Berita duka datang dari Bengkulu. YN (14) meninggal dunia setelah diperkosa dan dipukul oleh 14 remaja saat pulang sekolah. Mirisnya, mayoritas pelaku adalah anak-anak. Para pelaku ditengarai mabuk sebelum melakukan pemerkosaan tersebut.

Kekerasan seksual menjadi masalah serius sekaligus memprihatinkan. Kekerasan seksual tak hanya dapat menimpa perempuan, namun juga laki-laki. Bahkan, kekerasan seksual sangat rentan terjadi kepada anak-anak. Meski begitu, berdasarkan berbagai penelitian, korban kekerasan seksual mayoritas adalah anak-anak perempuan. YN adalah salah satunya.

Kasus ini menjadi gambaran betapa berisikonya dunia anak-anak. Lagi-lagi, yang jadi korban adalah perempuan. Dari hal tersebut sudah ada dua ironi, yaitu kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan. Saya yakin, ada banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi selain kasus YN tersebut.

Di Kabupaten Kubu Raya, ada juga kasus kekerasan seksual terhadap perempuan oleh ayah kandungnya sendiri, Senin (2/5). Korban yang masih berusia 18 tahun diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri hingga hamil. bahkan, kekerasan seksual tersebut dibarengi dengan kekerasan fisik berupa pukulan dan kekerasan psikis berupa ancaman.

Beberapa hari yang lalu, saya berbincang dengan salah satu teman yang sedang menempuh pendidikan kebidanan. Katanya, banyak sekali kasus kekerasan seksual terhadap anak perempuan terjadi, terutama di Jakarta. Bahkan, ada yang sampai hamil diluar rahim. Hal ini membuat korban akan menderita seumur hidup.

Menurut data Komisi Nasional (Komnas) Perempuan yang melibatkan 33 lembaga menunjukkan bahwa 35 perempuan Indonesia mengalami kekerasan seksual setiap hari. Mayoritas korban kekerasan seksual tersebut adalah anak-anak. Selain itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menyebut bahwa hampir setengah kasus kekerasan yang dialami adalah kekerasan seksual.

Masih berdasar Catahu Komnas Perempuan tahun 2016, kekerasan seksual menempati peringkat kedua bentuk kekerasan yang menimpa perempuan. Hal ini menjelaskan bahwa kekerasan seksual menjadi momok yang harus segera dicarikan solusinya agar tak ada lagi korban-korban selanjutnya.

Sebenarnya, kekerasan seksual bukan hanya pemerkosaan. Lebih luas, kekerasan seksual meliputi pelecehan seksual, kemudian tindakan seksual yang dilakukan dengan paksaan, pencabulan, dan sebagainya. Semua jenis kekerasan seksual tersebut memiliki dampak yang sama, dampak negatif.

Kekerasan seksual yang terjadi kepada anak menimbulkan berbagai dampak buruk, yaitu fisik dan psikologis. Anak-anak korban kekerasan seksual sangat potensial tertular penyakit menular seksual, seperti HIV dan AIDS. Terlebih lagi jika menimbulkan kecacatan fisik akibat kekerasan tersebut. Lebih luas, hal ini berdampak kepada bidang ekonomi dan sosial.

Kemudian, kekerasan seksual akan meninggalkan rasa trauma dan depresi kepada korban. Jika YN masih hidup, kemungkinan besar ia akan depresi. Bahkan, saudara YN, sebut saja YA merasakan trauma mendalam akibat kasus yang dialami saudaranya tersebut. YN hanyalah satu dari banyaknya korban yang sangat mungkin trauma akibat kekerasan seksual yang mereka alami.

Amat miris mendengar kasus serupa terjadi berulang-ulang. lebih parahnya, kejadian tersebut memakan korban anak-anak. Mereka memiliki masa depan yang menjanjikan. Sangat disayangkan jika masa depan tersebut harus terenggut begitu saja karena kepolosan mereka.

Perlu adanya tindakan yang komprehensif untuk menghentikan ini semua. Setidaknya, ada dua hal yang perlu dilakukan untuk mengurangi kasus serupa terjadi lagi. Pertama, perlu adanya pendidikan seksual yang komprehensif bagi anak-anak. Kemudian, pemerintah perlu segera mensahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

Pemerintah perlu merespons hal ini secara bijak dengan mengimplementasikan kurikulum pendidikan seksual yang komprehensif. Hal ini merupakan langkah preventif agar tindakan kekerasan seksual dapat diminimalisasi.

Dengan adanya garis tegas yang diajarkan di sekolah, diharapkan anak-anak akan paham apa itu kekerasan seksual beserta turunannya, sehingga mereka dapat melindungi diri agar tak menjadi korban.

Kedua, di Indonesia belum ada payung hukum ihwal perlindungan terhadap kekerasan seksual. Sebenarnya, ada RUU PKS yang sudah masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2015-2016. Namun, RUU PKS tidak masuk daftar prioritas RUU yang akan disahkan tahun 2016.

Padahal, melihat urgensi berdasarkan banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi, RUU PKS perlu segera disahkan. Pancasila sila ke-2 seharusnya juga dijadikan landasan untuk segera mensahkan RUU PKS ini.

Menunggu terlalu lama berarti membiarkan munculnya korban kekerasan seksual selanjutnya. Tidak dapat dibayangkan jika korban tersebut adalah bagian dari keluarga kita. Stop kekerasan seksual.