Trias Kuhcahyono, seorang pemerhati masalah politik internasional dari Middle East Istitute, menulis opini berjudul “Ancaman Serigala Kesepian” pada Harian Kompas halaman 7.

Hal itu tentu saja mengingatkan saya akan terjadinya aksi rusuh para pendemo yang terjadi di Jakarta. Demo yang dipicu dari kemarahan dan atau sikap tidak terima tim pemenangan atau barisan kelompok pendukung pasangan Capres dan Cawapres yang kalah.

Adalah pasangan Capres dan Cawapres yang kalah, yaitu Pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi dari Pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 01 Jokowi-Amin dengan masing-masing perolehan suara, yaitu paslon 02 44,50 persen suara dan paslon 01 memperoleh 55,50 persen suara.

Hasil hitung itu disampaikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Selasa dini hari 21 Mei 2019. Diikuti dengan paslon 02 yang memberikan keterangan pers pada tanggal yang sama, bersama dengan sejumlah media dan wartawan di kediaman Prabowo, Kartanegara, Jakarta Selatan.

Dalam keterangannya, Prabowo menyampaikan bahwa paslon 02 Prabowo-Sandi menolak hasil rekapitulasi KPU dan memutuskan untuk mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Terkait adanya indikasi sengketa perselisihan pemilihan presiden (pilpres)

Aksi Demo 22 Mei

Gugatan paslon 02 ke MK dan sikap yang menolak hasil rekapitulasi yang dikeluarkan KPU penulis menilai sangat disayangkan. Mengingat pasca pemilihan serentak yang dilangsungkan pada tanggal 17 April 2019 telah lewat dan rakyat Indonesia telah bersama-sama berupaya mewujudkan perwujudan dari Demokrasi itu sendiri dan semua pihak sudah turut terlibat dan mengkawal agar proses pemilihan ini jauh dari kecurangan.

Terlebih bagi KPU sendiri dengan sudah banyak kehilangan tenaga pribadi juga telah kehilangan banyak nyawa KPPS-nya. Dan hal itu bukan main-main, melainkan pertaruhan demi tanggung jawab yang sudah ditugaskan untuk menyelesaikan hasil rekap perolehan suara.

Namun dalam keterangan pers yang disampaikan Prabowo bahwa paslon 02 Prabowo-Sandi menolak hasil rekapitulasi KPU dan akan mengajukan gugatan ke MK agaknya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali berpikir dan mengevaluasi diri. 

Apakah hal ini memang benar-benar dibutuhkan saat-saat ini? Ketimbang kita tetap menjaga kedamaian di negara kita ini? Tidakkah kita telah sama-sama mengawalnya? Dan kita sama-sama patuhi aturannya yang berlaku.

Tidak terima dengan hasil perolehan suara dan mengedepankan ego pribadi daripada nasib rakyatnya adalah satu sikap yang kurang pantas bagi calon presiden. Dan dengan kekalahan itu pula tampaknya kelompok pendukung Prabowo memanas dan melakukan aksi pada 22 Mei. Semula aksi itu dikonsep adalah aksi damai bersama yang walaupun berujung ricuh.

Menyikapi aksi yang berlangsung ricuh tersebut Prabowo meminta kepada pendukungnya agar tidak melakukan kekerasan dan tetap berlaku sopan kepada aparat penegak hukum. “Hormatilah para aparat penegak hukum dan jangan sekali-kali menggunakan kekerasan,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Johnny G Plate mengingatkan, masyarakat perlu mewaspadai kemungkinan adanya pihak lain atau ‘penumpang gelap’ yang memanfaatkan situasi dalam negeri dengan memicu kegaduhan serta keresahan. Pasalnya, Prabowo telah memintakan agar massa menjalankan aksi secara damai, tetapi kericuhan tetap terjadi.

Ancaman Lone Wolf

Hingga Rabu malam, Polda Metro Jaya telah menangkap 257 orang yang diduga menjadi provokator bentrokan massa dengan aparat keamanan. Mereka ditangkap di tiga lokasi, yaitu depan Gedung Bawaslu (72 orang), Pertamburan (156 orang), dan Gambir (29 orang)

Meskipun perusuh telah diringkus, masyarakat tetap harus waspada akan kerusuhan-kerusuhan susulan. Mengingat kekhawatiran yang disampaikan Jhonny G Plate di awal mewaspadai kemungkinan adanya pihak lain atau penumpang gelap.

Penumpang gelap bisa jadi siapa saja dan darimana saja. Dan penumpang gelap ini jugalah yang agaknya mendorong Trias Kuncahyono menuliskan opini dengan judul ‘Ancaman Serigala Kesepian’. Menurut anggapan penulis.

Serigala kesepian menurut penulis adalah representatif dari seorang diri yang panas dan beringas dalam keadaan sendiri dan sepi. Sepi dalam artian merasa sendiri di antara orang ramai. Dalam hal ini entahkah si serigala yang memerintah orang lain atau serigala memimpin langsung operasi tersebut.

Aksi yang tadinya diharapkan secara damai rupanya berubah ketika di lapangan. Aksi berubah dramatis. Barangkali dalam persiapan aksi telah di-setting lone wolf. Yang apabila dengan serangan kelompok terlalu condong riskan, maka akan menggunakan metode lone wolf (serangan pribadi/individu)

Salah satu teori lone wolf yang paling populer adalah dikemukakan oleh Ramon Spaaji (2010) yang kemudian disebut teori Spaaji. Dalam analisisnya, dia menemukan tiga karakteristik utama pelaku atau teroris, yaitu beroperasi secara individual, bukan milik kelompok atau jaringan teroris terorganisasi, dan modus operandinya diarahkan oleh individu tanpa ada komando atau hierarki langsung di luar.

Raffaello Pantucci (Maret 2011) mengidentifikasi empat jenis teroris model lone wolf. Pertama, The loner adalah individu yang melakuka aksi terorisme dengan sampul ideologi ekstrem. Kedua, The lone wolf melakukan aksi individu tanpa dorongan nyata dari luar meskipun pernah kontak atau ikut pelatihan.

Ketiga, The lone wolf pack melibatkan sel kecil teroris yang beroperasi independen dan meradikalisasi sendiri dan terakhir The lone attacker beroperasi sendiri, tetapi menunjukkan komando ataupun hubungan kontrol yang jelas dengan kelompok yang berafiliasi. (Kompas edisi 23 Mei 2019)

Singkatnya, terorisme tipe lone wolf ini melakukan tindakan kekerasan oleh dorongan individu yang meradikalisasi diri dan merancang serangan untuk memperjuangkan ideologinya.

Ancaman serigala kesepian yang dituliskan oleh Trias agaknya mengarahkan kita (masyarakat) Indonesia untuk tetap waspada dan mawas diri kalau-kalau ada kerusuhan susulan dengan metoda lone wolf.

Dan di balik itu semua, penulis mengajak kita semua dan berpesan agar mari sama-sama saling menjaga dan merawat bangsa kita Indonesia. Rasanya tak satu pun ada individu yang menginginkan kerusuhan dan perpecahan dalam satu tubuh, yaitu tubuh Indonesia. Kecuali orang-orang tertentu yang barangkali tidak cinta tanah airnya.

Mewujudkan Indonesia sebagaimana yang dicita-citakan para pendiri bangsa sebelumnya dapatlah kita wujudkan dengan banyak cara dan tidak melulu harus menjadi seorang Presiden yang justeru anggapan penulis bahwa menjadi Presiden itu lebih banyak tidak bertindak ketimbang orang-orang yang mampu menyentuh langsung bidang-bidang yang perlu dikembangkan.

Bersatulah, Indonesiaku.