Seorang anak kecil, berusia kurang dari dua tahun, asyik berlarian sambil memainkan pedang. Seorang bapak, yang adalah kakeknya, mengikuti dengan lincah gerakan cucunya itu. Bermain pedang-pedangan, menendang-nendang bola. Gambar lain menunjukkan sang Kakek menemani cucunya bermain air di kolam renang.

Di gambar lain, kelihatan seorang anak naik kereta api mainan di sebuah mall di Kota Solo. Kereta mainan itu menjadi alat berbagi kebahagian antara kakek dan cucu. Semuanya berjalan alami. Meski banyak orang memandang dan menatap kagum peristiwa yang sedang terjadi.

Sebuah peristiwa yang normal saja sebenarnya. Seorang kakek bermain dengan cucunya. Sebuah bentuk relasi yang berjalan apa adanya. Tetapi, tidak demikian halnya peristiwa yang satu ini. Kakek dan cucu dalam video itu adalah Presiden Jokowi dan cucu pertamanya, Jan Ethens Sri Narendra.

Video blog Presiden Jokowi edisi liburan dengan bermain bersama cucu itu, diakhiri dengan kalimat, “bahagia itu sederhana”. Jika dimaknai lebih lanjut, tidak perlu sesuatu yang luar biasa untuk mendapatkan kebahagian.

Kebahagian dapat dicapai dengan menerima hal-hal kecil yang menyenangkan. Hal-hal kecil yang tidak memerlukan tempat yang wah dan suasana yang hebat atau bahkan kerumunan yang luar biasa.

Dalam konteks Yin and Yang, dimana setiap hal di dunia ini diciptakan berpasangan, maka kebahagian itu punya ‘rekan’ bernama stres. Ternyata, untuk menjadi stres, itu pun sederhana saja. Jika menjadi bahagia itu sederhana saja, menjadi stres pun juga sederhana. Tidak percaya?

Simak saja ucapan-ucapan para pembenci Jokowi. Dengan secara konstan membenci Jokowi, dapat diketahui bahwa stres itu sederhana. Mereka ‘membenci’ Jokowi sedemikian dalamnya, sehingga setiap tindakan Jokowi mendapat tanggapan yang bertentangan. Tanggapan bertentangan ini tampaknya muncul dari stres yang sederhana itu. Untuk menjadi stres, cukup ciptakan kebencian abadi. Lihatlah bukti-bukti berikut.

Ketika Jokowi mengirimkan bantuan ke pengungsi Rohingya yang terusir dari negaranya di Myanmar, dikatakan itu pencitraan. Siapa yang mengatakannya? Siapa lagi kalau bukan kelompok Fadli Zon. Alasannya, terlambat memberikan dan jumlahnya terlalu kecil. Padahal, bantuan yang diberikan tidak hanya terkait dengan barang yang dikirimkan, tetapi juga diplomasi maraton yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri untuk mengatasi permasalahan ini.

Bantuan juga sudah dilakukan lama sebelum peristiwa kemanusiaan ini menjadi membesar seperti sekarang. Di samping bantuan negara secara langsung, juga ada dukungan dari berbagai lembaga kemasyarakatan.

Yang lebih konyol lagi, isu Rohingya ini hendak dipakai untuk menggoyang pemerintahan Jokowi. Isu-isu yang lekat dengan agama ingin dimainkan lagi. Sayang, tidak terjadi gelombang yang diharapkan. Pemrakarsanya dan juga pendananya dipastikan stres.

Mundur ke belakang, terkait program pembangunan infrastuktur besar-besaran yang dilakukan Jokowi. Masih dari ‘gelombang’ yang sama, mereka menyatakan bahwa Jokowi tidak memperhatikan rakyatnya.

Pendapat yang ngawur ini ternyata berasal dari stres yang sudah berkarat. Pembangunan infrastruktur yang tertinggal puluhan tahun harus dikebut dan diprioritaskan untuk mendapatkan manfaatnya kemudian bagi rakyat. Pendapat yang diutarakan sama sekali tidak didasarkan pada logika berfikir yang linier, tetapi cenderung menyimpang.

Rekan Fadli Zon yakni Fahri Hamzah, bisa jadi mengalami penularan dari rekannya itu. Beberapa kali mengkritik Jokowi dengan cara berpikir antik karena stres. Stres, yang mungkin karena posisi tidak berpartai yang kini dialaminya. Fahri mengatakan tidak ada gunanya membangun pos perbatasan yang megah. Lanjutannya, tidak ada gunanya kalau masyarakat masih tidak sejahtera.

Setali tiga uang dengan Fadli, Fahri tidak juga paham bahwa jika tidak ada fasilitas yang memadai, kesejahteraan masyarakat tidak dapat dibangun. Dengan ‘megah’nya pos lintas batas itu, setidaknya proses administrasinya juga menjadi lebih baik dan proses transaksi di perbatasan lebih meningkat. Siapa sih yang tidak suka dengan sesuatu yang bagus? Ini akan mendorong selanjutnya kegiatan ekonomi antarnegara di perbatasan.

Satu lagi yang bermuatan stres ini, yakni protes soal pemindahan subsidi pemerintah dari sektor konsumsi ke sektor produktif. Ini memang sepertinya hanya ‘ego’nya saja. Soalnya, seolah dia memperhatikan kesejahteraan rakyat.

Justru memindahkan subsidi ke sektor produktif dalam jangka panjang akan lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tetapi, memang politikus biasanya berpikirnya jangka pendek. Soal lima tahunan. Bukan soal kelanjutan negara ini. Mungkin juga dia sedang stres.

Belum lama, Fahri juga mengkritik KPK. Tetapi dalam nuansa stres. Dia mengatakan bahwa sebaiknya KPK dibubarkan saja supaya negara ini aman. Tidak bisa dipahami alur berpikir seperti apa yang digunakannya. Algoritmanya melampaui segala logika dan linieritas pemikiran.

KPK yang berkerja keras mengganyang para pencuri uang rakyat melalui operasi tangkap tangan itu, dianggap pengacau negara ini. Membuat pejabat tidak bisa bekerja dengan tenang. Mungkin itu pemikirannya dia.

Iya, bekerja dengan tenang untuk memuaskan ‘dahaga kerakusan’ anggota DPR. Setidaknya dengan terjadinya permintaan kenaikan anggaran tiap tahun. Tidak hanya di tingkat pusat, tetapi juga di tingkat daerah. Kenaikan anggaran berarti kenaikan ‘kenikmatan’.

Satu hal yang paling fenomenal dari bentuk stres ini, yakni ketika dalam suatu talk show, Fahri ditanya cara untuk menyelesaikan kasus-kasus korupsi di negeri ini. Dengan gagah berani, tanpa malu dan keluar dari barisan panel pembicara, Fahri mengatakan dengan lantang, “Jadikan saya presiden, beres semua masalah korupsi!”

Menggema suaranya menembus kesadaran khalayak dan akhirnya semua bertepuk jidat. Karena jelas sekali stres tingkat tinggi sedang melandanya.

Pernyataan kosong dari politisi Senayan tak berpartai ini jelas-jelas menunjukkan kualitas berpikir yang amburadul bin berantakan. Tidak jelas jalan keluarnya, tetapi suaranya jelas kencang tanpa malu menunjukkan anomali logika.

Opini-opini melenceng dari Fadli Zon dan Fahri Hamzah selalu muncul setiap Jokowi mengeluarkan pernyataan dan juga kebijakan. Tetapi, bisa dibaca, setiap kebijakan Jokowi pasti berurusan dengan kepentingan rakyat yang berbasis pada output-based performance, governance yang baik, dan juga transparansi yang mutlak.

Kondisi yang diciptakan Jokowi menjadi tidak menarik bagi para pihak yang banyak bermain dalam wilayah ‘gelap’ yang menjanjikan permaian kongkalikong yang menguntungkan. Sehingga ketika ada pernyataan dari Jokowi, kelompok pembenci ini akan berupaya meng-counter dengan argumentasi yang sering kali seadanya alias asal bunyi.

Pada dasarnya, praktik ‘oposisi’ yang digunakan bukan didasarkan pada kepentingan rakyat. Bukan praktik oposisi yang berdasarkan kepada kepentingan masyarakat luas. Tetapi oposisi yang dijalankan oleh Fadli Zon dan Fahri Hamzah dan kelompoknya, cenderung pada oposisi asal-asalan yang didasarkan pada keegoisan.

Oposisi yang asal beroposisi, karena sudah menumpuknya ketergangguan yang diakibatkan kebijakan Jokowi. Oposisi yang berujung pada pertanyaan khalayak, “Opo sih?”. Pertanyaan yang bermakna, “pernyataan kamu gak jelas!”

Dari masa tiga tahun pemerintahan Jokowi dan kesetiaan ‘kritik’ pemerintah oleh kelompok ‘oposisi’ yang digawangi duet Fadli dan Fahmi, jelas terlihat betapa ‘kebencian’ yang dipicu oleh kerugian-kerugian yang diakibatkan kebijakan Jokowi berujung pada tingkat stres yang tinggi dari para politisi-politisi itu.

Stres yang tinggi ini berakibat pada kegundahan yang berkepanjangan. Ketidaknyamanan yang tidak berkesudahan. Penderitaan yang tidak berujung, setidaknya, selama Jokowi berkuasa. Tetapi, jangan-jangan itu cara mereka menikmati hidup?

Satu pamungkasnya adalah ketika dikritik bahwa kinerja DPR sangat buruk setidaknya dari produk undang-undang yang harus dibuat, masih dengan pola berpikir yang antik, mengatakan itu karena Jokowi tidak menciptakan suasana kerja yang kondusif. Bah!

Coba, ini hasil pemikiran dari orang yang stres, bukan? Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa stres itu memang sederhana. Sesederhana kebahagian itu sendiri. Caranya, bencilah seseorang itu sampai tulang sumsummu. Sederhana, kan?