Beberapa waktu yang lalu masyarakat Indonesia dibuat menepuk jidat saat konten Muhammad Kece viral di media sosial. Pernyataan – pernyataan Kece terhadap ummat islam menegaskan bahwa ada unsur penistaan terhadap agama islam. Pada hari rabu tanggal 25 Agustus 2021 Kepolisian Republik Indonesia berhasil membuat masyarakat bertepuk tangan atas prestasinya menangkap tersangka penista agama, Muhammad Kece. Kita sudah tidak perlu lagi meragukan ketangkasan polri dalam menangkap orang – orang yang dapat meresahkan warga.

Muhammad Kece adalah satu dari beberapa warga Indonesia yang dianggap telah melecehkan agama tertentu. Saya rasa kita semua sudah sepakat dalam hal ini. Meski namanya menyandang nama Rasulullah SAW, tetapi agama, sikap dan pemikirannya sama sekali tidak menggambarkan akhlak Rasul. Saya sendiri terkadang merasa risih menyebut nama Muhammad bersanding dengan nama Kece. Jadi kita singkat saja penyebutannya menjadi M Kece saja.

Tertangkapnya M Kece membuat ummat islam sedikit merasa lega, namun masih dihantui kekhawatiran. Sedikitnya ada tiga macam kekhwatiran yang masih dianggap meresahkan. Pertama, serangan protes dari para pendukung M Kace. Meski tidak banyak, namun beberapa orang masih memberikan dukungan kepada M Kace. Misalnya dari pendeta Saifudin Ibrahim. Menurutnya, M Kace tidak layak untuk ditangkap. Ia bahkan meminta keadilan agar memberikan perlakuan yang sama pula kepada pendakwah Ustad Abdul Samad dan Habib Rizieq Shihab karena telah menghina simbok agama tertentu, tangkasnya. Jika aksi protes ini terus bermunculan dengan dalih meminta keadilan yang sama, ada kemungkinan menimbulkan kericuhan dan aksi tidak percaya dalam penegakan keadilan.

Kedua, semakin menjamurnya konten negatif yang bisa menyinggung agama tertentu. Tidak sekali ini konten negatif yang memicu kemarahan umat beragama tertentu. Sejak beberapa tahun silam, sudah banyak sekali pembuat konten yang bernada mengejek golongan tertentu. Semuanya memang sudah berhasil ditindak tegas aparat. Namun, sama sekali tidak memberikan pelajaran penting bagi yang lainnya. Sehingga konten berbau sara terus saja bermunculan di jagat dunia maya.

Ketiga, menyulut api kemarahan bagi penganut islam garis keras. Saya rasa ini yang paling mengkhawatirkan. Tidak bisa dipungkiri lagi masih ada golongan islam garis keras yang terus mencoba mencari titik kelemahan pemerintah, agar dapat melahirkan gelombang aksi protes terhadap pemerintahan Jokowi dengan dalih sudah gagal menjamin keamanan umat beragama dari isu sara. Hal seperti ini bisa saja menjadi amunisi tersendiri bagi para poltisi untuk mendapatkan kesempatan menampilkan dirinya di tengah masyarakat. Betapa pun suksesnya Jokowi menjalankan roda pemerintahan akan selalu dianggap gagal oleh kelompok yang tak pernah merasa puas.

Kendati mengkhawatirkan, ada hal yang sebenarnya menarik dari aksi nekat M Kace ini. Yaitu kesuksesan M Kace dalam menyatukan pandangan umat beragama di Indonesia. Dengan kata lain, M Kace sesungguhnya sudah berhasil menyatukan keberagaman bangsa ini.

Beberapa bulan terakhir ini, kita disibukkan dengan hal – hal yang memusingkan kepala. Mulai dari masalah PPKM yang berlevel – level, perkembangbiakan virus covid dengan berbagai macam varian, kesal dengan sikap merengeknya Juliari Batubara yang malah jadi dalil keringanan hukumannya, sampai kepada masalah bansos yang tak kunjung berhak menerima, padahal terkena dampak covid juga.

Lalu tiba – tiba virallah M Kece dengan berbagai judul konten yang dianggap menghina agama tertentu di kanal Youtubenya. Kemunculan M Kece ini sontak menjadi bahan ghibah berfaedah di kalangan bapak – bapak di setiap warung kopi. Kelelahan memikirkan setoran harian menjadi hilang dan berganti menjadi bapak super cerdas dengan argumentasi ilmiah ala – ala ustadz.

Netizen berbagai medsos yang awalnya sering protes dengan kebijakan PPKM, berubah menjadi netizen berdalil agama. Yah, meskipun tidak sedikit pula yang menghujat M Kece dengan kalimat – kalimat sadis, tetapi itu menjadi hiburan tersendiri saat lelah dengan tugas – tugas daring.

Sejenak semuanya kompak dan sepakat bahwa penistaan itu tidak pernah dibenarkan di Negara ini. Maka bersatulah netizen dari berbagai agama mendukung polri untuk menangkap dan menjerat M Kece. Sampai disini, M Kece sudah berhasil menyatukan bangsa walaupun cara yang ditempuhnya malah merugikan dirinya sendiri.

Langkah polri berikutnya masih ditunggu oleh banyak pihak. Sudah maklum bahwa kasus penistaan Josep Paul Zhang hingga kini belum menemukan titik terang. Sebab, tersangka hingga kini masih berada di Jerman, dan sudah berpindah kewarganegaraan. Sungguh pengecut sekali. Tapi, polri tidak lantas menyerah begitu saja. Upaya terus dilakukan agar dapat membawa pulang Josep Paul Zhang.

Tindakan Paul Zhang tentu lebih buruk dari M Kece. Tidak hanya menghina dua agama, Paul Zhang malah mencetuskan dirinya sebagai Nabi yang ke – 26. Pengakuan ini jelas dikecam keras oleh sejumlah tokoh lintas agama.

Barangkali dua tokoh sesat yang viral ini perlu ngopi bareng dengan The Protector Pemuda Tersesat, Habib Husein Jafar Al Hadar. Karena biasanya orang – orang semacam ini muncul lantaran tidak memiliki akses yang baik dalam menimba ilmu.

Sayangnya kedua tokoh viral ini telah gagal menganggu keharmonisan antar umat beragama di Indonesia ini. Justru mereka seolah menyatukan kembali rekatan persatuan di negeri ini. Sekaligus ini menjadi bukti bahwa ideologi Pancasila adalah ideologi yang mampu memperkuat persatuan bangsa di negeri ini.