hiruk-pikuk pelabuhan tersebut. Dan perjalanan pun dimulai.

Bentangan tebing tinggi begitu tampak di samping kami, yang membuktikan begitu besar dan luasnya Gunung Toba, gunung aktif dalam kategori sangat besar itu yang diperkirakan meletus terakhir sekitar 74 tahun lalu. Dan efek letusan gunung tersebut, terbentuklah sebuah danau  vulkanologi besar dan dinamakan Danau Toba.

Kami pun memilih untuk berhenti di beram jalan untuk mengambil pelbagai foto dengan latar belakang pemandangan barisan tebing tinggi. Setelah puas mengabadikan diri dengan pelbagai foto, kami pun kembali melanjutkan perjalanan kembali.

Kali ini kami akan menuju destinasi wisata budaya, yakni Huta Siallagan (kampung adat etnis Batak Toba yang masih bertahan) dengan kursi persidangan – tempat raja dan pejabat memutuskan hukuman untuk seorang yang telah terbukti melakukan kejahatan. Kemudian, ada juga makam raja Siallagan dan turunannya.

Namun, pada saat itu destinasi itu sedang dalam tahap renovasi dan kami pun hanya menyinggahkan waktu untuk mengambil beberapa foto dan beranjak kembali ke destinasi wisata lainnya.

Tanpa disadari langit telah menunjukkan "warna gelapnya", kendatipun kami segera mencari tempat persinggahan, ditambah juga air hujan sudah mulai turun membasahi pulau itu. Kami pun memilih berteduh di sebuah lapo tuak -- sejenis kedai atau warung, layaknya kedai kopi, yang menyediakan minuman khas, yakni tuak yang merupakan minuman khas Batak.

Sesampai di lapo tuak tersebut kami pun secara langsung berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Batak dengan yang punya lapo tuak tersebut. Dan akhirnya "tarombo"; tradisi menerangkan asal-usul marga pun dimulai dalam interaksi kami.

Dan tanpa kami duga, pemilik lapo tuak tersebut menawarkan kami untuk beristirahat di rumah beliau dan kami pun sangat berterimakasih dengan tawaran itu, yang membuat kami merasa lega, ditengarai tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan perjalanan di situasi saat itu. Kami pun memilih istirahat di rumah beliau.

Hal di atas mengajarkan pada kita, betapa bedanya masyarakat desa bila dibandingkan dengan orang-orang yang tinggal di kota. Pikiran yang terbuka dan rasa persaudaraan yang masih kental kita temukan.

Pada malam itu ada beberapa yang kami bicarakan dengan pemilik lapo tuak itu. Dari antara banyaknya pembahasan, ada satu hal menarik yang beliau ceritakan kepada kami, yakni sabah langit (sawah langit), begitu agaknya masyarakat (Batak) yang berdomisili di Pulau Samosir, Sumatera Utara menyebutnya.

Sawah yang berharap besar akan langit untuk menurunkan air hujan sebagai sumber kehidupan padi tersebut, diakibatkan minimnya aliran sungai di daerah itu yang walaupun daerah itu berada dekat Danau Toba. Sentak cerita itu membuat saya agar selalu mesyukuri apa yang telah alam berikan terhadap kita.

Pagi pun sudah memunculkan “warnanya”, kami bergegas untuk melanjutkan perjalan kembali.

Kami beranjak memulai kembali perjalanan, yakni menuju perkampungan Si Raja Batak, di Desa Sigulatti, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Samosir.

Daerah yang konon disebut sebagai lokasi awal peradaban suku Batak untuk pertama-kalinya. Dari lokasi ini kita akan dapatkan ilmu tentang peradaban Si Raja Batak dan menemukan banyak pemandangan bukit-bukit yang amat mempesona, yang akan menyadarkan kita, betapa mempesonanya bentangan alam Indonesia. Patutlah kita menaruh rasa bangga terhadap diri kita masing-masing dan terlibat di dalamnya.

Usai dari destinasi di atas, kami berkelana kembali menuju Bukit Holbung, salah satu objek wisata yang cukup tenar di kalangan anak muda, terkhususnya suku Batak. Tak jarang banyak anak muda yang melakukan foto 'pra-wedding' di lokasi wisata ini.

Dikarenakan pemandangannya cukup baik, serta mensuguhkan kita beberapa titik spot foto yang baik untuk dipublikasikan di media kita masing-masing.

Tetapi, ada satu hal yang membuat saya betul-betul berpikir, yakni ketika melihat proses pengerjaan suatu proyek wisata baru. Ini kali perdana saya melihat bagaimana proses pembuatan objek wisata. Yang menyadarkan kami, terkadang kita harus mengorbankan ekosistem di sekitar kita hanya untuk menambah nilai ekonomi kita dengan membangun objek wisata.

Setelah usai melakukan perjalanan terakhir, kami pun bergegas untuk kembali pulang menuju daerah kami, yakni Kota Pematangsiantar.

Dengan rasa syukur yang dibarengi rasa lelah kami "menembus hujan" yang sedang mengguyuri daerah Pulau Samosir.

Kendatipun berharap suatu saat nanti Pulau Samosir masih tetap seperti ini dan hendaklah selalu menjaga sejarah peradaban masyarakat Batak dengan berbagai mitos, historis, legenda, bahasa, mistik, religi, pengetahuan, kekerabatan, mata pencarian hidup dan kesenian yang kamu punya, Pulau Samosir.

Terakhir, saya mengutip pendapat Dandhy Laksono yang mengatakan, “Jangan sampai besarnya aktivitas ekonomi tapi tidak dibarengi dengan kemampuan pengelolaan lingkungan hidup dengan baik.”