97771_90164.jpg
Potret
Gaya Hidup · 2 menit baca

Stop Jadi Anak Muda yang Labil dan Mulailah Berkarya!

Saya adalah laki-laki yang berumur 17 tahun, definisi kemanusiaan bagi saya adalah suatu hak yang harus dimiliki oleh setiap insan. Kemanusiaan artinya memanusiakan manusia dan manusia yang memanusiakan dirinya sendiri. Pemuda sebagai ujung tombak suatu bangsa adalah suatu analogi yang dikumandangkan untuk membakar semangat para pemuda, agar bisa mencapai satu tujuan yaitu manusia yang memanusiakan dirinya dan orang lain.

Generasi milenial adalah generasi yang sangat mahir dalam teknologi. Dengan kemampuannya di dunia teknologi dan sarana yang ada, generasi ini memiliki banyak peluang untuk bisa berada jauh di depan dibanding generasi sebelumnya. Namun sayangnya, dari beberapa statistik yang saya baca, dikatakan bahwa generasi milenial cenderung lebih tidak peduli terhadap keadaan sosial, termasuk politik dan ekonomi. Mereka cenderung lebih fokus kepada pola hidup kebebasan dan hedonisme. 

Generasi milenial merupakan mereka yang lahir sekitar tahun 1990-an hingga 2000-an, yang berarti mereka berusia sekitar 23 – 37 tahun pada tahun 2018 ini. Jika sekolah sesuai dengan umur hingga menempuh S1, berarti mereka mulai bekerja di umur 23 tahun.

Generasi masa kini harus berusaha dan mampu menjadi bijak terutama dalam penggunaan media sosial. Media sosial ini mirip dengan politik, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Kita bisa berguna dan bertambah pintar apabila menggunakan media sosial dengan benar, tapi kita juga bisa menjadi penyebar hoax dan menjadi bodoh apabila kita menggunakan media sosial dengan tidak benar.

Di era ini dengan segala kecanggihan teknologi, tingkat persaingan juga semakin tinggi. Kualitas dan kinerja manusia juga dituntut menjadi semakin tinggi. Generasi masa kini harus mampu beradaptasi dengan cepat, belajar dan menjadi lebih baik dengan cepat serta melakukan navigasi yang lincah dan tepat untuk dapat memecahkan setiap masalah.

Menurut saya, 95% generasi milenial yang saya lihat adalah orang-orang yang paling sering, bahkan selalu terhubung dengan media sosial.Kadang, apa yang dilakukan di media sosial hanya menunjukan eksistensi seperti, sedang apa, di mana, makan di restoran apa, mendengarkan musik apa, bahkan tidak segan untuk mencurahkan isi hati melalui media sosial. 

Generasi milenial memiliki karakteristik yang khas, kita lahir di zaman TV sudah berwarna dan memakai remote, sejak masa sekolah sudah menggunakan handphone, sekarang tiap tahun ganti smartphone dan internet menjadi kebutuhan pokok, berusaha untuk selalu terkoneksi di mana pun, eksistensi sosial ditentukan dari jumlah follower dan like, punya tokoh idola, afeksi pada genre musik dan budaya pop yang sedang hype, ikut latah #hashstag ini #hashtag anu, pray for ini dan anu, dan semua gejala-gejala kekinian yang tak habis-habisnya membuat generasi orang tua kita kebingungan mengikutinya

Terkadang mereka cuek aja,yang penting gaya. Yang penting eksis di media sosial. Yang penting follower-nya banyak. Sekolah atau kuliah cuma jadi ajang pamer harta orang tua (untuk yang berpunya), dan jadi perjuangan untuk yang tipe BPJS. Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita!

Sekali lagi, itulah pendapat dari penglihatan saya terhadap generasi milenial di sekitar. Kamu dan aku perlu membuktikan bahwa tidak semua anak muda seperti itu. Buktikan dengan cara apa? Berkarya!

Tunjukkan apa pun yang menjadi passion-mu pada dunia, pada lingkunganmu dan pada orang tuamu. Kita muda, kita enerjik, dan kita punya banyak ide untuk diwujudkan.

Itulah sedikit pemahaman saya tentang anak muda di zaman millennials. Semoga bisa menambah wawasan dan membuka pikiran kamu tentang identitas generasimu. Stop jadi anak muda yang labil dan mulailah berkarya!