Walau disampaikan sejak awal bahwa idulfitri dapat dilakukan di rumah, namun tetap saja semangat menunaikannya berjamaah selalu muncul kembali. Padahal dengan di rumah, akan menjadi kesempatan untuk memutus wabah yang masih belum dapat diatasi sepenuhnya.

Idulfitri, usai puasa Ramadhan menjadi pelengkap. Selama ini, dilaksanakan secara berjamaah. Baik di masjid, juga dilaksanakan secara luas di lapangan.

Apa daya, sejak covid-19 mewabah kesempatan itu menjadi terbatas.

Dengan kondisi sejak masjid dibuka untuk tarawih, tersebar pelbagai kasus. Pati, Bantul, Banyuwangi, dan Purbalingga, daerah diantaranya yang harus melakukan pembatasan dalam skala dusun. Tidak saja diawali dengan penyebaran yang meluas, jumlah penderita yang wafat juga meningkat. Kondisi ini mencemaskan. Klaster  tarawih terbentuk. Sehingga sosialisasi pembatasan idulfitri dilakukan sejak awal secara terencana.

Dengan pertimbangan pencegahan wabah pula, masjid Istiqlal yang sudah dibuka untuk salat tarawih dengan pembatasan kapasitas, kini ditutup untuk pelaksanaan salat idulfitri.

Walaupun telah diberikan izin untuk melaksanakan idulfitri dengan jumlah jamaah sepuluh persen saja. Hanya saja dengan simulasi yang telah dilaksanakan, imam besar masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mengumumkan peniadaan salat idulfitri 1442 H di Istiqlal. Sembari tetap berharap bahwa pada masa iduladha yang akan datang, pandemi telah dapat diatasi sehingga pelaksanaan hari raya sudah dapat ditempatkan di masjid kebanggaan rakyat Indonesia.

Pertimbangan lainnya, situasi belum benar-benar membaik. Sementara jamaah berkesempatan untuk bertemu tidak saja dalam satu titik. Ini dikhawatirkan akan menjadi peluang penyebaran virus. Sehingga dengan kondisi yang ad aitu diputuskan untuk tidak dilaksanakan di Istiqlal.

Sementara itu, Masjid Agung At-Tin yang tetap didirikan sebagai amanat almarhumah ibu negara kedua, tetap menggelar pelaksanaan idulfitri dengan membatasi pada angka sepuluh persen dari kapasitas masjid.

Ruang ibadah masjid At-Tin yang berada di Kawasan Taman Mini Indonesia Indah, berkapasitas 20.000 jamaah. Untuk itu, dengan koordinasi pada kepolisian setempat yang akan turut membantu kelancaran beribadah, hanya akan diisi sebanyak maksimal 2.000 orang.

Takmir masjid telah melakukan sosialisasi dengan pemasangan spanduk dan juga penyebaran informasi lainnya, sehingga pelaksanaan idulfitri dapat berjalan lancar. Ruang ibadah sebelumnya telah disemprot dan dibersihkan sehingga dipastikan aman untuk dipakai beribadah.

Sejak akhir April, dua pekan sebelum idulfitri Kementerian Dalam Negeri telah menyampaikan surat kepada kepala daerah untuk tidak melaksanakan halal bilhalal. Demikian pula dengan open house.

Dalam surat yang sama, pelaksanaan buka puasa bersama juga ditiadakan. Ini untuk meningkatkan kewaspadaan dimana tiga varian baru covid-19 telah menjangkit dalam skala lokal di tanah air. Bahkan, penderita yang tidak pernah berkunjung ke Inggris, Afrika, dan India, juga telah terpapar.

Sementara masjid Al Azhar melaksanakan idulfitri di lapangan. Tidak menggunakan ruang ibadah utama di masjid. Pengurus kantor masjid Al Azhar mensyaratkan jamaah untuk tetap mengikuti protokol kesehatan dan kewajiban menggunakan masker.

Pelaksanaan salat dibatasi hanya untuk di lapangan saja. Semata-mata untuk turut memutus mata rantai penyebaran virus.

Persoalan kerumunan baik semasa datang maupun pulang usai pelaksanaan idulfitri menjadi pertimbangan pemerintah kota Makassar. Sejak 4 Mei 2021, pemerintah kota Makassar mendiskusikan desain idulfitri.

Lapangan Karebosi yang selama ini menjadi tempat pelaksanaan salat, untuk kali ini tidak dibuka. Bukan soal ruang terbuka dan juga menjaga jarak. Ketika jamaah berdatangan dan juga proses keluar dari lapangan, dikhawatirkan menjadi kerumunan tersendiri.

Begitu pula lapangan kecamatan di kota Makassar, untuk tahun ini juga tidak dipakai untuk idulfitri. Jangan sampai pada kondisi seperti ini akan memicu penyebaran wabah. Olehnya, pilihan yang dapat dilakukan adalah menganjurkan pelaksanaan idulfitri di lapangan dengan jamaah yang terbatas.

Kemudian untuk masyarakat melaksanakan di jalan-jalan sesuai dengan kawan RW masing-masing jikalau tidak tersedia lapangan. Khutbahpun juga dibatasi untuk tidak melebih sepuluh menit. Sehingga jamaah idulfitri tidak terlalu lama berkumpul bersama. Hanya saja, dalam beberapa kasus, tetap saja masyarakat yang usai melaksanakan idulfitri tidak membersihkan koran yang dibawanya dari rumah untuk menjadi alas sajadah atau karpet.

Sementara itu, walikota Makassar tidak akan membuka rumah jabatan untuk silaturahmi. Adapun halal bilhalal secara singkat dengan tanpa kontak fisik, disarankan dilaksanakan langsung usai salat idulfitri.

Adapun Masjid Raya Makassar sepanjang Ramadhan juga tetap melaksanakan tarawih. Hanya saja, tetap ada pembatasan dan juga keberadaan aparat kepolisian di Kawasan masjid untuk membantu memperlancar pelaksanaan ibadah.

Universitas Muslim Indonesia menggelar idulfitri dengan jumlah terbatas. Itupun hanya untuk dosen, pegawai, dan juga karyawan. Tidak dibuka untuk umum. Masjid Menara UMI yang juga kantor rektorat digunakan untuk salat. Dengan tidak menggunakan pendingin ruangan, untuk mencegah penularan virus.

Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Makassar, dan Universitas Islam Negeri Alauddin, kampus Samata, semuanya tidak menyelenggarakan idulfitri. Disamping kampus yang sejak pandemi menggunakan metode pembelajaran daring. Mahasiswa juga sudah berada di kampung masing-masing.

Pandemi membawa penyesuaian. Bahkan dalam ibadah sekaligus. Ini senada dengan pernyataan Qasim Mathar, cendekiawan muslim, menyampaikan bahwa pandemilah yang menjadi “gong” dimana reformulasi kehidupan manusia.

Termasuk diantaranya idulfitri. Dimana perlu penyesuaian untuk menjadikan pelaksanaan ibadah berjalan tetapi tidak menjadi sarana penyebaran virus.

Dengan kelompok yang lebih kecil, justru kesempatan untuk bersosialisasi secara intens. Sekaligus, pengelolaan jamaah berada di klaster yang terbatas. Ini juga akan membantu dalam mengidentifikasi penyebaran virus, ketika terjadi masalah.