Sebelum mengobrol lebih jauh, kita perlu menyelesaikan dahulu pemahaman kita mengenai perbedaan pers, media, jurnalis, jurnalistik, jurnalisme, dan wartawan, yang sering kali tertukar dan salah pengertian. Karena beberapa istilah mainstream itu akan banyak dibahas pada tulisan ini serta esai lain yang berkaitan dengan media.

Mari kita mulai dengan membicarakan pers. Pers merupakan turunan kata dari Bahasa Inggris, yaitu press, yang memiliki arti cetak, percetakan, produk percetakan. Pers juga mempunyai pengertian yang sama dengan media, sebagai tempat atau wadah untuk menerbitkan produk jurnalistik.

Lantas, menurut arti katanya, apakah pers hanya membahas soal media cetak? Awalnya demikian, namun seiring bertambahnya kerutan wajah manusia, pers berkembang menjadi berbagai media alternatif, seperti radio, televisi, podcast, channel, bahkan portal berita yang menjadi salah satu media paling subur dalam jaringan (daring) internet, sehingga sering disebut media daring, termasuk juga media sosial yang jenisnya berbagai macam. 

Sederhananya, pers dan media memiliki pengertian yang sama, sebagai wadah untuk menerbitkan, menyiarkan, atau memublikasikan produk jurnalistik.

Berikutnya kita masuk pada jurnalistik, jurnalis, dan wartawan. Jurnalistik berasal dari Bahasa Inggris, yaitu journal, yang berarti catatan, tulisan, rekam jejak, diary harian, atau apa pun yang bersifat pengabadian kegiatan dalam bentuk tulisan.

Jurnalistik merupakan kata predikat, kata kerja, kata kegiatan, atau kata aktivitas. Bila diringkas, jurnalistik merupakan kegiatan mencatat. Sedangkan kata subjeknya ialah jurnalis, orang yang melakukan pencatatan tersebut. 

Jurnalis dan wartawan adalah dua kata yang bermakna sama. Wartawan berasal dari kata warta yang berarti berita, laporan, pengumuman, informasi, pemberitahuan, sedangkan imbuhan "-wan" merupakan kata yang digunakan untuk menyebut pelaku yang melakukan kegiatan memberi informasi kepada publik tersebut.

Yang terakhir adalah jurnalisme. Imbuhan "-isme" dalam kata jurnalisme mengartikan ideologi, penjiwaan, penerapan, cara berpikir, cara bekerja, jalan hidup, atau sejenisnya, mengacu pada teknik-teknik dasar jurnalistik yang sudah mendarah-daging dalam diri jurnalis, wartawan atau orang yang bekerja dalam jurnalistik.

Jurnalisme bisa dimiliki oleh wartawan profesional yang terdaftar menjadi pekerja di perusahaan media, atau bisa juga dimiliki oleh warga non-wartawan profesional, yang kemudian disebut dengan citizen journalism, dengan bekal gear (peralatan) seadanya, seperti kamera dan rekaman handphone.

Dekade terakhir, yang ramai diperbincangkan ialah Revolusi Industri 4.0, terkenal dengan konsep Internet of Things (IoT)-nya, semua diatur serba wireless atau nirkabel, sehingga mau tidak mau berbagai elemen kerja manusia dituntut memiliki ritme yang cepat, efektif, dan instan, serba bekerja online.

Salah satu yang terkena dampaknya ialah perusahaan media mainstream, yang tidak bisa berharap lagi pada kekuatan media cetak, sehingga banyak yang beralih ke media daring, media online, atau portal berita yang dianggap lebih dinamis dan luwes dalam mengakses, apalagi luasnya cakupan target pembaca produk jurnalistik yang dipublikasikan tersebut.

Dari ritme yang disebutkan tadi, seperti cepat, efektif, dan instan, membuat berbagai media mainstream unjuk gigi dengan mengedepankan produk hard news yang salah satunya berbentuk straight news (4W: when, who, where, what). Berita yang dikemas dengan panjang tiga sampai empat paragraf, dengan jumlah kata sekitar 350-400, sudah menjadi andalan format media alternatif sekarang untuk menjaring banyak pembaca.

Sehingga akhir-akhir ini, banyak kita temui berita straight news yang akhirnya digunakan menjadi alat penarik pengunjung, kemudian muncul istilah click bait, meracik judul berita agar pembaca tertarik mengunjungi portal berita tersebut, kendati antara judul dan berita tidak memiliki kesesuaian. 

Selain itu, yang paling keterlaluan lagi, dibuatnya berita-berita hoaks dengan sengaja melalui tim buzzer. Selain untuk tujuan politik penggiringan opini massa, berita hoaks bisa juga menjadi jala yang siap menjebak pembaca bertipe mudah membagikan berita tanpa melakukan crosscheck dari banyak sumber.

Bila budaya jurnalistik seperti demikian terus dirawat dan dibudidayakan, kita tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi lima sampai sepuluh tahun mendatang terhadap nasib jurnalistik kita? Apakah masih utuh idealismenya? Atau sudah terpotong-potong bagian tubuhnya karena berbagai pelanggaran dan keculasan pemilik modal perusahaan media yang hanya menginginkan profit, tanpa memedulikan idealisme?

Jurnalistik akan membosankan, karena semua media hanya berlomba-lomba menimbun dan memublikasikan berita, tanpa memikirkan sejenak, apakah berita itu bermakna, memiliki hikmah bagi pembaca? Atau justru membuat pembaca overload, kebingungan, sulit memilah informasi benar dan salah? 

Apa pun dampaknya, sepertinya bukan menjadi pertimbangan pemilik media. Karena pertimbangan utama dan tidak bisa tergantikan hanyalah jumlah viewer yang bisa dikonversikan menjadi digit-digit mata uang untuk mengisi perut-perut buncitnya.

Bila memang straight news adalah bentuk berita favorit banyak media mainstream, apakah tidak terbesit di pikiran kita sedikit saja untuk membuat berita selain demikian agar beranda website kita lebih bervariasi, misalnya? Atau agar pembaca tidak jenuh dan mabuk informasi yang begitu padat?

Makin lama, pembaca akan bosan dan paham polanya, bahwa straight news memang banyak digunakan sebagai alat keculasan pemilik media mainstream. Straight news merupakan bentuk berita yang paling potensial untuk memelihara hoaks, click bait, serta pemecah belah umat manusia.