Dalam ilmu etika berkenaan dengan penialian atas tindakan baik atau buruknya manusia, terdapat suara hati yang berperan di dalam diri manusia. Sebelum manusia melakukan tindakan yang akan dilakukan oleh dirinya sendiri, tentu setiap orang akan mempertimbangkan terlebih dahulu.

Dalam proses pertimbangan ini bukan sekadar akal budi, kesadaran, dan kehendak bebasnya untuk melakukan suatu hal, melainkan pula ada peran suara hati di dalam proses ini. Suara hati merupakan suara yang muncul dalam hati manusia.

Pada bagian ini suara hati sangat berperan dalam menentukan tindakan yang akan dilakukan oleh setiap orang dan menilai tindakan yang telah dilakukan oleh setiap orang.

Mengingat hal tersebut, kali ini penulis akan menelaah mengenai fakta adanya suara hati dalam diri pelaku tindak kejahatan secara khusus berupa pembunuhan mutilasi yang dilakukan oleh sepasang kekasih kepada seorang manajer perusahaan.

Satu hal yang menjadi pertanyaan apakah ada suara hati dalam diri para pelaku pembunuhan mutilasi tersebut, sehingga mereka nekat membunuh korban dengan kekejian?

Kasus Mutilasi di Perumahan Permata Cimanggis, Depok, Jawa Barat

Berdasarkan berita dalam koran KOMPAS, Rabu 23 September 2020, hlm. 12 (Metropolitan) terjadi kasus pembunuhan pada 5 September 2020 yang dilakukan oleh sepasang kekasih yakni lelaki berinisial DAF (27 tahun) dan perempuan berinisial LAS (27 tahun) kepada korbannya berinisial RHW (33 tahun) yang adalah seorang manajer sumber daya manusia dan operasional sebuah perusahaan swasta.

Para pelaku hidup dengan finansial yang kekurangan, sebab DAF adalah seorang pengangguran dan RHW seorang pengajar bimbingan belajar dengan pendapatan yang sedikit.

Semuanya bermula dari rencana DAF dan LAS yang berkeinginan untuk mendapat uang banyak secara instan. DAF berperan sebagai pembunuh dan LAS berperan sebagai pencari korban melalui aplikasi kencan dan mengajak korban yang adalah RHW untuk bertemu di sebuah apartemen yang mereka sewa di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Sesudah LAS dan RHW datang dan berhubungan badan, DAF pun menyerang korban (RHW) dengan cara menusuknya dari belakang berkali-kali sebab RHW tidak mau menyebutkan PIN ponselnya. Tanggal 12-13 September, DAF dan LAS datang kembali ke apartemen dan memutilasi tubuh korban.

Berdasarkan pandangan Adrianus Meliala, Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia, DAF dan LAS merupakan pelaku pembunuhan mutilasi waras dan orang yang cerdas.

Para pelaku bisa saja tidak memutilasi korban dengan cukup mengubur dan kabur dari jangkauan polisi. Namun, mereka sadar bahwa akan meninggalkan banyak jejak. Para pelaku dinilai sangat memperhitungkan situasi, kondisi, tujuan, latar belakang, dan pelbagai pertimbangan sebelum melakukan tindakannya.

Menurut Jenderal M. Fadil Imran (Kepala Polda Jawa Timur), mutilasi merupakan hasil pertimbangan sederhana dan hanya demi kepentingan sesaat, yaitu memindahkan mayat atau membuat agar mayat tidak dikenali atau tidak diketahui orang lain.

Para pelaku mengabaikan pertimbangan perihal risiko yang akan terjadi selanjutnya yakni dengan hukuman serta tanggung jawab atas tindakan mereka.

Arti Suara Hati Manusia

Suara hati merupakan “suara” yang berasal dari hati atau pusat diri manusia yang paling dalam. Suara hati menegaskan benar/salahnya serta baik/buruknya tindakan manusia berdasarkan suatu prinsip atau norma moral.

Suara ini sering dikaitkan dengan suara yang berasal dari luar diri manusia, namun manusia dapat menolak atau mengabaikannya. Suara ini seringkali disebut sebagai suara Tuhan. Suara hati memiliki ciri personal dan adi personal.

Menurut John Henry Newman, suara hati merupakan gejala manusia dalam keterbatasan manusia dan menunjuk pada realitas yang mengatasi manusia, yakni Allah sebagai Yang Mutlak. 

Secara etimologis, suara hati berasal dari bahasa latin yakni conscientia, berasal dari akar kata conscire berarti “mengetahui bersama” atau “turut mengetahui”. Suara hati adalah instansi yang “turut mengetahui” perbuatan moral manusia.

Suara hati juga menjadi saksi dan hakim yang menjatuhkan penilaian dan putusan atas perbuatan manusia.

Suara hati merupakan suatu bentuk kesadaran manusia akan kewajiban moralnya dalam situasi konkret mengenai benar dan salahnya tindakan manusia dalam situasi tertentu berdasarkan hukum moral. 

Suara hati menjadi pedoman atau pegangan moral manusia dalam situasi konkret saat hendak mengambil keputusan untuk bertindak.

Fakta Adanya Suara Hati

Fakta adanya suara hati menjadi nyata dalam kesadaran akan kewajiban moral secara mutlak dalam diri setiap orang. Suara hati menyatakan diri sebagai semacam suara yang dengan penuh otoritas menegur bahkan mencela perbuatan seseorang. 

Suara hati dapat nyata sebagai suara untuk memuji, mendorong, atau menyetujui suatu tindakan seseorang dalam melakukan kewajiban moralnya. 

Suara hati menjadi pangkal otonomi manusia karena sebagai kesadaran langsung akan apa yang menjadi kewajibannya sebagai manusia dalam situasi konkret.

Suara hati menegaskan kebebasan manusia, yakni kemampuannya untuk menentukan diri tanpa tekanan.

Penegasan suara hati yang mampu mengalahkan godaan untuk sekadar ikut arus massa dan mengikuti dorongan spontan tersebut menampakkan kebebasan manusia dari kungkungan nafsu-nafsu sendiri. P

enegasan suara hati juga dapat bertentangan dengan perilaku yang dilakukan oleh masyarakat.

Fakta Adanya Suara Hati pada Pelaku Mutilasi

Dalam kasus pembunuhan mutilasi yang telah dilakukan oleh DAF dan LAS terhadap RHW menunjukkan bahwa DAF dan LAS masih dapat mempertimbangkan tindakannya. DAF dan LAS melakukan segala rencana dan tindakan kejahatannya dengan penuh kesadaran dan kebebasan tanpa adanya desakan ataupun ancaman dari pihak luar.

Suara hati merupakan suara yang berasal dari hati manusia. Ia berperan untuk memberikan pertimbangan sekaligus memberikan penilaian atas tindakan baik/buruknya manusia.

Fakta adanya suara hati yakni menegaskan kebebasan manusia dengan cara memampukan manusia untuk dapat menentukan pilihan dan keputusan tindakannya tanpa adanya tekanan dari pihak luar.

Dalam hal ini membuktikan bahwa adanya suara hati yang muncul dalam diri pelaku yakni mampu mempertimbangkan tindakannya dengan baik dan mampu untuk memutuskan tindakan tersebut untuk dapat dilakukan, yakni tindakan pembunuhan yang berakhir pada mutilasi.

Tindakan perampokan dan pembunuhan yang telah dilakukan oleh DAF dan LAS malah melalui pelbagai pertimbangan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya perencanaan sebelumnya untuk melakukan tindakan perampokan, pembunuhan yang berakhir mutilasi tersebut.

DAF dan LAS telah merencanakannya terlebih dulu dengan matang-matang dan strategi yang mumpuni. Pertama mereka mencari korban melalui aplikasi kencan. Kemudian DAF dan LAS menjebak korban di sebuah apartemen.

Akhirnya korban pun masuk dalam perangkap untuk dapat dirampok. Karena korban tidak mau menyerahkan PIN ponselnya akhirnya korban pun dibunuh dan dimutilasi untuk meninggalkan jejak pembunuhan. Hal ini menunjukkan bahwasanya masih ada proses kerja suara hati.

Masih ada proses pertimbangan sebelumnya dengan penuh kesadaran diri yang penuh tanpa adanya pengaruh tekanan dari faktor eksternal dan tanpa adanya kendali obat-obatan. Sebab suara hati menegaskan kebebasan manusia untuk mampu menentukan diri tanpa tekanan.

Namun, di samping hal tersebut fakta adanya suara hati ialah memampukan seseorang untuk mengalahkan godaan sementara dan menolak untuk mengikuti dorongan atas keinginan sendiri.  

Pada kasus pembunuhan mutilasi dan perampokan yang telah dilakukan oleh DAF dan LAS tehadap RHW merupakan tindakan yang tidak mampu mendengarkan suara hatinya dengan baik.

Para pelaku (DAF dan LAS) tidak mampu mengalahkan godaan sementara mereka yakni godaan untuk mendapatkan uang secara instan dengan permapokan dan pembunuhan mutilasi berencana. 

Para pelaku juga tidak mampu menolak untuk mengikuti dorongan keinginan sendiri dan tetap mengabaikan suara hatinya.

Sebab pada dasarnya suara hati merupakan suatu bentuk kesadaran manusia atas kewajiban moralnya dalam situasi konkret mengenai benar dan salahnya tindakan manusia dalam situasi tertentu berdasarkan hukum moral baik dan benar. 

Pada kasus ini, DAF dan LAS telah melanggar kewajiban moralnya sebagai manusia dengan penuh kesadaran.

Pengabaian suara hati juga telah dilakukan oleh DAF dan LAS. Mereka secara sadar telah mengetahui bahwa mereka kekurangan finansial untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Apabila mereka berpegang dan mendengarkan suara hati mereka, tentu suara hati akan mengarahkan pada keputusan yang sesuai dengan nilai dan kewajiban moral, mungkin bisa meminjam uang di koperasi untuk membuka usaha, mencari pekerjaan kecil-kecilan, atau membuka jasa lainnya, terlebih lagi LAS adalah seorang guru bimbingan belajar yang sudah dipercaya oleh lembaga.

Berdasarkan investigasi dari kepolisian, DAF dan LAS merupakan orang yang waras dan cerdas. Hal ini dapat diketahui oleh pihak kepolisian berdasarkan cara dan kronologi kejadian perkara.

Dengan adanya laporan demikian maka semakin jelas bahwasanya DAF dan LAS melakukan tindakan pembunuhan dan memutilasi korban dengan melalui pertimbangan secara sadar.

Hal ini sudah menunjukkan bahwa penegasan yang mereka pilih dengan suara hati dan kesadaran telah bertentangan dengan perilaku yang umumnya dilakukan oleh masyarakat.

Tindakan pembunuhan dan mutilasi tersebut merupakan tindakan pelanggaran akan kewajiban moral manusia. Sebab suara hati menjadi pangkal otonomi manusia karena sebagai kesadaran langsung akan apa yang menjadi kewajibannya sebagai manusia dalam situasi konkret.

Dengan pelbagai pemaparan tersebut semakin nyata bahwa ada suara hati yang masih muncul dalam diri pelaku pembunuhan mutilasi di Perumahan Permata Cimanggis, Depok, Jawa Barat, karena suara hati memiliki ciri personal dan selalu menjadi pedoman dasar sebagai kesadaran langsung bagi setiap manusia.

Kesimpulan

Etika merupakan sebuah ilmu yang mengkaji mengenai sikap dan perilaku baik dan buruknya setiap manusia. Dalam melakukan setiap tindakannya, manusia dengan penuh kesadarannya dipengaruhi oleh suara hati, baik dalam tindakan baik ataupun buruk.

Dengan adanya suara hati yang tertanam dalam diri setiap orang, manusia mampu mempertimbangkan setiap tindakannya. Pada kasus pembunuhan dan mutilasi oleh DAF dan LAS terhadap RHW menunjukkan bahwa masih ada suara hati yang berperan di sana, meskipun para pelaku melakukan tindakan kejahatan yang begitu keji.

Suara hati mereka masih nyata adanya sebab mereka masih membuat rencana dengan matang dan mempertimbangkan tindakannya dengan penuh kesadaran tanpa tekanan dan paksaan dari pihak manapun.

Maka dengan demikian, suara hati terbukti ada dalam diri setiap pribadi. Segala tindakan baik atau buruknya manusia dipengaruhi oleh suara, namun keputusan tindakan tergantung dari kebebasan dan kehendak diri sendiri yang bisa saja menerima/mengabaikan suara hati.

Namun yang jelas pasti, suara hati selalu mengarahkan pada jalan untuk mematuhi kewajiban moral yang baik dan benar.