Pemikiran filsafat Derrida dipengaruhi dan berutang budi pada Heidegger, Nietzsche, Ardono, Levinas, Husserl, Freud, dan Saussure. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari tulisan-tulisanya dan cara pembacaannya terhadap tulisan-tulisan filsafat.

Sebagai orang yang pertama mempertanyakan kembali ontologi atau yang menjelaskan mengenai krisis metafisika, Heidegger telah memberikan angin segar bagi pemikiran Derrida untuk makin menotalkan krisis metafisika.

Nietzsche yang sinis dan nihilis memberikan semangat pada Derrida untuk sinis terhadap segala bentuk pemikiran yang berusaha menotalisasi ke dalam satu konsep yang utuh dan tak retak.

Adapun Ardono, Freud, dan Levinas memberikan nuansa baru bagi pemikiran filsafat serta meruntuhkan pemikiran-pemikiran modernitas yang telah menjadikan Derrida untuk melakukan hal serupa bahkan lebih radikal lagi. Para pemikir itulah yang memberikan kerangka dasar dari pemikiran Derrida.

Derrida menjadi filsuf terkenal karena teori dekonstruksinya. Lazimnya, nama Derrida tidak bisa dilepaskan dengan dekonstruksi. Dengan kata lain, setiap kali mengingat Derrida, teori dekonstruksinya menyertai ingatan kita.

Derrida tidak mau mendefinisikan dekonstruksi, karena memberikan definisi dapat membatasi dekonstruksi itu sendiri. 

Menurut Derrida, dekonstruksi itu tidak terbatas. Sebab, dekonstruksi merupakan teori yang membuka diri untuk ditafsirkan oleh siapa pun. Karena terbuka untuk ditafsirkan, maka definisi dekonstruksi tidak terbatas. Oleh karena itulah, dekonstruksi dianggap strategi pembacaan atas teks yang mempermainkan kata dan makna yang dibangun dalam teks.

Dengan demikian, dekonstruksi merupakan metode pembacaan teks secara cermat, mempermainkan, dan mengusik kestabilan makna yang dibangun dalam teks. Teks yang dibaca dengan metode dekonstruksi akan terlihat paradoks, tidak konsisten, dan ambigu. 

Padahal, teks dibangun oleh penulisnya dengan sungguh-sungguh mengupayakan kejelasan makna dan mengungkapkan kebenaran. Namun, ketika teks dibaca dengan metode dekonstruksi, makna dalam teks tampak tidak stabil, sehingga makna dan kebenaran tertunda.

Teks senantiasa ditandai oleh ketidakstabilan dan ketidaktetapan makna. Mengingat ketidakstabilan dan ketidaktetapan itu, maka tidak ada metode analisis yang memiliki klaim istimewa atas otoritas tafsir tekstual. Dengan demikian, tafsir adalah kegiatan yang tak terbatas.

Asumsi-asumsi semacam itulah yang membuat teks ketika dibaca dengan metode dekonstruksi menjadi tidak stabil, mengandung paradoks, dan ambigu. Berkat dekonstruksinya, Derrida melakukan pembacaan ulang atas seluruh teks filsafat.

Ada beberapa istilah yang digunakan oleh Derrida atas hasil pembacaannya terhadap seluruh sistem atau bangunan pemikiran filsafat. Istilah-istilah itu adalah logosentrismemetafisika kehadiran, dan fonosentrisme.

Pertama, logosentrisme dapat dipahami sebagai sistem pemikiran yang menempatkan roh, diri, subjek, pemikiran, kesadaran, dan Tuhan sebagai pusat atau asal-usul bagi segala sesuatu. Logosentrisme mengandaikan adanya satu kebenaran (logos) utuh yang menjadi dasar, sumber, dan tempat kembalinya sesuatu. Dengan kata lain, keberadaan menjadi sah jika ada pusat kebenaran yang tunggal dan utuh sebagai pemberi legitimasi.

Kedua, metafisika kehadiran adalah sistem pemikiran metafisika yang mengasumsikan bahwa sesuatu itu hadir apa adanya, baik yang hadir melalui pikiran maupun yang hadir melalui indra, dianggap sesuatu yang murni, tanpa pengaruh yang lain. 

Di samping itu, kehadiran dianggap sebagai substansi atau esensi yang tidak bisa berubah. Dengan kata lain, kehadiran yang murni itu sudah final, selesai, dan baku. Derrida menganggap segala bentuk pemikiran yang mendasarkan diri pada prinsip-prinsip dasar tersebut disebut sebagai pemikiran metafisika.

Menurut Derrida, seluruh tradisi pemikiran filsafat bertumpu pada logosentrisme dan metafisika kehadiran. Karena itulah, ia melakukan kritik atas seluruh sistem pemikiran filsafat. 

Sebab, tidak ada pusat kebenaran dan tidak ada kehadiran yang benar-benar murni. Lebih jauh, Derrida menemukan pusat kebenaran dan kehadiran murni yang dianggap benar, ternyata mengandung paradoks, keganjilan, dan ketidakstabilan.

Ketiga, fonosentrisme menempatkan suara, ujaran, atau bunyi sebagai pusat kebenaran dan makna. Sedangkan tulisan hanyalah representasi dari suara. 

Dengan kata lain, suara, ujaran, atau bunyi ditempatkan sebagai yang lebih penting daripada tulisan atau teks. Hal ini dikarenakan ujaran dianggap lebih dekat dengan kehadiran. Subjek yang berbicara membawa makna yang pasti terhadap apa yang diucapkan. Suara dan makna itu identik, lain halnya dengan tulisan yang dapat mengaburkan makna.

Menurut Derrida, sejarah filsafat ditandai oleh fonosentrisme. Sejak Plato, para filsuf telah mengsubordinasikan tulisan. Para filsuf, seperti Husserl dan Saussure telah mewarisi semangat Plato yang menempatkan suara lebih utama daripada tulisan.

Pembicaraan, baik yang bersifat mental maupun verbal, menghadirkan makna secara utuh. Kehadiran makna dapat langsung dirasakan dengan berbicara. Oleh karena itu, tulisan tak lain hanyalah turunan atau representasi dari suara.

Lebih jauh, tulisan dianggap dapat menghapus kemurnian dan kealamiahan makna dalam tuturan. Dari sini dapat diketahui bahwa kehadiran diri atau kehadiran subjek penutur dalam suara sangat ditekankan. Dengan demikian, makna tergantung pada kehadiran subjek atau penutur.

Pandangan fonosentrisme tersebut didekonstruksi oleh Derrida. Menurutnya, fonosentrisme tak lain adalah logosentrime atau metafisika kehadiran itu sendiri. Fonosentrisme mengandaikan adanya subjek yang hadir dan memiliki otoritas atas makna sebuah ujaran atau tulisan yang diturunkan dari suara. 

Tulisan dianggap sebagai representasi dari suara yang membawa pada kebenaran makna. Dengan kata lain, tulisan dikendalikan oleh suara sehingga kekaburan makna bisa diminimalkan.