Manusia silver adalah orang yang mewarnai semua bagian anggota tubuhnya menggunakan cat berwarna silver. Mereka mempunyai tujuan untuk mendapatkan simpatik seseorang, supaya orang tersebut mau menyumbangkan sedikit uangnya. Manusia silver itu salah satu kategori pengemis yang telah mengalami perubahan di masa pandemi. Lampu merah merupakan tempat favorit manusia silver beroperasi atau lebih tepatnya mencari nafkah. Kostum mereka itu sangat sederhana, yaitu hanya menggunakan celana pendek dan melumuri badannya dengan cat warna silver.

Mereka sering terlihat di persimpangan lampu merah kota-kota besar, setelah keluarnya peraturan pemerintah terkait pandemi. Semua aktifitas sosial dari jam kerja sampai waktu untuk rekreasi dibatasi. Dengan alasan dapat menanggulangi penyebaran covid-19. Bertepatan dengan munculnya peraturan diatas, banyak kalangan pengusaha yang mengalami kerugian dan banyak juga orang yang terkena phk. Yang mana orang kecil sangat kesusahan dalam bertahan hidup, jikalau tidak bekerja. Sekarang yang terjadi malah banyak karyawan atau buruh dipecat dan dirumahkan, hal tersebut akan membuat orang kecil makin terjerumus dalam jurang kemiskinan.

Sosok Manusia Silver

Seseorang yang bernama Alfian, Dia merupakan bagian dari kelompok manusia silver yang ada di Semarang. Ketika lampu berubah menjadi merah maka kendaraanpun akan berhenti, lalu dia mulai bergegas pindah posisi ke bagian paling depan. Dengan gaya khas manusia silver yang selalu menghormati setiap pengendara, tanpa ada kedipan mata.

Kemudian, Alfian mulai membungkukkan badannya untuk memberikan rasa hormat pada seluruh pengendara. Ketika hal itu sudah dia lakukan, maka selanjutnya dia akan menelusuri setiap kendaraan motor dan mobil yang berhenti untuk meminta sedikit imbalan berupa uang. Dia sudah melakukan seperti ini hampir setiap hari. Pendapatan dari hasil ngamen pun tidak begitu besar hanya 75.000 per-hari, dimulai sebelum jam 9 malam sampai jam 3 pagi.

Alfian seorang kepala rumah tangga, dia memiliki 3 orang anak yang masih kecil semua. Dan dia merupakan salah satu orang yang menjadi dampak kebijakan pemerintah tentang covid-19 pada tahun sebelumnya. Keinginan dia hanya satu yaitu bisa menyambung hidup bersama keluarga kecilnya, alhasil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dia bertekad menjadi manusia silver. Sebelum adanya kebijakan pemerintah, alfian bekerja sebagai sopir angkutan.

Alfian hanya memerlukan satu botol cat yang berwarna silver untuk melumuri seluruh bagian anggota tubuhnya. Botol tersebut berisi cat berwarna silver yang biasanya digunakan untuk pewarna baner, selain itu ada juga campuran minyak goreng. Tentunya pewarna semacam itu sangat tidak baik untuk kesehatan kulit. Mungkin kulit akan merasakan alergi, seperti gatal-gatal atau penyakit kulit lainnya.

Sebelum covid-19 melanda bumi tercinta ini, alfian bekerja sebagai sopir angkutan. Penghasilannya cukup untuk memenuhi kebubutuhan sehari-hari, alfian dalam sehari mungkin bisa mencapai 100.000 atau 150.000 per-hari. Tapi kondisi sekaranng sudah jauh sangat berbeda, bahkan untuk mencapai target pendapatan segitupun malah menjadi hal yang mustahil. Terkadang dalam sehari hanya memperoleh 25.000 saja, itupun dia selalu merasa bersyukur karena ada hasil yang bisa dibawa pulang.

Dengan pendapatan sekian, tentunya sangat tidak cukup bagi Alfian untuk bertahan hidup. Maka dari itu setiap pagi hari dia bekerja sebagai sopir angkutan, sedangkan malam hari dia beralih menjadi manusia silver. Hal itu  dia lakukan karena memang tidak ada jalan lain, apalagi jika berbicara tentang rasa malu. Maka dia tidak akan bisa menghidupi keluarga yang dicinta.

Lantas, bagaimana dengan program kerja pemerintah terkait bantuan? Alfian pun tidak pernah merasakan bantuan tersebut. Dia melakukan pekerja layaknya pengemis, bukan karena dia malas, tapi dia melakukannya dengan rasa terpaksa. Bahkan dia pun menolak untuk memilih jalan kriminal, supaya cepat memperoleh uang banyak dan cepat.

Alfian bukan satu-satunya orang yang merasakan dampak tersebut. Beberapa kebijakan pemerintah tentang covid-19 yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat malah membuat banyak orang semakin miskin dan terpuruk. Pada akhir 2020, Biro Pusat Statistik mengatakan bahwasannya angka tingkat kemiskinan di Indonesia telah mencapai lebih dari 20% jumlah penduduk Indonesia. Keadaan semacam ini tidak dapat diterima oleh negera dengan sumber daya alam yang melimpah dan budaya sangat besar seperti yang ada di Indonesia.

Kebijakan yang Salah

Jika melihat keadaan yang sudah disampaikan, hanya ada empat hal yang perlu menjadi pusat perhatian. Pertama, munculnya manusia silver di  kota-kota besar dan kemiskinan di berbagai daerah Indonesia merupakan salah satu dampak langsung dengan adanya kebijakan pemerintah, khususnya kebijakan tentang covid-19. Jangan sampai alasan untuk menjaga kesehatan malah ditangani dengan berbagai kebijakan yang menjerumuskan rakyat ke jurang kemiskinan.

Yang kedua, menurut praduga dan pengamatan saya, pemerintah sangat cerdik dalam membuat berbagai macam kebijakan yang menjerumuskan rakyatnya ke jurang kemiskinan, hal ini bisa terjadi karena negara mengikuti secara mata tertutup kecenderungan global. Berbagai macam negara juga sedang melakukan lock down untuk mencegah penyebaran covid-19 yang makin meluas. Namun, beberapa negara justru sudah mempersiapkan sistem jaminan sosial yang kuat, sehingga angka kemiskinan yang tinggi mampu ditangani, ketika hal itu terjadi. Maka hal semacam ini tidak akan pernah terjadi di Indonesia.

Kita terlalu mendewakan negara lain, tanpa melakukan pengamatan atau kritikan terlebih dahulu. Kita berusaha mencontoh negara lain, tanpa memiliki kesadaran tentang kondisi negara ini. Hal inilah yang menjadi kebodohan sehingga berdampak semakin tinggi angka kemiskinan di Indonesia. Sudah sepatutnya kebijakan semacam itu tidak dilakukan kembali.

Ketiga, hal tersebut sudah mendarah daging pada permasalahan sebelumnya, sehingga terjadi pemikiran yang tertinggal jauh dengan negara lain. Ketika beberapa negara sibuk membuat vaksin, negara kita malah mempermasalahkan cara wanita berpakaian. Ketika beberapa sibuk mengembangkan kemajuan teknologi, negara kita malah sibuk mengejar surge yang belum ada kejelasannya. Sembari mengejar surganya masing-masing, kita malah menindas yang namanya perbedaan, menimbulkan ketidakadilan sesame rakyat atau bebagai kelompok dan malah meningkatkan angka kemisinkan negara sendiri.

Keempat, cara pandang yang kuno akan berdampak panjang, yaitu rendahnya kualitas pendataan dan komunikasi dalam penentuan kebijakan. Tanpa menggunakan data yang akurat dan jelas, suatu kebijakan tidak akan memberikan efek. Tanpa komunikasi yang jelas antar lembaga membuat kebijakan nyata, justru akan membuat rakyat tetap bodoh dan miskin, meskipun miliyaran dana selalu mengalir, dan beberapa kebijakan dirancang secara matang. Jiwa korupsi yang masih menjadi ciri khas Indonesia sangat berpengaruh dalam kerusakan negara ini.

Bantuan sosial terkait covid-19 saja malah menjadi target korupsi untuk kalangan yang gila uang. Anggaran dana yang seharusnya bisa untuk menstabilkan ekonomi dan bidang kesehatan malah dimakan oleh tikus negara. Alhasil stigma masyarakat terkait penanganan pandemi oleh pemerintah adalah langkah yang gagal. Hal itu bertepatan dengan angka kemiskinan di Indonesia semakin tinggi. Di negara Indonesia covid-19 sudah bukan permasalahan krisis kesehatan, melainkan krisis korupsi yang dibarengi dengan buruknya kondisi perekonomian negara.

Suara jeritan sosok manusia silver di berbagai kota besar merupakan jeritan kemiskinan suatu negara. Mereka adalah jeritan dari sistem kebijakan pemerintah yang gagal dalam memberikan kemakmuran dan keadilan pada rakyatnya. Motivasi sangat dibutuhkan negara Indonesia terkait cara berpikir yang kebih rasional, berlandaskan pada hati nurani dan kritis saat memahami lingkungan sekitar, serta dalam mengeluarkan atau memutuskan kebijakan. 

Budaya yang membutakan mata itu adalah kultur lama dan harus ditinggalkan, baik persoalan budaya itu sendiri atau tentang agama, harus bisa dilepaskan. Jangan sampai jeritan manusia silver ini akan menimbulkan gerakan revolusi yang akan mengacaukan sistem tatanan negara, sedangkan negara ini sudah dibangun sebaik mungkin sejak zaman reformasi.