Apa pun itu, kami berpihak pada yang BENAR dan KEBENARAN. Kata-kata ini memang bertato (identik) dengan kedua media Papua terkenal, yakni Tabloid Jujur Bicara (Jubi) dan Suara Papua.

Seketika media terbesar Indonesia yang berdomisili di Jakara, seperti Kompasgagal meliput keadaan Papua secara menyeluruh, kedua media ini, Jubi dan Suara Papua (JS), selalu menyurvei dan mematroli seluk-beluk isu yang terjadi di bumi Papua (Merauke - Sorong).

Kedua media ini selalu mengedepankan problematika yang betul-betul kena pada orang dan tanah Papua itu sendiri, termasuk sejarah, politik, dan HAM-nya Papua.

Maka, tidak minus juga kalau sebagian orang Papua bilang kedua platform ini disebut-sebut sebagai konektor oksigen orang Papua. Mirip bapak bangsa Indonesia, Bung Karno, penyambung lidah rakyat Indonesia dulu. 

JS sangat penting dalam peran media di tanah Papua. Apabila kedua medium ini tidak ada 'eksistensi' di tanah Papua, pemerintah bisa saja membodohi Papua, apalagi masyarakat Indonesia melihat Papua saja sama seperti api versus air, ignorance - ketidaktahuannya lebih. 

Makanya, kedua media ini hadir untuk memaparkan ketidaktahuan dan ketidakpedulian kita sebagai sebangsa Indonesia terhadap Papua. Intinya, JS datang tidak hanya memperluas oksigennya Papua saja, tapi JS menambahkan napas kita orang Indonesia tentang ketidakpahaman kita terhadap persoalan Papua. 

Sayangnya, oleh karena pemberitaannya Suara Papua dan Jubi terlalu tajam dan benar, Jakarta pernah blokir kedua website melalui Kominfo. Tapi mereka berdua tidak kehabisan napasnya untuk tetap menulis konflik Papua, terutama masalah HAM di medianya.  

Saat Jakarta punya media-media membungkam masalah HAM dan sejarah - politik Papua, JS dapat menjabarkan hal-hal itu ke muka publik dengan journalism ways - cara-cara jurnalisme. 

Dan Ingat bahwa sementara JS meliput hal-hal sensitif seperti Papua Merdeka dan Organisasi Papua Merdeka (OPM), kita tidak memprediksikan Jubi dan Suara Papua adalah pendukungnya perjuangan Papua Merdeka. Saya menekankan imajinasi kita seperti itu adalah benar-benar salah total.

JS seolah-olah seperti tukang pencuri. Mereka dua cari pintu keluar yang lain setelah pintu utama dan jendela-jendela sudah tertutup habis. Mereka membongkar tempat dan hal-hal yang dikeramatkan oleh Jakarta.

Kenapa demikian? Karena, pertama, jika JS tidak ada di Papua dan tidak diberitakan suasana Papua yang sebetulnya terjadi, media-media nasional (Indonesia) gampang saja mengambinghitamkan rakyat Indonesia dan Internasional dan terutama orang Papua gara-gara pemberitahuannya selalu ambil narasumber dari satu sisi saja, TNI/Polri-Pemerintah.

Hasil pernyataan Jakarta tidak selalu benar. Dan paling sayang adalah masyarakat Indonesia masih saja percaya dari lembaga kekuasaan. Padahal merekalah yang kerap kali memproduksi berita ke-hoax-an.

Contohnya, ambil saja kasus Dogiyai kemarin. Setelah Suara Papua menayangkan berita DI Deiyai Aparat Hambur Tembakan 6 Orang Tewas, Kominfo dibantah dan dilabelkan bahwa berita itu adalah hoax, tidak benar. Lembaga kekuasaan seperti @Puspen_TNI juga melakukan hal yang sama pada Reuters - media asing.

Kemudian, menurut pemerintah dan serdadu, mereka menyebutkan hanya 2 orang Deiyai saja yang tertembak dan prajurit biasanya memberitahukan lebih ke mereka ketimbang warga masyarakat Papua - tidak seimbang. 

Nah, di situlah kedua media JS hadir menerobos tikungan ketidakmungkinan jadi mungkin tuk meliput. Saat berita korban Deiyai ditayangkan, internet sudah mati total dan beberapa hari kemudian layanan telkomsel call, SMS juga diputuskan.

Jelas bahwa JS adalah benar-benar oksigennya orang Papua. Mereka tetap jaya bahwa beritanya terpampang, headline-kan di situs Suara Papua dan Jubi walau jaringannya kacau balau. Napas Jubi dan Suara Papua tetap eksis sebagaimana biasanya.

Tentunya, JS dipublikasikan korban-korban dari pihak aparat maupun masyarakat secara akurat dan jelas. Itulah hal kelebihan lain dari kedua media ini bahwa JS selalu mengedepankan kode etik jurnalis (ambil data-data dari both side) sekalipun orang-orang terdekat mereka dibunuh negara. 

Mereka tidak pernah mengada-ada dalam penyajikan beritanya sesuka mereka, tidak. JS tidak seperti media dan pemerintah - Jakarta.

JS tetap pada jalur kebenaran dalam pemberitaan berita apa saja karena mereka mengira melebarkan suatu cara yang benar tanpa menyudutkan satu pihak adalah yang terutama, dalam hal ini antara Papua dan Jakarta dalam penulisan isu sejarah, politik, HAM Papua.

Barangkali, yang ketiga adalah kedua jurnalis Papua Barat (nama historis Papua termasuk Papua dan Papua Barat) seperti Victor Mambor dan Arnold Belau selalu mengeluarkan bau-bau satire kepada dunia maya. Tapi bukan hanya mereka dua saja, kutipan-kutipan sindiran selalu dilayangkan oleh seluruh crew jurnalis JS.

Tapi jurnalis-jurnalis JS menyindir terutama kepada media nasional. Alasannya karena media-media Jakarta ini pura-pura buta mata terhadap masalah yang dihadapi oleh orang Papua dan ambil data-data dari aparat semata dan bukan dari orang Papua. Di bawah ini adalah contoh kata-kata sindiran mereka:

"Cek-cek berita di Nduga tapi macam trada satu pun. Besok kalo aparat yang bicara, rame2 baki ciki untuk tulis. Ya kira2 begitulah media kita saat ini," kata Arnold Belau, pemimpin redaksi suarapapua.com pada akun Twitternya.

Lanjut Arnold dalam logat Papua, “Nanti kalo aparat su bikin rilis baru media2 lokal dan nasional tulis soal Gome ya! Tong su biasa deng media sperti ini.” Arnold bilang, “Nanti kalau aparat sudah bikin rilis, baru media-media lokal dan nasional tulis soal Gome ya! Kita sudah biasa dengan media seperti ini.”

Victor Mambor, Jurnalis senior Papua Barat di dinding Facebook-nya menulis, “Nah, siapa yg tukang hoax sebenarnya?” setelah berita terbaru dipostingkan di Jubi, Wakil Bupati Deiyai: 8 warga sipil tewas dalam insiden penembakan di Kantor Bupati. Sebelumnya, dalam 6 orang mati, Jakarta membantah. Sekarang siapa penyebar hoax setelah 8 orang meninggal?

Mungkin saya salah bahwa Victor, Arnold, dan semua awak media JS hanya menyambungkan napas tidak hanya kepada orang Papua dan persoalannya, tapi mereka mencoba menyuapkan oksigen kita (orang Indonesia) karena selama ini kita seakan hidup di dunianya Soeharto.

Kita mati dalam menerima informasi tentang Papua yang sebenarnya lantaran kita mengakui suara kekuasaan adalah yang murni dan benar. Terutama mereka yang selalu percaya sama sikap dan keterangan dari pihak pemerintah.

Sekarang, Anda paling tidak memahami bagaimana pemberitaan isu Papua kerja di dunia media. Penyebaran berita oleh otoritas mengenai masalah Papua tidak selalu murni. Jadi kita butuh analisa yang mendalam untuk memahami persoalan Papua. Salah satunya kita harus membaca berita dari Jubi dan Suara Papua.

Saat pemerintah pusat memerintahkan kelakuannya dengan meminta maaf dan Jakarta merasa salah pada perbuatannya, Jubi dan Suara Papua cuma bilang, “kami di sini setia menyempurnakan kalian menjadi manusia melalui publikasi media kami, sehingga tindakan berikutnya, Anda bisa belajar dari kesalahannya dan tidak berulang-ulang lagi.”

Saya juga baru percaya bahwa Jubi dan Suara Papua adalah napasnya Papua, tapi tidak. JS juga termasuk oksigennya masyarakat Indonesia yang haus dengan terima informasi yang benar dan akurat. Moga-moga Anda dan saya juga sekarang merasakannya bahwa JS adalah napasnya Papua dan Indonesia.

Gerangannya adalah JS memompa napas kita yang lagi kehabisan gara-gara mendengar dan membaca situasi Papua hanya lewat kaca mata Jakarta. 

Di situlah Jubi dan Suara Papua memberi kita oksigen yang murni untuk dapat melihat keadaan Papua yang sebenarnya sehingga kita tidak dapat mudah melebarkan berita hoaks di ranah publik - teristimewa konflik Papua.