Saya tak akan mengirimkan anak ke sekolah pada tahun ajaran baru ini. Itu janji saya pada diri sendiri. Dan sekarang sedang intens berdiskusi dengan anak agar bisa menerima keputusan saya ini. Iya, ini keputusan saya, dan meminta anak untuk mau mengikuti.

Bisa jadi saya sedang menyuntikkan virus ketakutan pada anak. Tapi bisa jadi juga ini pilihan benar—paling tidak menurut saya—untuk saat ini. Tiap sore kami berdua selalu mengamati bertambahnya angka penularan korona di Indonesia. Kalau saya lupa, dia akan menginformasikan angka terakhirnya. Kami menaruh perhatian, dan berharap laju penularan segera menurun.

Saat sibuk dengan pekerjaan di kantor sebelum korona datang, selalu berharap ada libur panjang biar bisa bangun siang, menunda mandi dan bebenah baju yang minta diurutkan lagi warna dan kegunaannya.

Tapi saat di rumah terus-menerus lebih dari dua bulan, ternyata kesibukan tidak berkurang. Laptop dan telpon bekerja keras. Koneksi internet tak boleh putus. 

Badan memang di rumah, tak menyentuh pasar dan keramaian, tetapi ada saja yang selalu meminta perhatian untuk segera dikerjakan. Capek tapi kami menikmati. Mungkin beginilah kerja di masa depan nanti, yang disebut orang dengan kenormalan baru. Seperti iklan bilang; stay connected.

Setengah mati kami setia di dalam rumah, supaya nanti boleh menjadi pemenang dari Covid-19 yang sudah menulari lebih dari 217 negara, menginfeksi  lebih dari 5,8 juta orang di seluruh dunia dan mengakibatkan kematian lebih dari 360 ribu orang. Keinginan sederhana yang ditebus dengan patuh bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah.

Mungkin saya bagian dari banyak orang tua yang tak ingin mengirimkan anak ke sekolah di tahun ajaran baru nanti. Ini bukan pembangkangan. Keputusan ini juga bukan masalah orang tua dengan sekolah, tetapi tuntutan adanya jaminan dari negara untuk melindungi anak-anak dari paparan korona.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat antara lain hampir 3.400 anak berstatus pasien dalam pengawasan (PDP), kematian PDP sebanyak 129 anak, positif Covid-19 pada anak sebanyak 584 kasus, dan 14 kematian anak dari kasus positif Covid-19. Ada naik-turun angka anak dengan status PDP, tetapi jumlahnya tetap di atas 3.000.

Saya tahu pasti apa saja yang dilakukan anak selama 24 jam di dalam rumah. Kalau saya harus keluar rumah sebentar pun, ia memilih tinggal.

Kami juga membatasi orang luar untuk bisa masuk ke dalam rumah meski untuk hal yang sangat perlu seperti service AC, misalnya. Entah sudah berapa botol handsanitizer kami habiskan selama 3 bulan ini. Dengan berbagai proteksi tadi, saya ingin anak tetap aman dari penularan korona.

Ketika tahun ajaran baru dimulai saat pandemi belum reda, bagaimana kita bisa mengawasi anak-anak di sekolah? Bagaimana sekolah bisa memastikan anak-anak tidak terpapar korona? Apakah fasilitas sekolah cukup memadai untuk itu? 

Saya tahu, sekolah pun saat ini sedang berupaya untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak didiknya. Apakah dengan cara mengisi kelas hanya 50 persen dari total siswa, membagi jam belajar, belajar secara daring, dan alternatif lain yang akan diambil oleh masing-masing sekolah.

Meskipun begitu, apakah kita cukup menaruh kepercayaan pada sekolah bahwa mereka akan memberikan lingkungan yang aman pada anak pada saat pandemi?

Kita tak bisa menjadikan anak sebagai kelinci percobaan. Anak memiliki hak untuk dilindungi. Dan negara bertanggung jawab terhadap hal ini.

Sistem Pendidikan bukan sesuatu yang sakral, untuk tak bisa diubah, terlebih dengan adanya pandemi. Kita sudah memulai dengan pendidikan secara daring selama beberapa bulan ini. Tak mulus memang, tetapi ini salah satu upaya yang bisa kita tempuh.

Pertanyaan yang mendasar, sudahkah kita juga memberikan informasi yang cukup pada anak tentang kenormalan baru yang dihadapinya saat masuk sekolah nanti? Sementara kita sendiri masih meraba normal baru seperti apa yang akan kita jumpai di tempat kerja atau dalam pergaulan sosial nantinya.

Kita memang gagap menghadapi pandemi ini. Tetapi kewajiban kita juga untuk melindungi anak dengan tidak menempatkan mereka pada posisi yang berisiko.

Mengirim anak-anak ke sekolah di tahun ajaran baru nanti sama saja menempatkan mereka pada posisi yang berbahaya. Buat anak, jangan coba-coba.