Salah satu unsur terpenting pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) adalah peserta didik. Peserta didik merupakan salah satu komponen penting dalam pembelajaran. Tanpa kehadiran peserta didik proses KBM kehilangan makna bahkan tidak dikatakan adanya kegiatan KBM. 

Disamping siswa, komponen lainnya yang juga amat penting adalah unsur guru dan tentunya fasilitas pendukung lainnya yang memberikan makna esensial dalam proses pembelajaran, tidak dapat diabaikan seperti tata tertib, jadwal dan lain-lain.

Tetapi peserta didik dapat dikatakan sebagai komponen primer atau komponen yang utama. Dalam pelaksanaan KBM agar berjalan secara efektif, tentunya diperlukan beberapa cara atau strategi agar tujuan pembelajaran berhasil dan tepat sasaran. 

Peserta didik sebagai user atau pengguna layanan pendidikan dapat merasakan keberhasilan belajar dalam memperoleh ilmu pengetahuan dari proses yang telah diajarkan oleh guru sebagai media utama dalam memberikan ilmu.

Dalam implementasi penyampaian materi pelajaran unsur peserta didik sangat penting. Dalam rangka mendorong dan mengembangkan kemampuan aktivitas peserta didik, guru harus mampu mendisiplinkan peserta didik terutama disiplin diri sendiri (self discipline). 

Guru atau tenaga pendidik dituntut harus mampu membantu sepenuh hati peserta didik dalam mengembangkan pola perilakunya agar terbentuk sikap disiplin yang secara spontan dapat dilakukan tanpa dipaksakan.

Sikap disiplin ini terbentuk dan menjadi karakter yang melekat pada diri peserta didik, setelah secara intens dibimbing dan dikembangkan oleh guru secara rutin, teratur, terarah dan terpadu. 

Pembentukan pola disiplin peserta didik dalam belajar tidak bisa terwujud secara instan atau seketika, tetapi harus penuh dengan ketelatenan, ketekunan dan kesabaran guru dalam proses pembimbingannya. Disamping itu juga perlu ada sentuhan perasaan, agar peserta didik benar-benar tergerak hatinya untuk berperilaku disiplin dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mendisiplinkan peserta didik menurut E. Mulyasa (2013: 46), dalam kegiatan belajar mengajar perlu dimulai dengan prinsip yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yakni sikap demokratis, sehingga peraturan disiplin perlu berpedoman kepada hal tersebut, yakni dari, oleh dan untuk peserta didik, sehingga dalam hal ini guru cukup bersikap tut wuri handayani.

Dalam hal ini guru harus memerankan diri sebagai pengemban ketertiban yang patut digugu, ditiru, dan diteladani, tetapi tidak bersikap otoriter. 

Sikap mengayomi, membimbing dan mengarahkan adalah hal cukup efektif diterapkan oleh guru dalam mendisiplinkan peserta dibandingkan dengan sikap mendisiplinkan yang rigid, represif dan berbau semi-militeristik. Prinsip disiplin untuk diri sendiri (self discipline) adalah prinsip yang sesuai bagi perkembangan peserta didik.

Disamping itu juga dapat menimbulkan sikap tanggung jawab, apabila peraturan sebagai upaya menumbuhkan sikap disiplin tersebut dibuat oleh pesereta didik atas bimbingan guru, karena merasa bahwa aturan itu adalah sesuai kebutuhannya. 

Tidak sedikit terkadang ada guru yang menyalahkan peserta didik, apabila tidak berhasil dalam belajar, dan sikap tidak disiplin sebagai "kambing hitam" tertuduh dan dipersalahkan, padahal kegagalan dalam pembelajaran tidak sepenuhnya karena faktor kedisiplinan peserta didik. Bisa saja penyebab lain seperti ketidaktuntasan guru dalam mengajar, sehingga materi yang diujikan tidak tersampaikan.

Selanjutnya dalam upaya mendisiplinkan peserta didik, menurut Reisman and Payne, sebagaimana dikutip oleh E. Mulyasa (2013:46-47) dapat dikemukakan ada 9 (Sembilan) strategi dalam upaya mendisiplinkan peserta didik yaitu dengan cara sebagai berikut:

1) Konsep diri (self consept) strategi ini menekankan bahwa konsep-konsep diri masing masing individu merupakan faktor penting dari setiap perilaku Untuk menumbuhkan konsep diri, guru disarankan memiliki sikap empatik, menerima, hangat , akrab dan terbuka, sehingga peserta didik dapat mengeksplorasi pikiran dan perasaannya dalam memecahkan masalah.

2) Keterampilan berkomunikasi (communication skills); guru dituntut mampu mengembangkan komunikasi yang efektif, lugas dan tegas, agar dapat mampu menerima semua perasaan dan mendorong kepatuhan peserta didik.

3) Konsekuansi-konsekuensi logis dan alami (natural and logical consequences). Guru harus mampu menunjukkan perilaku-perilaku yang salah kepada peserta didik serta harus mampu menunjukkan pula, akibat atau konsekuensi dari perilaku salah tersebut, sehingga secara logis dan alami peserta didik dapat mempertimbangkan apa yang seharusnya dilakukan.

4) Klarifikasi nilai (values clarification), strategi ini dilakukan untuk membantu peserta didik dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan membentuk sistem nilai.

5) Analisis transaksional (transactional analysis),  disarankan agar guru banyak belajar kepada orang yang lebih dewasa, sehingga lebih mampu membantu peserta didik dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.

6) Terapi realitas (reality therapy), sekolah harus berupaya mengurangi kegagalan dan meningkatkan keterlibatan. Dalam hal ini guru harus bersikap positif dan bertanggung jawab.

7) Disiplin dan terintegrasi (assertif discipline) metode ini menekankan pengendalian penuh oleh guru untuk mengembangkan dan mempertahnkan peraturan.

8) Modifikasi perilaku (behavior modification); perilaku salah disebabkan oleh lingkungan, sebagai tindakan remidiasi sehubungan dengan hal tersebut, dalam pemebelajaran perlu diciptakan lingkungan belajar yang kondusif. 

9) Tantangan bagi disiplin (dare to discipline); guru diharapkan cekatan , sangat teroganisasi, dan dalam pengendalian yang tegas.

Untuk menumbuhkan sikap displin sebagaimana strategi diatas, tentunya sangat diperlukan pula kedisiplinan dari diri seorang guru. Guru disiplin akan berimbas terhadap perilak peserta didik dalam menbembangkan dan menerapkan kedisplinan dalam belajar. Namun apabila pada diri guru itu sendiri tidak disiplin, maka proses kedisiplinan yang ditumbuhkan pada diri peserta tidak akan efektif. Semoga Penuh Manfaat.