Feminisme (tokohnya disebut feminis) adalah sebuah gerakan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan haknya dengan pria. Feminisme berasal dari bahasa Latin, femina atau perempuan. 

Istilah tersebut mulai digunakan pada tahun 1890-an, mengacu pada teori kesetaraan laki-laki dan perempuan serta pergerakan untuk memperoleh hak-hak perempuan. Secara luas, pendefinisian feminisme adalah advokasi tentang kesetaraan hak-hak perempuan dalam hal politik, sosial, dan ekonomi.

Gerakan feminisme dimulai sejak akhir abad ke-18 dan berkembang pesat sepanjang abad ke-20 yang dimulai dengan penyuaraan persamaan hak politik bagi perempuan. Tulisan Mary Wollstonecraft yang berjudul A Vindication of the Rights of Woman dianggap sebagai salah satu karya tulis feminis awal yang berisi kritik terhadap Revolusi Prancis yang hanya berlaku untuk laki-laki namun tidak untuk perempuan. 

Satu abad setelahnya, yaitu di Indonesia, Raden Ajeng Kartini ikut mengeluarkan pemikirannya mengenai kritik terhadap perempuan Jawa yang tidak diberikan kesempatan mengecap pendidikan setara dengan laki-laki selain dari kritik terhadap kolonialisme Belanda.

Di akhir abad 20, gerakan feminis banyak dipandang sebagai sempalan gerakan Critical Legal Studies, yang pada intinya banyak memberikan kritik terhadap logika hukum yang selama ini digunakan, sifat manipulatif dan ketergantungan hukum terhadap politik, ekonomi, peranan hukum dalam membentuk pola hubungan sosial, dan pembentukan hierarki oleh ketentuan hukum secara tidak mendasar.

Feminisme bukanlah paham yang mengajarkan salah satu pihak harus berada dalam posisi yang lebih tinggi dari yang lain. Tetapi para kaum feminis tujuan utamanya adalah menyetarakan derajat para kaum lelaki dan perempuan. 

Pasca Orde Baru, adalah era di mana sebenarnya perempuan mengalami pencerahan baik dalam akses informasi dan kesempatan seluas-luasnya dalam melakukan suatu hal. Namun paradoks kemudian memunculkan tanya: mengapa jika feminisme bertujuan mulia untuk menggugah kesadaran perempuan untuk berani melakukan penawaran dalam relasi power laki laki dengan perempuan.

Walaupun pendapat feminis bersifat pluralistik, namun satu hal yang menyatukan mereka adalah keyakinan mereka bahwa masyarakat dan tatanan hukum bersifat patriaki. Aturan hukum yang dikatakan netral dan objektif sering kali hanya merupakan kedok terhadap pertimbangan politis dan sosial yang dikemudikan oleh idiologi pembuat keputusan, dan idiologi tersebut tidak untuk kepentingan wanita.

Kelompok feminisme juga kelompok yang membela hak hak perempuan, dalam hak untuk tinggal dan hidup, hak untuk berbicara, hak untuk bersuara dan hak hak lainnya seperti bagaimana caranya agar kaum perempuan tidak semudah itu didiskriminasi di manapun, khususnya di Indonesia.

Biasanya kaum perempuan selalu didiskriminasi oleh kaum lelaki karena mereka menganggap kaum perempuan itu selalu lemah, tidak bisa bekerja, dan tidak bisa melakukan pekerjaan berat seperti layaknya lelaki. Padahal sebenarnya perempuan dan lelaki itu keberadaannya setara. 

Pada umumnya, perempuan juga berhak mendapatkan hal-hal yang sama dengan kaum lelaki. Itulah tugas para kaum feminis, yaitu menyetarakan hak-hak laki laki dan perempuan dan memperjuangkannya agar masyarakat tahu bahwa kaum perempuan tidak selalu lemah.

Di Indonesia, strategi feminismenya adalah untuk dapat merealisasikan aspirasi dan partisipasi dalam pembangunan. Maka dari itu, diperlukan berbagai strategi untuk mencapai sasaran tersebut sebagai berikut :

(1) Wanita turut menyuarakan perbaikan ekonomi skala nasional yang dapat segera menciptakan lapangan pekerjaan yang dibutuhkan bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan. Perlu penggalangan semua potensi, baik laki-laki maupun wanita dalam pembangunan negara dalam menghadapi era globalisasi berdasarkan “mitra kesejajaran”. Kemiskinan dan pengangguran akan merupakan potensi mundurnya kualitas bangsa.

(2) Menggertakan pengembangan dan peningkatan pendidikan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta berbagai pelatihan harus berlandaskan iman dan takwa yang memancarkan syiar Islam. Canangkan pendidikan seumur hidup (long life education) yang bersifat terbuka.

(3) Meningkatkan supremasi hukum, maksudnya dengan melengkapi peraturan yang belum mencapai sasaran, meningkatkan pengawasan dan pengendalian serta memberikan sanksi terhadap para pelanggar hukum yang setimpal demi kesejahteraan rohani, jasmani, dunia dan akhirat.

Perempuan Indonesia, menurut data yang bisa dilihat pada zaman sekarang, semakin modernnya dan semakin majunya dan dikarenakan ada globalisasi juga maka perempuan dapat dilibatkan dalam berbagai peran, seperti dalam kancah politik, bisnis, dan teknologi. Perempuan juga harus mendapatkan hak yang setara dengan laki laki tidak hanya di bidang itu saja, tetapi juga hak untuk berbicara, hak untuk bersuara, dan hak untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan laki laki. 

Baca Juga: Feminisme Semu

Dalam peran politik kaum ini (kaum feminis) memiliki kemungkinan dapat menyukseskan kepentingan suatu partai atau kepentingan yang lain. Dalam bisnis selain kaum perempuan dapat berperan sebagai pencipta komoditas sekaligus konsumen. 

Dalam aspek teknologi, selain sebagian besar pengguna (user), juga dapat berperan sebagai tenaga kerja. Peran perempuan dalam bidang sosial, hingga saat kini masih dalam proses pencapaian mitra sejajar baik dalam bidang pendidikan maupun bidang usaha.

Referensi: