Gerimis datang saat kami sampai di rumah paman Dalcin. Sudah lama aku tak menjenguknya. Lara, Luver, Gurry, menemaniku berkunjung. Mereka adalah teman sekelasku. Kami ingin mendengar cerita lucu yang biasa diceritakannya. Paman Dalcin adalah seorang antropolog. Sewaktu muda sering melakukan perjalanan dan penelitian. Namun suatu hari ia mengalami kecelakaan dan membuatnya tak bisa berjalan lagi. 

Aku rindu paman Dalcin dan sudah berjanji akan menjeguknya saat liburan musim dingin tahun ini. Zac, anjing paman Dalcin, menyambut kedatangan kami. Ia menjilati tanganku. Kami berkumpul di ruang tamu sambil menikmati coklat panas dan biskuit. 

Paman Dalcin bercerita tentang kehidupannya dulu dan memberi beberapa nasehat untuk anak seusia kami. Di tengah keheningan yang merayap, Luver menanyakan soal kelumpuhan paman Dalcin. Paman diam seribu bahasa. Aku lupa mengatakan pada teman-temanku agar tidak menyinggung kenapa pamanku tidak bisa berjalan lagi.

Paman Dalcin mengalami trauma. Ia tak mau menceritakan penyebab  lumpuhnya. Kami semua diam, tak ingin membuat paman marah. Tak berapa lama, paman menyuruhku mengambil kotak kecil di lemari televisi. Aku melakukannya dan memberikan kotak itu. 

“Jawaban pertanyaan Luver berawal dari benda yang ada di dalam kotak ini,” ucap paman  pelan. Lalu ia menceritakan kejadiannya. Kami diam, mendengarkan ceritanya.  

€€€€€

20 tahun lalu paman menjadi bagian tim meneliti candi kuno yang ada di Jawa Barat, Indonesia. Ketika sedang menggali, paman menemukan lempengan segitiga yang diasumsikan sebagai kunci untuk membuka sebuah pintu. Paman merahasiakan itu dari semua kru. Setelah menemukan lempengan itu paman juga menemukan lempengan yang sama di lokasi yang lain. Kedua lempengan itu menyatu menjadi sebuah kunci.

Berharap menemukan sesuatu yang mampu memecahkan misteri, ternyata lempengan itu malah membuat paman terhisap ke dunia lain. Lempengan itu mengundang utayi, penghisap antar dimensi. Lempengan itu juga mengundang utaya, sang pengelana mimpi dan penghisap darah.

Paman tak bisa berberbuat apa-apa untuk keluar dari dunia itu. Paman tak boleh tidur karena Utaya akan membui dan menghisap darah hingga mati. Bebeberapa kali utayi terdengar, menandakan pintu dimensi terbuka. Paman harus berusaha mengejar utayi itu agar bisa kembali ke alam manusia.

Dunia baru paman bernama Negeri Palma. Dihuni oleh hobbit dan penyihir. Sialnya, negeri itu dalam keadaan kacau. Para hobbit dan penyihir saling menyerang. Paman dalam  kondisi di ujung tanduk. Terjebak, jatuh dari tangga lantas tertimpa tangga. Paman berusaha menjadi penyamar yang handal. Ketahuan sedikit mungkin akan mengakibatkan paman mati.

Paman bertemu dengan beberapa hobbit pemberontak. Mereka mau menolong paman mencari utayi dengan syarat menolong mereka menghadapi para penyihir. Para hobbit percaya bahwa paman adalah ratek, titisan dewanya. Lempengan yang paman bawa mirip dengan cakra bintang yang ada di kuil hobbit. Paman dilema. Di satu sisi ingin pulang dan di sisi lain paman tak memiliki kekuatan menghadapi penyihir.

Tanpa sengaja paman mendapat kekuatan kuno hobbit. Lempengan itu menyalurkan energi murni kolam suci di kuil. Pada akhirnya paman menjadi pemimpin hobbit dan melawan para penyihir. Meskipun sudah mendapatkan kekuatan, tak mudah untuk mengalahkan penyihir. Mereka sungguh kuat, gelap, dan kejam. 

Hari menjelang malam ketika pada akhirnya semua penyihir bisa dimusnahkan. Korban banyak berjatuhan. Para hobbit dilanda duka yang besar atas kehilangan anggota keluarga.

Esoknya, usai perang kami merayakan kemenangan. Semua hobbit mengucapkan terima kasih pada paman. Mereka bahagia bisa bertemu dengan titisan ratek. Mereka benar-benar percaya bahwa paman adalah dewa yang turun ke dunia.

Tak ingin menunggu lama, paman berpamitan kepada para hobbit dan mencari utayi untuk pulang. Tapi saat menemukan utayi dan bersiap untuk melangkah ke gerbang dimensi, tiba-tiba dari balik kegelapan muncul satu penyihir yang mengeluarkan sihir tergelapnya. Paman bertarung habis-habisan sampai tenaganya terkuras. Dengan sisa tenaga paman mengeluarkan kekuatan terakhir dan mampu menaklukkan sang penyihir.

Paman pergi dengan keletihan yang tersisa. Merasakan bekas kekuatan sihir gelap menghancurkan syaraf di kaki. Saat kembali ke alam manusia, paman lumpuh. Kekuatan lempengan itu tak bekerja di dunia manusia. Ia hanya sebatas kunci menuju dimensi lain.

€€€€€

Nah anak-anak, itulah kisah paman. 

Kami terpana dengan cerita heroik paman Dalcin. Dia teryata pahlawan para hobbit. Kami bangga dan terobsesi dengan petualangan ala negeri dongeng yang dialaminya.

Sebelum malam kami pulang. Kami berpamitan pada paman dan mengucapkan terima kasih karena telah menceritakan kisahnya. Paman memberikan lempengan itu kepadaku. Ia ingin benda itu menjadi kenangan yang berharga saat dirinya mati.

Kami pulang. Sisa cerita paman membekas hingga di dalam mobil kami membahasnya.

“Utayi. Ehmmm,” gumam Luver.

“Bagaimana kita tahu gerbang dimensi terbuka?” kata Gurry binggung.

“Dan bagaimana ia menghisap dimensi?” ucap Lara menambahkan. Semua binggung dan kami berfantasi dalam khayalan.

Aku melihat lempengan itu, mungkin ada semacam tombol agar menghadirkan utayi. Tak ada yang aneh, hanya lempengan segitiga yang menyatu membentuk diagram.

Dalam keseimbangan gerak, tiba-tiba hembusan angin kencang menahan laju kendaraan kami. Kami panik, mengira ada tornado di sekitar kami. Semua terlihat gelap dan kami tak melihat apa-apa. Kami mendengar suara deru yang keras memekakkan telinga. Tak berapa lama semua normal. Tapi bukan normal yang biasa, kami terhisap utayi dan berada dalam dimensi lain. Kami semua kompak berteriak, oh my god.

Singkat cerita kami menemukan rahasia kedatangan utayi. Kami harus menyelesaikan sebuah misi agar ia hadir kembali. Kami terdampar di negeri para hollow, hantu. Misi kami adalah mengembalikan lempangan itu ke tempat asalnya, pohon seribu nyawa. Ketika kami mengembalikan lempengan itu, negeri para hantu tak lagi gelap, semua menjadi terang dan cerah. Utayi menampakan diri, kami pulang setengah tak percaya atas apa yang kami alami.  

Aku merasakan seperti berputar dan kepalaku pusing. Saat membuka mata dan cahaya masuk ke dalam retina, aku baru sadar teryata semua adalah mimpi. Aku terbagun sampai berpeluh dingin. Ingatan tentang paman membuatku ingin berkunjung ke makamnya. 

Esoknya aku menceritakan mimpiku pada ketiga sahabatku. Semuanya diam, kaget. Mereka juga bermimpi yang sama. Kami saling pandang, tertawa terbahak-bahak atas kelucuan dan keanehan itu. Sambil melaju mobil ke makam paman, pikiranku melayang, mimpi dan nyata seperti menyatu, dan dimensi telah berbaur. (Tanjung Aur, 26 Maret 2018)