Penulis
2 years ago · 511 view · 4 menit baca · Politik anggota_dpr_tidur.jpg

Stop Mengeluh, Terjunlah ke Dunia Politik

Lihat foto di atas. Coba jelaskan, bagaimana bisa mobil berada di atap rumah dan di atas pohon? Bagaimana bisa seekor kuda masuk ke sela-sela pagar? Dan bagaimana bisa orang-orang yang hobi tidur menjadi anggota DPR?

Tapi faktanya memang bisa. Dunia memang aneh. Dan kita ikut andil membuat sesuatu yang sepertinya mustahil menjadi kenyataan.

Setiap hari kita mengeluh mengapa anggota DPR kita sibuk bertengkar ketimbang melaksanakan fungsi legislasinya. Kita selalu protes mengapa wakil rakyat diisi orang-orang yang tidak kredibel.

Namun, dari tahun ke tahun kita hanya bisa protes tanpa bisa mencegah orang-orang itu menjadi anggota DPR lagi. Hampir setiap waktu kita membiarkan orang-orang yang tidak kompeten menjadi wakil kita.

Populasi pemuda (anak muda) berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015 mencapai 62,4 juta jiwa. Artinya, jumlah pemuda mencapai 25 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Gemuknya jumlah anak muda mengindikasikan bahwa mereka bisa menjadi kekuatan di segala bidang, termasuk politik.

Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) menunjukkan jumlah pemilih pemula pada Pemilu 2014 yang berusia 17-20 tahun sekitar 14 juta orang. Sedangkan yang berusia 20-30 tahun sekitar 45,6 juta orang. Jumlah pemuda yang mempunyai hak pilih pada Pemilu 2014 mencapai 40 hingga 42 persen.

Sayangnya, anak muda dan politik sepertinya saling bermusuhan. Berdasar survey yang dilakukan Universitas Siswa Bangsa Internasional jelang Pemilu 2014 lalu menunjukkan sebanyak 53,23 persen responden menyatakan diri untuk golput. Anak muda sendiri lebih menyukai bisnis ketimbang poltik. Mereka memilih sikap skeptis akibat Parpol yang dinilai gagal melaksanakan fungsinya.

Menjauhnya anak muda dari dunia politik tentu mengkhawatirkan. Seburuk-buruknya dunia politik kita, bidang inilah yang paling menentukan wajah Indonesia di masa yang akan datang. Masa depan Indonesia banyak dipengaruhi keputusan-keputusan politik.

DPR adalah lembaga politik paling krusial menentukan wajah negara kita. Bersama pemerintah, lembaga ini bertugas membuat undang-undang yang akan menjadi pijakan hukum. Bisa kita bayangkan jika anggota DPR hanya mementingkan diri sendiri dan golongannya maka kualitas produk undang-undang yang dihasilkan pasti sangat buruk. Dan kenyataannya, undang-undang yang dihasilkan selama ini memang buruk.

Anak muda mempunyai pemikiran progresif, tidak kolot, dan banyak terobosan. Sudah banyak keberhasilan di bidang-bidang di mana anak muda ikut andil. Banyak perusahaan start up yang dimotori anak muda yang sukses melakukan gebrakan. Gojek, Bukalapak, Tokopedia adalah perusahaan start up yang didirikan anak-anak muda yang sukses diterima masyarakat.

Sayangnya, politik di Indonesia tidak banyak mengakomodir anak-anak muda. Parpol memilih sikap pragmatis. Politik membutuhkan dana yang besar. Sementara anak muda tidak mempunyai modal yang cukup untuk terjun di bidang politik. Kalau pun ada dana, anak muda mempunyai sikap skeptis yang membuatnya menjauh dari politik.

Akhirnya, hanya orang-orang yang mempunyai modal besar yang terakomodasi. Dan yang punya modal besar biasanya golongan tua yang lebih dulu mapan secara finansial. Maka, mayoritas anggota DPR kita dipenuhi orang-orang tua, dengan pemikiran yang juga tua.

Dengan kondisi ini, apa yang harus dilakukan?

Pertama, anak muda harus menyadari bahwa mereka adalah sebuah kekuatan maha dahsyat yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa. Karena itu, menjadi golput bukanlah pilihan. Golput tidak akan membuat bangsa ini berubah jadi baik. Meski hak individu, Golput tidak akan menghasilkan apa-apa.

Tidak menggunakan hak pilih berarti membiarkan orang-orang yang pro politisi buruk leluasa mendudukkan kembali politisi pilihannya menjadi anggota legislatif. Jika ini terjadi, wajah wakil kita akan kembali dipenuhi orang-orang lama yang terbukti gagal.

Kedua, anak muda harus kembali akrab dengan politik. Jika para pemuda pra kemerdekaan sangat akrab dengan politik, mengapa para pemuda sekarang malas berpolitik? Sikap skeptis pasti ada. Namun kita tak bisa terus membiarkan rasa skeptis menghalangi kita akrab dengan politik. Paling tidak, kita tidak lagi alergi membicarakan dan berdiskusi soal-soal politik. Bisa juga menggelar debat politik sebagai ajang melatih kemampuan dalam berargumen.

Ketiga, anak muda harus lebih peduli dengan soal-soal politik. Kita pasti menginginkan wakil rakyat yang benar-benar berjuang untuk kepentingan bangsa. Mulai pelototi dan cari orang-orang kredibel yang nantinya mewakili suara anak muda di parlemen. Pilih parpol yang memperjuangkan aspirasi dan berani mengakomodasi anak muda.

Keempat, buang sikap alergi terhadap politik. Setiap memasuki pesta demokrasi, anak muda selalu menyingkir dari hingar bingar politik. Kita merasa muak akan wajah-wajah politisi kita yang wira-wiri menghiasi layar kaca dan media sosial yang berusaha meraih atensi kita.

Mengapa kita tidak terjun langsung ke dunia politik dan bersaing dengan orang-orang yang kita anggap memuakkan? Kita bisa mendirikan parpol yang benar-benar mewakili aspirasi anak muda yang akan berjuang untuk kepentingan bangsa. Teman Ahok bisa menjadi contoh bagaimana anak-anak muda mampu melakukan sebuah gerakan politik untuk memperjuangkan sebuah aspirasi.

Langkah-langkah di atas memang sangat klise. Namun kita tidak boleh skeptis dan menganggap politik di negeri ini tidak bisa diubah. Politik adalah satu-satunya cara meraih kekuasaan. Lewat politik, program-program yang pro rakyat bisa diperjuangkan. Keadaan bangsa ini tak akan bisa kita ubah jika kita tidak ikut dalam sistem politik. Diam, protes, dan ngomel-ngomel tak akan membuat kondisi bangsa ini cepat berubah.

Saatnya anak muda melek politik agar nanti bisa menjadi pondasi yang baik yang bisa kita gunakan untuk memajukan negeri yang kita cintai, Indonesia. (*)

#LombaEsaiPolitik