Wajah Indonesia tidak pernah jauh dari kata kekerasan terhadap anak. Fenomena kekerasan terhadap anak ini layaknya iceberg. Apa yang terlihat tidak sebanding apa yang berada di bawah.

Berdasarkan Global Prevalence of Past-Year Violence Against Children, 64% dari anak di wilayah Asia pernah mengalami kekerasan berat. Lebih lagi, 80% anak di Asia pernah mengalami kekerasan ringan seperti ditampar atau dipukul pantatnya.

Kekerasan yang terjadi pada anak tidak bisa dianggap sepele. Bagaimana tidak, kekerasan yang dilakukan terhadap anak-anak seakan tidak pernah usai. Seperti yang dilansir UNICEF, setiap 10 menit sekali, di seluruh dunia, anak perempuan meninggal karena kasus kekerasan. Lebih parah lagi, lebih dari 1 miliar anak pernah mengalami kasus kekerasan dalam satu tahun terakhir ini (WHO).

Data tersebut hanya data yang tercatat oleh lembaga pemerintah atau organisasi nonprofit saja. Di luar sana masih banyak data yang tidak terlaporkan, yang jumlahnya lebih besar daripada yang tercatat. Dari data tersebut saja, kita seharusnya harus sadar bahwa kekerasan terhadap anak bukanlah masalah biasa saja.

Jika harus menilik kasus ini lebih jauh, rasanya lautan yang luas saja tidak dapat menampung tulisan yang mengisahkan kekerasan terhadap anak. Kekerasan yang sering terjadi ini seharusnya menjadi cambukan bagi kita untuk lebih peduli dengan permasalahan yang terjadi di sekitar kita, terkhusus untuk anak.

Survei dari LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) menunjukkan bahwa kasus pelecehan seksual dari tahun 2016 hingga 2019 terus mengalami kenaikan. Berdasarkan data dari KPAI, dari Januari hingga Mei 2019, terdapat 1192 laporan kekerasan yang dilaporkan, baik kekerasan fisik, psikologis, ataupun seksual.

Problematika ini seharusnya tidak terjadi di Indonesia yang katanya mengharapkan generasi mudanya untuk membangun bangsa ini. Kekerasan akan merusak pola pikir dan tumbuh kembang anak. Bangsa ini tidak akan punya tumpuan di masa depan jika masih membiarkan kekerasan terhadap anak terjadi seenaknya saja.

Terlebih stigma masyarakat yang masih menganggap bahwa korban juga ikut bersalah dalam kasus kekerasan ataupun pelecehan. Tidak bisa dimungkiri masyarakat terkadang memperkeruh keadaan. Korban yang harusnya mendapat perhatian khusus dan perlindungan malah dibuat makin menderita dengan tuduhan yang diberikan masyarakat.

Sering kali pelaku kekerasan adalah orang terdekat dari anak itu sendiri. Lingkungan keluarga dan pertemanan menjadi salah satu tempat di mana kekerasan itu sering terjadi. Terkadang orang tualah orang pertama yang melakukan kekerasan terhadap anak.

Berdasarkan laporan Global Report 2017: Ending Violence in Childhood, sebanyak 73,7 persen anak-anak Indonesia berumur 1-14 tahun mengalami pendisiplinan dengan kekerasan (violent discipline) atau agresi psikologis dan hukuman fisik di rumah.

Orang tua melakukan kekerasan terhadap anak yang membuat mental dan fisiknya terluka dengan dalih “mendidik anak”. Sering kali orang tua melakukan pembenaran ketika menghukum anaknya dengan ucapan “pukulan kasih sayang”. Terlebih hal ini dianggap sebagai hal yang wajar dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Tanpa disadari, tindakan mereka menimbulkan efek yang buruk untuk masa depan anaknya.

Kekerasan yang dibiarkan terus-menerus akan menimbulkan luka yang tidak akan pernah hilang dari ingatan anak. Efek dari hal ini adalah pola pikir anak yang rusak ketika dewasa nanti, yaitu kekerasan kelak akan menjadi salah satu metode untuk berinteraksi dengan orang lain.

Nasib Bangsa

Kemajuan bangsa ini bukanlah di tangan para penguasa negeri ini, bukan juga di tangan para pembuat keputusan. Bukan juga orang-orang dewasa yang merasa dirinya lebih superior dibanding yang lain. Melainkan, anak-anak adalah penentu ke mana bangsa ini nantinya.

Anak-anak yang seharusnya memiliki memori indah akan masa kanak-kanaknya hilang ditelan oleh para pelaku kekerasan. Merusak masa kecil anak-anak berdampak pada masa depan yang akan mereka jalani. Cara pandang mereka terhadap dunia akan menjadi kelam.

Sanjungan generasi emas akan memudar dengan sendirinya jika hak-hak terhadap anak tidak pernah diberikan dengan benar. Kekerasan yang makin bertambah setiap tahunnya dan tak kunjung usai akan makin memperkeruh nasib bangsa ini.

Solusi

Regulasi dan aturan terkait kekerasan terhadap anak harus diperketat dan diperkuat. Pemerintah harus memberikan sanksi yang tegas agar para pelaku kekerasan jera dan tidak melakukan hal yang sama berulang-ulang.

Pola asuh dengan cara kekerasan seharusnya tidak dianggap sesuatu hal yang wajar bahkan dibenarkan. Sekecil apa pun, kekerasan tetaplah namanya kekerasan. Tidak ada kekerasan yang akan hilang begitu saja jika diatasnamakan sebagai “cara mendidik”. Peran orang tua dalam mendidik harus berubah.

Lingkungan sekolah perlu mengambil peran penting dalam upaya perlindungan anak. Berbagai elemen di sekolah harus bisa bekerja sama menciptakan iklim yang sehat dan ramah. Guru harus bisa mengembangkan budaya yang membuat hubungan siswa dengan guru makin dekat. Sehingga, jika terjadi hal serupa, siswa tidak akan malu untuk bercerita.

Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi yang bisa mengurangi, bahkan mencegah kekerasan ini agar tidak makin menyebar? Masyarakat harus mulai sadar akan dampak negatif dari perilaku ini terhadap tumbuh kembang anak. Anak akan mengalami trauma, luka emosional dan fisik, bahkan penurunan fungsi otak. Hal ini tentunya bukanlah hal yang baik untuk masa depan bangsa ini.

Masih banyak hal yang bisa kita renungi bersama, saling introspeksi diri dan saling mengingatkan bila masih terjadi kekerasan dan penyelewengan hak anak. Peran kita sebagai masyarakat sangat dibutuhkan demi terciptanya Indonesia Maju.