Cara pandang kita terhadap kehidupan, menentukan kualitas hidup kita

Hayo hayo siapa disini yang suka buat asumsi sendiri?? Berasumsi tentang apa aja yang terjadi disekitar kita dan bahkan dalam hidup kita. Dan yang dari sekedar asumsi, kita jadi gampang nge-judge segalanya based on our assumption. Misalnya nih,..

“Eh hidup dia tuh enak banget yah, mulus terus jalannya, nggak ada masalah”

“Ih kenapa sih giliran aku yang ikutan, selalu aja kalah,..”

“Aduh, aku nggak bakalan bisa deh seperti dia….”

“Dia mah enak, punya gaji, punya rumah, orang kaya. Sedangkan saya, mesti kerja dari pagi sampai malam untuk penghasilan yang nggak seberapa..”

Dan berbagai macam judging yang kita buat berdasarkan asumsi. Pernah nggak kayak gitu??

Nah, tahu nggak sih kalau ternyata kebiasaan berasumsi atau judging tadi itu bisa membawa pengaruh buruh dalam hidup kita. Iya, khususnya untuk kondisi hati dan mental kita. Sepakat kan kalau hidup ini pilotnya adalah hati?! Jika hati kita selalu positif dan Bahagia, inshaAllah bagaimanapun kehidupan kita, kita akan selalu happy dan bersyukur. Sebaliknya kalau hati kita dipenuhi prasangka yang negative alias asumsi ato judging negative tadi, so pasti hidup kita juga bakal ikut-ikutan jadi buruk.

Dari mulai menimbulkan rasa tidak bersyukur dengan apa yang kita miliki, merasa tidak mampu untuk maju, dan semakin terpuruk dengan perasaan-perasaan negatif kita. Kalo terus terusan tenggelam dalam kebiasaan judging yang buruk seperti ini, hidup kita juga bakal hancur berantakan coy. We will be the loser at the end of our life! Duh, nggak mau kan? Makanya yuk yuk bangkit dan hempaskan kebiasaan berasumsi buruk dan judging ini dari hidup kita.

Yes, please stop judging!

Ubah Negative Though Menjadi Pikiran Positif

Memang benar tidak mudah sih untuk move on dari kebiasaan ini, apalagi buat kita yang saking sudah terbiasanya suka nggak sadar kalau sedang judging others and ourself. Setiap liat orang lebih hebat sedikit aja yang terpikir adalah asumsi negatif duluan. Maka, solusinya yaitu cobalah mengganti asumsi negatif kita dengan POSITIVE THOUGH.

Misal nih, lihat teman sukses di promosiin di kantor, alihkan pikiran negatif kita dengan mengatakan ke diri sendiri “Wah dia hebat yah, dia pasti sudah berusaha”. Atau, misal saat kita gagal meraih apa yang kita upayakan, instead of thrive the negative though seperti “yah, ternyata aku memang nggak layak” atau “aduh blo’on banget sih gue,..”, coba alihkan jadi motivasi positif, kayak gini “well, gpp gagal sekarang, ini terjadi agar aku lebih kuat” atau “pasti ada hikmah baik dibalik kegagalan ini, bismillah, ikhlas yuk ikhlas”

Cobalah cari seribu satu alasan yang BAIK tentang segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Hidup ini kan seperti sekeping koin yah. Terserah kita mau pandang dari arah yang baik atau buruk. Dan Cara Pandang kita terhadap kehidupan menentukan kualitas hidup kita. Jadi hati-hati dengan pikiran kita. Atur otak dan pikiran kita untuk memunculkan alasan-alasan yang baik bukan membiarkan asumsi negatif meracuni pikiran dan hidup kita.

Hindari Toxic Environment

Guys, percaya atau tidak, sikap kita sehari-hari sedikit banyak dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar kita. Orang-orang yang secara intens berinteraksi dengan kita. It can be our families, our friends, temen kantor, atau yah tetangga juga bisa kalau memang kita intens berinteraksi dengan mereka. Nah jika orang-orang di sekitar kita adalah orang-orang yang hobinya berasumsi negatif, maka jangan heran kalo kita juga jadi ikutan gampang judging seperti itu.

Nih yah, terutama bu ibu (based on my true story, hehe :p), biasanya mudah banget kalo pas lagi ada perkumpulan itu men-julid-in rekan sendiri. Pokoknya ada yang beda dikit langsung deh diterpa dengan berbagai asumsi negatif, dilabeli dengan sifat-sifat yang kurang baik, daaaannnn hobi berat ngomongin orang! Yang ibu ibu tolong mengaku, huhu…

Nah, berada dalam lingkungan seperti ini tentu tidak baik buat pengembangan karakter kita. Maka cobalah untuk menghindari toxic environment tersebut. Mungkin jelas kita nggak bisa langsung memutus hubungan begitu saja, tetapi kita bisa mengatur jarak, mengurangi intensitas untuk berinteraksi.

“Aduh ntar kita dicap sombong mba,..”

Iya udah, gpp lah. Yang terpenting niat kita bukan untuk menyombongkan diri kan? Kita ingin lebih baik, menjadi pribadi dengan karakter yang lebih mulia, maka salah satunya mengatur jarak dengan berbagai toxic environment tersebut.

So guys please hati-hati cek cek lagi kita berada di lingkungan dengan karakter orang seperti apa? Kita kudu banget sadar dengan kondisi sekitar kita, agar kita juga bisa mawas diri. Berada di sekitar orang-orang baik tentu akan menyeret kita menjadi orang baik juga.

Kurangi KEPO

Terkadang, asumsi negatif dan kebiasaan judging tadi datang akibat kita terlalu KEPO! Obsess banget to know every particular object tentang hidup orang lah, masalah orang lah, macam macam! Terus sumber KEPO-nya itu salah, seperti social media! Hmmm… di socmed, orang yang kita stalking keliatan happy terus, sukses terus. Lantas kita berasumsi “oh iya, dia mah emang punya privilege” then start judging dengan mudahnya.

Jadi kalau kita mau berubah nih, nggak mudah judging people, and have a wrong assumption, kita mesti mengurangi kadar ke-kepo-an kita terhadap personal life orang lain. Lagian, rajin banget yak, ngurusin orang lain, padahal hidup kita aja butuh banyak perbaikan. Mending, energi untuk kepo tadi kita gunakan untuk berkarya, meng-upgrade diri dengan ilmu dan berbagai ketrampilan, serta beramal shalih.

Kita bener-bener harus set boundaries! Kita sendiri nggak ingin kan, orang terlalu mengetahui segala masalah kita? Karena itu, daripada sibuk kepo. Hayuk atuh luangkan waktu untuk berbagai hal positif.

So come on, ayo guys, sudahi kebiasaan kita untuk men-judge apa-apa yang terjadi di sekitar kita. Men-judge rekan kita, atasan kita, kebijakan di negara kita, presiden kek, atau siapapun. Stop Judging! Toh, bersikap seperti itu tidak mendatangkan kemaslahatan bagi hidup kita sendiri kan?!  Yuk, mari sama-sama belajar membiasakan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dengan mengurangi asumsi negatif dan mudah menghakimi orang lain. Dengan demikian, yakin deh, hidup kita bakal terasa lebih ringan, nyaman, dan so pasti Happy.