Mahasiswa
1 tahun lalu · 505 view · 4 min baca menit baca · Perempuan 31983_80814.jpg
cyberbullying.org

Stop Slut Shaming kepada Perempuan Korban Revenge Porn

Di penghujung tahun 2017, beberapa pekan lalu sekitar akhir Oktober, media sosial ramai mewartakan tersebarnya video berkonten seks dalam kasus revenge porn yang menimpa salah satu mahasiswi universitas ternama di Jakarta beridentitas Hanna Anisa (HA). Nama HA pun langsung menduduki trending topic dalam keyword mesin pencari google.

Berkenaan dengan kasus tersebut, akun instagram yang diyakini adalah milik HA sempat memposting permintaan maaf ke publik atas kekhilafannya. HA meminta untuk menghapus video pribadi miliknya yang telah beredar luas.

Perlu digarisbawahi bahwa video tersebut direkam untuk koleksi pribadi, bukan untuk kepentingan komersil atau dikonsumsi publik. Jika video berkonten seks tersebut tersebar karena ulah oknum dengan motif balas dendam (revenge porn) atau tanpa persetujuan orang yang ada dalam rekaman, maka itu jelas tindakan melanggar hak privasi orang lain. Si penyebar videolah yang harus ditangkap. Namun, sayangnya dalam beberapa kasus revenge porn justru pihak perempuanlah yang selalu menjadi sorotan untuk disalahkan.

Budaya misogini yang tumbuh subur dan mengakar dalam masyarakat kita telah menempatkan tubuh perempuan sebagai obyek seksual. Perempuan korban revenge porn selain harus menjalani serangkaian proses pemeriksaan hukum, ia juga dihadapkan pada cyberbullying yang tak pernah berpihak kepadanya. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang publik tanpa sekat gender justru menjadi ruang cyberbullying bernada seksisme yang tak ramah bagi perempuan.

HA adalah satu dari sekian korban revenge porn dimana perempuan menjadi pihak yang paling rentan untuk dirugikan. Selain merusak citra si perempuan, perundungan terhadap korban (perempuan) juga melahirkan rentetan panjang dampak baik secara fisik, psikis maupun sosial yang harus ditanggung si korban.

Tindak kejahatan berkonten seks yang kian marak terjadi dalam jaringan online, ancaman dampak yang dialami perempuan berbeda dengan laki-laki. Perempuan lebih rentan mengalami dampak yang sifatnya spesifik karena hanya perempuanlah yang mengalami sekaligus  menanggung kerugian lebih besar daripada laki-laki.

Saat kasus HA menjadi viral, netizen menghujat HA atas tubuh dan ketubuhannya. Konstruki "tubuh ideal" perempuan selalu dibangun dari sudut pandang laki-laki, maka tak heran jika banyak komentar kasar yang mengolok-olok tubuh bagian intim HA. Tubuh perempuan ditempatkan sebagai “kriminal” karena sensualitasnya dianggap bisa membangkitkan birahi.

Padahal HA bukan pemain tunggal dalam video rekaman tersebut, lalu kenapa hanya pihak perempuan saja yang menjadi bulan-bulanan netizen? Si laki-laki yang ada dalam video dianggap tidak ada? Laki-laki tak perlu dikomentari? Bahkan pelaku penyebar video juga diabaikan keberadaannya. Brengsek sekali.

Di jaman digital seperti sekarang, bentuk kejahatan berbasis online kian marak dengan beragam modus. Dalam kasus-kasus tertentu seperti revenge porn dan sextortion (pemerasan seksual) yang berujung pada cyberbullying, sudah seharusnya mendapat perhatian khusus dan tidak dianggap sebagai perkara remeh-temeh. Membiarkan predator bebas berkeliaran di internet, melancarkan aksi mengincar perempuan untuk dijadikan korban dengan cara memaksanya untuk mengirimkan poto maupun video berkonten seksual, adalah sama berbahayanya seperti kita membebaskan para pelaku pelecehan dan pemerkosa.

Kita perlu mengingat ulang kasus-kasus serupa untuk dijadikan pembelajaran. Seperti kasus Amanda Todd, gadis 15 tahun asal Kanada korban cyberbullying yang bunuh diri pada tahun 2012 setelah foto toppless dirinya tersebar luas. Atau kasus bunuh diri Tiziana Canton yang sempat menuntut rights to be forgotten untuk membersihkan namanya.

Kedua kasus tersebut memberikan bukti bahwa dalam kurun waktu tertentu, cyberbullying yang dilakukan berulang-ulang secara terus menerus mampu membuat korban menjadi depresi, bahkan akibat terburuknya ialah tindakan bunuh diri.

Di saat kasus HA sekarang tak lagi ramai diperbincangkan oleh publik, apakah kemudian publik begitu saja melupakannya? Apakah perundungan terhadap HA juga berhenti seiring dengan kasusnya yang sepi dari pemberitaan? Ternyata tidak! Ia masih menjadi bulan-bulanan netizen di sebuah akun fanpage.

Singkat cerita, beberapa hari lalu tanpa sengaja saya menemukan postingan salah satu teman facebook yang membagikan status kiriman dari akun fanpage beridentitas HA. Saya mencoba menelusuri dan membandingkan dengan akun-akun serupa dengan nama yang sama. Akun yang mencatut nama HA jumlahnya banyak, tapi tidak semuanya berstatus aktif.

Dilihat dari unggahan status yang selalu diperbaharui, maka saya meyakini bahwa akun tersebut adalah fanpage aktif milik HA dengan jumlah pengikut membludak lebih dari 30 ribu follower. Tapi maaf, untuk mencegah tindakan cyberbullying yang lebih masif, maka saya memutuskan untuk tidak menyertakan tautan link alamat akun tersebut dalam tulisan ini.

Hasil temuan saya, status pertama diunggah pada tanggal 25 Oktober 2017, ini adalah waktu dimana kasus HA saat itu sedang viral. Entah dengan tujuan apa akun tersebut dibuat, tetapi membaca postingan yang diunggah selain berisi tulisan-tulisan ringan HA, akun tersebut juga bermaksud ingin memberi klarifikasi serta perkembangan penyidikan kasusnya yang saat ini masih ditangani oleh Penyidik Satuan Reskrim Polresta Depok. Sampai tulisan ini saya tulis 19 Desember 2017, berdasarkan informasi dari akun tersebut, status HA masih menjadi saksi.

Di negara ini tidak hanya budaya korupsi saja yang punya masyarakat pendukung, budaya cyberbullying ternyata juga memiliki masyarakat pendukungnya sendiri. Setiap kali HA mengunggah status disertai foto dirinya, jumlah like yang mampir lebih dari tiga ribu orang, dan tak kurang dari lima ratus kali dibagikan oleh netizen.

Mayoritas follower adalah dari akun laki-laki yang paling banyak berkontribusi memberikan komentar. Sayangnya bukan komentar positif yang diterima HA, melainkan hinaan, ejekan, serta sindiran yang berusaha untuk melecehkan dirinya. Para komentator tersebut bahkan beramai-ramai menjadikan HA sebagai bahan coli secara massal.

Para lelaki ngacengan yang mengolok-olok dan membanjiri akun HA dengan komentar bermuatan seks adalah contoh bagaimana tubuh perempuan selalu dijadikan obyek seksual, perangsang birahi, bahan lelucon, sexist jokes. Mereka melakukan slut shaming dengan menghina, mengolok, merendahkan, mempermalukan dan melecehkan perempuan korban revenge porn secara bertubi-tubi.

Dear kamu, kamu dan kamu. Kalian semua yang hobi coli, sebaiknya kalian cuci otak kalian dulu biar tidak ngeres kalau melihat foto perempuan. Memangnya punya hak apa kalian hingga merasa berhak mengolok-olok HA? Merasa diri paling suci, sedangkan orang lain kalian pandang lebih hina? Menjadikan tubuh perempuan sebagai bahan coli massal menandakan bahwa diri kalian sesungguhnya tak lebih dari seorang pecundang yang doyan nonton bokep.

Berhentilah melakukan slut shaming kepada perempuan korban revenge porn, sudahi victim blaming agar tidak ada lagi perempuan- perempuan lainnya yang menjadi korban. Women body is not porn, yang porno itu adalah otak kalian! Shame on you!

Artikel Terkait