“Maaf ya terlambat, kemarin aku insomnia soalnya.”

“Aku tidak bisa kalau jalan-jalannya di kebun, kan aku pobia ular.”

“Masalah putus kemarin membuat aku depresi.”

Pernahkah Anda mengatakan hal-hal semacam itu pada diri sendiri maupun orang lain? Atau sebaliknya, ada teman atau saudara Anda yang mengatakan seperti itu pada Anda?

Saya yakin Anda pernah mengalami pengalaman tersebut, entah sebagai yang berbicara maupun yang mendengarkannya. Atau mungkin juga dua-duanya. Hehehe.

Terdengar sepele ya?                                                        

Terkesan sepele memang,  namun yang perlu Anda ketahui, jika kita sering melabel diri kita insomnia, depresi, pobia, dan gangguan-gangguan mental lainnya, secara tidak langsung kita mendiagnosis mengalami penyakit atau gangguan-gangguan tersebut.

Mendiagnosis diri sendiri adalah memutuskan pada diri sendiri, bahwa kita mengalami penyakit atau gangguan tertentu berdasarkan pengetahuan yang dimiliki, seperti setelah membaca informasi yang berkaitan dengan keluhan tersebut. 

Orang yang terbiasa mendiagnosis diri sendiri secara berlebihan disebut cyberchondria (White & Horvitz, 2009)

Untuk insomnia misalnya, butuh frekuensi sulit tidur beberapa kali dalam seminggu dan terjadi selama beberapa minggu, baru diagnosis insomnia bisa ditegakkan. Bukan hanya sehari, dua hari, tiga hari tidak bisa tidur, langsung kita label dengan insomnia. Kalau cuma hitungan hari mah itu namanya sulit tidur.

“Tapi, saya tidak bisa tidur udah selama dua tahun lebih, sering tidur di atas jam 23.00, gimana tuh?”, Hmm oke, kalau ini mah kemungkinan besar karena kebiasaan pola tidur larut malam. Jika ragu, akan lebih baik berkonsultasi dengan psikolog dan atau psikiater.

Contoh lain, orang yang sering melabel dirinya sedang atau pernah mengalami depresi. “Gara-gara putus kemarin, aku jadi depresi, karena nangis tiap hari sampek seminggu.”

Haloo, heii, depresi itu kondisi yang tidak bisa dikatakan ringan. Berbeda dengan stres yang sering kita alami Ketika tuntutan tugas atau pekerjaan lebih besar dari kemampuan mengatasi, munculnya stres adalah hal yang wajar.

Kembali pada pembahasan depresi. Menangis selama kurun waktu tertentu, selama ada penyebab dan tidak berkepanjangan, sampai menganggu peran dan fungsi kita, ya bukan depresi namanya. 

Depresinya itu tidak cuma sekedar sedih berkepanjangan. Banyak ciri-ciri lain yang perlu dilihat juga. Saya tidak akan memberikan ciri-ciri tersebut di sini, nanti Anda self diagnose lagi. Hehehe.

Memangnya kenapa sih kita tidak boleh melakukan self diagnose, apa dampak terburuknya?

Baik, saya akan jelaskan menggunakan ilustrasi cerita. Misalnya, Anda adalah seorang pegawai negeri dengan tugas harian sebagai tenaga penyuluh atau sosialisasi ke masyarakat. Lalu saat pertama kali melakukan penyuluhan, Anda merasa gagal karena bicara tidak lancar dan merasa ditertawakan audience

Sejak saat itu Anda menganggap diri Anda orang yang tidak bisa berbicara di depan umum dan memilih meminta bantuan rekan kerja lain untuk menggantikan Anda setiap ada tugas penyuluhan.

Menurut Anda, apa dampaknya pada diri Anda?

Apakah Anda merasa nyaman dan percaya diri bekerja di bidang tersebut?

Apakah Anda ingin terus berkembang dalam menjalankan pekerjaan tersebut?

Apakah Anda menikmati, merasa berharga, dan bahagia menjalankan pekerjaan tersebut?

Saya yakin jawaban Anda dari semua pertanyaan di atas adalah tidak. Mungkin setiap Anda diberikan tugas lapangan untuk penyuluhan ke masyarakat, Anda menjadi stres atau cemas. Berpikir untuk menghindarinya.

Ini bermula dari pelabelan pada diri Anda sendiri. “Aku tidak bisa berbicara di depan umum”. Di mana sebenarnya ada dua respon yang bisa Anda pilih, yaitu menghadapi atau menghindari. 

Respon menghindari tersebutlah yang membuat Anda semakin memiliki beban yang berat ketika dihadapkan pada peristiwa yang Anda hindari tersebut.

Padahal kalau kita coba telaah lebih dalam dan mencoba berpikir rasional, wajar sekali orang yang jarang bahkan baru pertama kali berbicara di depan umum merasa sangat gugup dan kurang lancar. 

Jangankan yang jarang, yang sering berbicara di depan umum pun banyak yang masih sering salah alias tidak sempurna. Namun pelabelan yang sudah melekat, terlebih sudah lama dan dalam, membuat kita menjadi sulit percaya kembali bahwa label tersebut sebenarnya tidak benar.

Nah, kembali pada pembahasan kita terkait pelabelan diagnosis gangguan mental, seperti insomnia, pobia, depresi, bipolar, dan sebagainya. 

Ketika kita melabel diri kita tidak bisa berbicara di depan umum saja kita sudah merasakan stres, cemas, dan hal-hal tidak nyaman lainnya. Apalagi kita melabel diri kita mengalami suatu gangguan tertentu?

Kita melabel diri kita depresi. Meskipun kemungkinannya juga bisa benar, tapi label tersebut secara sadar maupun tidak sadar kita bawa ke mana-mana dalam pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakan kita. 

Bersemayam dibalik diagnosis depresi yang kita buat sendiri, yang belum tentu benar tersebut membuat kita menilai diri kita lemah, sulit menghadapi tekanan yang muncul, apalagi tekanan yang kita anggap besar, kita akan semakin rentan.

Kerentanan ini membuat mentalitas kita tidak kuat. Kita menjadi bergantung pada orang lain, menjadi tidak berani melangkah, dihantui pikiran-pikiran negatif yang semakin banyak. 

Jika kerentanan ini terus menerus terkikis, maka dampaknya jadi semakin parah, yang terburuk adalah terpikir untuk menyakiti diri dan pecobaan bunuh diri.

Kecuali, jika kita merasa memilkiki indikasi gangguan tertentu, lalu kita segera pergi ke profesional, baik itu ke psikolog maupun ke psikiater, untuk memastikan dan menyelesaikannya, itu malah bagus. Artinya kita memiliki kesadara untuk menyelesaikan permasalahan mental yang terjadi pada diri kita.

Jadi, bagi Anda yang merasa telah lama atau baru merintis melabel diri mengalami gangguan mental tertentu, namun tidak segera kunjung pergi ke profesional, malah sibuk terus memikirkannya saja, tidak menyelesaikannya degan baik, yang terbaik adalah mulai sekarang stop!

Caranya bagaimana?

Anda bisa melabel diri Anda mengalami suatu gangguan tertentu. Saya yakin Anda juga bisa melabel diri Anda adalah orang yang memiliki mental yang kuat. 

Kita perlu pahami bahwa pengalaman menyakitkan dulu yang kita alami yang membuat kita marah, sedih, atau kecewa, mungkin belum sepenuhnya bisa Anda terima. 

Mulai sekarang Anda bisa belajar memaafkan dan menerima hal-hal yang sudah terjadi, seberat apapun itu. Akan lebih baik lagi, ambil pelajaran terbaiknya.

Dengan berproses berdamai dengan masa lalu, adalah salah satu cara dan bukti bahwa kita bisa kok melewati itu. Jadi adanya label yang kita sematkan pada diri kita karena peritiwa masa lalu, bisa jadi perlahan-lahan memudar.

Selamat berproses menghentikan memberi diagnosis gangguan mental pada diri sendiri. Pelan-pelan saja, yang penting konsisten.

Salam Sehat Jiwa.

Referensi

White, R. W., & Horvitz, E. (2009). Cyberchondria: Studie of the Escalation of Medical Concerns in Web Search. ACM Transactions on information Systems.