Sejatinya, pasti setiap anak sangat memerlukan arahan dari orang tua nya mengenai apa yang harus ia lakukan dan  apa yang akan ia pilih untuk masa depannya.

Orang tua yang baik seharusnya tetap membebaskan semua pilihan kepada anak. Namun, orang tua pun tidak boleh lepas tangan. Orang Tua tetap harus berperan mengawasi dan membimbing apapun yang anak lakukan dan pilih.

Sebagai orang tua juga jangan terlalu “kekeuh” dan mengikuti idealisme nya sendiri. Hal tersebut akan berpotensi membuat anak menjadi pribadi yang tidak percaya diri, pemalu, dan takut untuk mengemukakan pendapat dan apa yang ia inginkan.

Memang semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik dari yang paling baik untuk anak-anak mereka. Namun, orang tua juga perlu mendengarkan apa yang anak nya inginkan, karena itu adalah masa depan nya. Baru setelah itu orang tua dapat memberikan masukan dan nasehat, “ Kalau kamu pilih yang itu nanti kamu akan.....” “Kalau kamu mau jadi A kamu nanti akan berpotensi bekerja di ....” dan sebagainya.

Anak-anak terutama yang telah memasuki usia remaja pastilah sudah mulai dapat memilih ingin menjadi apa, apa yang ingin dia lakukan, apa kegiatan yang ia pilih dan sebagainya. Ketika memasuki fase tersebut, ada baiknya orang tua mendengarkan terlebih dahulu apa yang diinginkan anak mereka.

Terkadang ada orang tua yang selalu merasa bahwa pilihan nya selalu benar dan paling sesuai dengan anaknya. Kenyataannya, hal tersebut sangat bertolak belakang dengan keinginan sang anak. Hal ini akan menyebabkan anak akan terus merasa bahwa pilihannya selalu salah dan akan mendatangkan kegagalan karena itu adalah pilihannya bukan orang tua nya.

Contohnya saja ada anak yang berniat masuk jurusan berbasis teknik tapi orang tua nya justru mendoktrin anak tersebut untuk terjun ke dunia kesehatan.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal ini. Namun, saat anak tersebut masuk ke dalam ranah kesehatan yang mana itu bukan keinginan dan passion nya maka anak tersebut akan sangat tersiksa.

Sang anak harus selalu dipaksa memahami mengenai semua yang orang tua nya sukai tanpa memperdulikan apa yang anak tersebut inginkan. 

Jika sejak kecil anak tidak dibiarkan untuk memilih apa yang ia inginkan tentu dikemudian hari ia akan menjadi anak yang tidak percaya diri dan tentu akan selalu bergantung kepada orang lain atas apa yang ingin ia lakukan karena anak akan selalu dihantui perasaan “takut salah” dan “takut gagal”.

Padahal belum tentu apa yang ia pilih akan mendatangkan kegagalan. Bisa jadi apa yang orang tua nya pilih malah mendatangkan kegagalan.

Hal ini karena ketika anak menjalankan apa yang orang tua sarankan, ia hanya akan mengerjakan pekerjaan itu setengah hati dan terpaksa. Tidak ada orang tua yang mengharapkan masa depan kelam bagi anaknya. Namun, sikap idealis dari orang tua sendiri dapat mendatangkan malapetaka bagi anak mereka.

Anak yang terlalu dikekang oleh orang tua akan tumbuh menjadi anak yang pemalu dan sangat tertutup kepada orang lain. Anak tersebut juga akan sulit bersosialisasi dengan lingkungan sekitar karena merasa tidak percaya diri.

Jika hal ini diteruskan dikhawatirkan anak akan memberontak karena merasa tidak memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan hidupnya mau seperti apa. Anak akan selalu merasa diatur dan tidak diberikan celah untuk berkembang sesuai minat dan bakat yang dimilikinya.

Lebih parahnya lagi anak akan berpotensi melakukan apa yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh para orang tua. Anak dapat melampiaskan kekesalan dan rasa amarahnya di luar rumah yang mana hal tersebut akan sangat berbahaya karena tanpa pantauan langsung dari orang tua

Hal ini dapat diselesaikan dengan berkonsultasi kepada psikolog. Orang tua dan anak harus di berikan arahan mengenai masalah yang terjadi, dengan begitu anak akan dapat memaksimalkan apa yang ia minati dan orang tua diharap dapat memberikan dukungan atas apa yang anaknya pilih selagi itu positif.

Hubungan antara anak dan orang tua yang renggang juga dapat menjadi salah satu dampak jika orang tua terus menerus hanya terpaku atas apa yang ia inginkan tanpa mementingkan dan mencoba menerima apa yang putra putrinya inginkan.

Biarkan anak tumbuh menjadi dirinya sendiri, memilih apa yang ia inginkan selagi itu positif, dan menjalankan apa yang akan ia lakukan untuk masa depannya. Orang tua di sini berperan sebagai pendukung, pemberi nasihat, masukan, pendapat dan bahkan teman bercerita bagi putra putri nya.

Hal ini akan membuat anak merasa nyaman untuk bercerita mengenai apa yang terjadi dan apa yang akan ia pilih ke depannya bagi masa depan anak tersebut. Orang tua diharapkan dapat menjadi pemerhati dan pendengar yang baik bagi keberlangsungan pertumbuhan yang akan berpengaruh bagi masa depan anak.

Selagi yang dilakukan oleh anak tersebut baik, penting bagi orang tua untuk selalu mendukung pilihan dari anak tersebut. Dengan begitu anak akan selalu menganggap orang tua adalah “rumah” tempat ia berkeluh kesah, bercerita, dan mencurahkan isi hatinya.

"Orangtuamu tidak pernah ingin kamu menjadi seperti mereka tapi mereka ingin kamu menjadi lebih baik dari mereka.”