1 tahun lalu · 396 view · 7 min baca menit baca · Agama 54759_31668.jpg

Studi Islam Interdisipliner Wajib Dikembangkan PTAI/PTAIN

Indonesia maju berkembang membutuhkan kerjasama banyak pihak. Selama ini poros kebijakan senantiasa berada dipundak penguasa, padahal tidak demikian sebenarnya. Kemajuan Indonesia porosnya adalah semua kalangan, dengan saling menundukkan identitas, saling membantu satu sama lain. Kontribusi dari segala penjuru negeri dapat menjadikan Indonesia semakin maju, berkembang, dan berdaya saing.

Tinggalkan semua ego, tantangan di masa depan lebih kompleks, teknologi semakin mutakhir, pengetahuan berkembang cepat, perlu respon yang cepat agar Indonesia tidak tertinggal oleh bangsa-bangsa lainnya. Untuk itu, semangat kolektifitas-lintas disiplin diperlukan demi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan, kita buktikan keragaman di Indonesia bukan sebagai sebuah ancaman, namun merupakan kekuatan untuk maju.

Kontribusi kaum cerdas cendikia sangat penting bagi Indonesia. Semangat keilmuan dengan tradisi khas keilmuan-keIndonesiaan jelas-jelas menjadi pemicu bagi kemajuan bangsa Indonesia. selama identitas keIndonesiaan kita tetap terjaga dengan baik, selama itupula Indonesia tidak akan pernah kalah dengan budaya manapun di dunia.

Kaum intelektual-santri juga turut memberikan sumbangsihnya bagi negeri ini. juga mereka kaum intelektual yang giat-tekun mempertahankan tradisi keilmuannya, sangat berpotensi memberikan arah bagi kemajuan dalam hal pembangunan di semua sektor. Indonesia memiliki kekayaan luar biasa, baik dari segi alamnya, hingga manusianya.

Kemajuan peradaban kini sangat komplek. Kemajuan itu meliputi beragam hal, baik teknologi, pengetahuan (science), hingga soal kemanusiaan (humanities). Peradaban itu bergerak, tidak tinggal diam. Siapa yang senantiasa bergerak pasti hidup dan terus berkembang. Sedangkan yang hanya puas dalam diam akan tertinggal, bahkan ditinggalkan.

Ilmu pengetuan juga demikian, ia terus bergerak dan berubah. Perubahan itu karena tuntutan zaman, semakin majunya pola pemikiran dan hal-hal baru yang berkembang. Untuk merespon hal-hal baru (new experience) dibutuhkan perangkat yang baru. Perangkat itu sifatnya beragam, tidak tunggal. Alasanya jelas, dengan satu perangkat tidak akan mungkin dapat menguraikan sekian banyaknya masalah, dibutuhkan keragaman perangkat, yakni multidisiplin keilmuan.

Islam itu diakui tunggal, namun penafsiranya beragam. Bahkan Islam kemudian ditafsirkan berbeda-beda pula oleh beragam kelompok. Hasilnya, Islam memiliki banyak varian. Keragaman perspektif ini menandakan Islam telah bermetamorfosa menjadi pengetahuan bagi banyak orang multidisiplin. Melalui lintas disiplin keilmuan, Islam kini turut berkembang.

Pemahaman keislaman (Islamic studies) yang masih monolitik akan terjebak pada pemahaman yang kaku dan rigid. Hasil dari penafsiran yang kaku melahirkan cara pandang dan sikap yang arogan bahkan menghalalkan kekerasan. multidisiplin ilmu dalam studi keIslaman keniscayaan dalam membawa peradaban Islam jauh lebih maju, toleran, dan berdaya bagi seluruh kehidupan manusia.

Perguruan Tinggi harus mewadahi setiap langkah perubahan peradaban. Perguruan tinggi adalah mercu suar bagi pengembangan ilmu pengetahuan lintas disiplin. Di dalamnya memuat riset berkelanjutan, itu semua membutuhkan perangkat yang multidisiplin.

Pengembangan perguruan tinggi menjadi keniscayaan melihat semakin kompleknya kebutuhan zaman. Untuk itu perguruan tinggi harus membuka cakrawala pengetahuan, dengan senantiasa merespon setiap perubahan. Melalui konektifitas lintas disiplin perguruan tinggi menjadi sumber bagi kemajuan, berkontribusi bagi kemanusiaan, dan berdaya bagi nilai-nilai kebangsaan.

Lintas disiplin ilmu kini kewajiban. Semua perguruan tinggi berkewajiban untuk membuka ruang-ruang baru, ruang dialog, ruang negosiasi, ruang diskusi, demi merumuskan perangkat yang baru pula. Hal ini karena hal-hal baru telah lahir, semakin mutakhir kemajuan teknologi, mestinya diiringi dengan kecepatan atas produktifitas keilmuan.

Studi lintas disiplin adalah kebutuhan zaman. Semua sektor pendidikan tinggi harus memiliki tolak ukur demi hasil keilmuan yang responsif terhadap perubahan yang terus bergerak. Termasuk ilmu-ilmu keIslaman (Islamic studies) di perguruan tinggi harus dikembangkan dengan merespon ilmu pengetahuan, baik sosiologi, antropologi, ekonomi, politik, dan kemanusiaan. Studi Islam tidaklah anti research (anti terhadap penelitian), sebaliknya khazanah studi Islam berkembang melalui penafsiran-penafsiran yang berkembang (kontekstual), dan itulah spirit produktifitas lintas disiplin yang harus selalu diwariskan.

Peran PTKI sangat penting di Indonesia. Perannya sangat erat kaitannya dalam membangun iklim haromis, tidak hanya dalam soal keilmuan namun juga dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan. Terbukti, para pakar keilmuan-Keislaman juga turut meramaikan lintas sektoral, baik sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Kontribusi pakar lintas disiplin ilmu menjadi ujung tombang bagi tertatanya kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.

Bahkan melalui profesionalitas para kaum intelektual dalam bidang keilmuan dapat berkontribusi bagi kepentingan dunia. Tidak hanya lokal tapi masa depan seluruh manusia. semua orang mengetahui dunia dilanda banyak konflik dan krisis kemanusiaan. 

Untuk menyelesaikan semua itu diperlukan perangkat keilmuan yang multidisiplin. Islam yang bertegur sapa dengan HAM, kemanusiaan, kebudayaan, dan masyarakat dunia. Melalui kontribusi keilmuan demikian, studi keilmuan-keIslaman benar-benar dapat menjadi ujung bagi lahirnya perdamaian dunia. Melalui keilmuan lintas disiplin perlu kembali diingatkan, bahwa produktifitas ilmu untuk kepentingan semua umat manusia.

Mengingat Islam di Indonesia itu unik dan dinamis. Pengalaman Islam di Indonesia adalah pelajaran penting bagi pengembangan studi-studi keilmuan-keIslaman. Kebudayaan menjadi faktor penting berkembang pesatnya Islam di Indonesia. Islam pertama kali masuk dan diterima di Indonesia, adalah melalui corong kebudayaan asli masyarakat pribumi, itu khas dan unik.

Islam tidak membawa-bawa corak di mana ia dilahirkan. Justru melalui proses pribumisasi itu Islam di Indonesia berkembang, bahkan nilai-nilainya yang rahmatan lil alamin dapat dengan mudah diartikan dan dipraktekkan. 

Buktinya, Islam datang di Indonesia tidak melalui perang, apalagi bercucuran darah. Islam datang dengan kesantunan, ketundukan kultural, dan kebijaksanaan. Dengan pengalaman ini saja, kita semua tahu Islam telah berkontekstualisasi kepada budaya baru, sehingga ia diterima, tanpa sedikitpun mengurangi nilai dan pesan kultural, Islam mampu menjadi agama mayoritas di Indonesia.

Pesan Islam yang “abadi” adalah rahmatan lil alamin. Prakteknya di Indonesia Islam menanamkan nilai-nilai moderat, saling hormat-menghormati satu sama lain. Tidak melakukan banyak tuduhan serta ancaman, melainkan dengan cara-cara santun dan bijaksana. 

Inilah akar lahirnya nilai moderat dalam kultur muslim di Indonesia. Spirit moderat ini tidak boleh hilang, justru harus selalu dikampanyekan. Tujuannya, untuk membangun sikap keagamaan yang moderat, sesuai nilai-nilai yang pernah diajarkan oleh Nabi, yakni santun, toleran, dan menghargai perbedaan.

Perguruan tinggi keagamaan Islam memiliki peranan penting dalam mengkampanyekan identitas keIslaman di Indonesia. Identitas itu berupa keIslaman yang moderat dan toleran. Melalui cara-cara keilmuan, model keIslaman di Indonesia layak menjadi kiblat bagi Islam dunia. Terutama mengenai cara bagaimana merawat keberagamaan kultur dan agama.

Islam di Indonesia berhasil menterjemahkan pesan-pesan keIslaman dalam praktek keseharian, dalam menjaga keharmonisan, dalam menjaga kerukunan antar suku, etnis, dan latar belakang yang berbeda. Spirit moderat dalam beragama di Indonesia mesti dikampanyekan lebih luas, tentang bagaimana konflik itu justru merugikan, berbeda dengan kerukunan akan melahirkan kerjasama demi masa depan kemanusiaan masyarakat dunia.

Maka, untuk mencermati setiap pengalaman baru (new experience) yang berkembang diperlukan re-kontekstualisasi tehadap pemahaman-pemahaman keilmuan-keIslaman. Kita lihat sampai saat ini konflik antar identitas, antar agama masih saja berlangsung. Krisis kemanusiaan ini tidak akan berakhir tanpa didasari dengan pendekatan-pendekatan yang multidisiplin. 

Untuk itu, pemahaman soal ilmu-ilmu keIslaman (Islamic studies), terutama di perguruan tinggai, harus bergerak kepada ranah yang lebih luas. Studi Islam di perguruan tingga harus naik level, dengan mengedepankan pendekatan yang beragam, tidak lagi terjebak pada satu disiplin keilmuan, namun harus menyapa serta merespon keilmuan modern yang turut berkembang.

Berabad-abad yang lalu, kita tahu telah terjadi konflik besar antar identitas, kemudian melahirkan kelompok Khawarij, Syiah, Qadariyah, Jabariyah, Muktazilah, dan seterusnya. konflik itu tidak sekedar bermuatan teologis, juga bermuatan politis-ideologis. Kejadian itu merupakan sejarah berdarah-darah yang mestinya tidak pernah kembali kita ulang.

kini, saatnya kita melahirkan kehidupan harmonis dalam internal umat maupun eksternal umat beragama. Kehidupan modern membutuhkan kerjasama kolektif lintas latarbelakang, jangan lagi membeda-bedakan suku budaya. Kita semua adalah sama-sama makhluk yang diciptakan, sebagai manusia yang menyadari pentingnya nilai kemanusiaan.

Kajian keIslaman, termasuk studi al-Qur’an, hadits, kalam, fikih, tasawuf, dan juga filsafat, perlu terus dikembangkan. Studi Islam harus merespon tantangan peradaban saat ini. kontekstualisasi pemahaman keagamaan mesti disesuaikan dengan ruang dan waktu. Di mana kita sekarang hidup, di sanalah kita membutuhkan proses kontekstualisasi.

Studi Islam harus bergerak, tidak boleh berjalan di tempat. Studi Islam bukan sekedar bicara hal-hal teologis-teosentris. Islam juga bicara hal-hal yang antropentris. Dan, itu yang sering luput dari pemahaman banyak orang. Pahamnya orang, Islam bicara soal keyakinan (akidah), dan selesai. Pemahaman ini membelenggu pemikiran untuk berkembang. Padahal, nilai-nilai keislaman itu luas, mencakup kemanusian, sosial, dan sebagainya.

Untuk itu, khazanah kajian keIslaman harus bergerak bersama dengan rumpun keilmuan lain, seperti ilmu sosial, humaniora, science. Dengan begitu khazanah studi Islam akan berkembang luas. Bahkan produktifitas keilmuan-keIslaman bisa semakin kaya dengan lahirnya corak keilmuan yang baru. 

Artinya, keilmuan dan realitas kekinian itu tidak bisa dipisah-pisahkan. Keduanya saling membutuhkan, jadi pengembangan terhadap keilmuan itu keniscayaan. Apalagi pendekatan yang multidisiplin keilmuan itu mutlak diperlukan demi kemaslahatan umat manusia.

Perlu diketahui, Islam kini telah berkembang beragam dengan berbagai pendekatan. Disiplin ilmu-ilmu keIslaman tidak lagi monolitik, melainkan multidisiplin. Kajian keIslaman harus diperkenalkan dengan perspektif yang berwarna-warna. Studi-studi keIslaman yang beragam itu akan memperkaya perspektif dan pandangan.

Dengan demikian banyak yang akan menyadari, bahwa Islam itu beragam penafsiran. Beragam pendekatan dan metodologi yang digunakan menghasilkan pemahaman yang berbeda. Namun, perbedaan itu bukanlah sumber perselisihan. Sebaliknya, perbedaan itu menjadikan kita saling menghormati satu sama lain. Manfaatnya, perbedaan pandangan dalam kajian Islam adalah pendorong bagi sikap yang terbuka dan toleran.

Demikian itulah alasan fundamental pentingnya kajian keislaman yang multidisiplin. Melalui kahazanah keilmuan-keislaman lintas disiplin, perguruan tinggi keagamaan Islam diharapkan menjadi garda paling terdepan menjaga nilai-nilai toleransi dan kebangsaan.

Melalui pendekatan-pendekatan yang komprehensif-interdisipliner kaum intelektual dapat berkontribusi bagi daya saing bangsa demi tatanan masyarakat yang saling menghormati satu sama lain. Diharapkan pula kontribusi ini tidak pernah berhenti dan terus bergerak, tentu untuk menjadikan Islam Indonesia menjadi kiblat bagi kajian keislaman yang multidisiplin di dunia.

Artikel Terkait