Term  bajual (kupang, NTT) sejajar arti dan makna dengan kata menjual. Bajual (baca: menjual)  merupakan bentuk kata kerja. Bentuk kata bendanya adalah jual. Dengan demikian menjual merupakan suatu actus humanum, tindakan yang dilakukan oleh seseorang untuk menjual sesuatu entah barang  pun jua jasa. Jual tidak bias dimengerti tanpa korelasi dengan beli. Jual mengandaikan adanya beli, demikian sebaliknya.

Menjual dan membeli erat kaitannya dengan dunia bisnis atau perdagangan. Di sini berlaku hukum pasar; di mana dari aktus menjual diharapkan akan mendapatkan keuntungan bagi si penjual dan tentunya ada nilai guna yang diperoleh pembeli dari barang yang dibelinya. Transaksi jual beli ini sudah dilakukan sejak lama. Bahkan sebelum adanya uang sebagai alat tukar resmi sudah dipraktekkan sistem barter. Transaksi jual beli ini dalam arti tertentu sudah seusia peradaban manusia.

Dalam melakukan transaksi jual beli, tentu harus ada barang/jasa sebagai objek. Barang/jasa inilah yang  menjadi alasan adanya transaksi jual beli, selain keuntungan yang akan diperoleh nantinya. Hukum pasar menjadi titik tolaknya di sini. Meraup keuntungan sebesar-besarnya sekaligus memperkecil kemungkinan kerugian.

Hemat saya, pemberlakuan hukum pasar inilah yang menjadi dasar adanya praktik curang dalam transaksi jual beli. Penjual berjuang semaksimal mungkin (bahkan dengan menghalalkan segala cara) demi meraup untung. Praktek “bajual orang” (baca: Human Trafficking) adalah salah satu contoh konkretnya.

NTT dan Human Trafficking

Oleh segelintir orang, NTT sering diplesetkan dengan “Nasib Tidak Tentu”. Ketidaktentuan nasib mengais rezeki di bumi NTT menjadi alasan bagi segelintir orang NTT mengadu nasibnya di negeri lain. Bukan cerita baru kalau ada banyak TKW asal NTT di Malaysia, Singapura, Hongkong dan Negara lainnya. Meski tidak mengantongi izin resmi serta tanpa bekal ketrampilan teknis dan bahasa yang mumpuni.

Ketidaktentuan nasib pulalah yang menjadi factor penentu kesiapan orang untuk direkrut menjadi TKW meski melalui jalur non-prosedural. Proses perekrutan tanpa melalui jalur formal-legal disertai iming-iming meraup uang sebanyak-banyaknya di Negara tujuan menjadikan bumi “NasibTidakTentu” ini sebagai gudang Human Trafficking.

Bukan tanpa alasan orang melakukan praktek ini. Jelasnya demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. Praktek Human Trafficking sangat menjanjikan. Bayangkan, sejak terlibat dalam jaringan mafia human trafficking mulai tahun 2015 lalu, YLR, seorang petugas outsorching (tenaga lepas) PT Angkasa Pura di Bandara El Tari-Kupang berhasil meraup uang 2,6 miliar (pos kupang,24/08/2016).

Warta pos kupang di hari yang sama menyebutkan harga jual calon TKW asal NTT di Malaysia berkisar 4,5 juta-27 juta rupiah. Dan bahkan untuk mendapatkan satu unit mobil jenis Daihatsu Xenia, seorang mafia human trafficking cukup menukarkannya dengan 20 orang TKW asal NTT.

Menurut pengakuan para tersangka pelaku human trafficking sebagaimana disampaikan Kapolres Kupang, AKBP Adjie Indra Dwiatma (kompas.com, 23/08), harga jual para calon TKI sama seperti hokum pasar.

Ketika stok kosong, harga akan mengalami kenaikan. Menyimak fakta miris ini, lantas apa yang terlintas di benak kita? Bukankah menjadi mafia human trafficking adalah pekerjaan  yang sangat menjanjikan demi mengubah ketidaktentuan nasib? Hati-hati, manusia bukan komoditas yang pantas diperdagangkan. Stop bajual orang!

Ketika Manusia (NTT) menjadi Komoditi

Deklarasi universal hak asasi manusia  (Universal Declaration of Human Rights) yang diratifikasi oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Paris pada 10 Desember 1948 merupakan moment kesadaran sejarah umat manusia. Pengakuan dan pemakluman sikap tentang pentingnya hak merupakan satu unsure penting yang menyingkapkan kesadaran historis manusia masa kini, yang bersumber pada pengakuan terhadap martabat manusia sebagai norma objektif bagi tingkahlaku moral-politik, yang dilihat sebagai operasionalisasi hormat terhadap HAM….(Frans Ceunfin (ed.), 2007).

 Keberadaan HAM tidak didasakan pada factor kontingen. Ia ada dan melekat dalam diri manusia karena kemanusiaannya. Bukan pemberian dari otoritas atau institusi tertentu. Dalam pasal 4 deklarasi universal HAM tertulis : “tidak seorang pun boleh diperbudak atau diperhamba; perhambaan dan perdagangan budak dalam bentuk apapun harus dilarang”.

Ketika manusia (NTT) menjadi komoditi, pertanyaan yang bakal timbul ialah; sudah sejauh mana deklarasi universal HAM ini terinterrnalisasi dalam kesadaran historis kita orang NTT? Jelas masih banyak manusia NTT yang buta aksara. Minim akses pendidikan formal. Apalagi dipaksa menginternalisir butir-butir deklarasi tersebut. Agak sulit memang. Namun berhadapan dengan human trafficking pemberlakuan principium rationis sufficientis (prinsip alasan yang mencukupi) adalah tidak pada tempatnya.

Meski deklarasi ini belum pernah disosialisasikan kepada kita, setidak-tidaknya di dalam kesadaran nurani kita sebagai makhluk rasional dan berakal budi, human trafficking merupakan tindakan amoral. Manusia, siapa pun dia (NTT sekalipun), tidak bias dijadikan komoditi, apa pun alasannya. Merupakan penyangkalan radikal atas martabat luhur manusia ketika manusia dijadikan komoditi.

 Transaksi jual beli dan hukum pasar tidak pantas menjadikan manusia sebagai objek perdagangan. Nilai kemanusiaan manusia tidak bias ditakar dan ditukar dengan uang. Sekali lagi, manusia bukan komoditi. Implikasinya, jangan perdagangkan manusia.

Stop Human trafficking, save NTT

Human trafficking merupakan tindakan kejahatan kemanusiaan. Menangkap dan menghukum mafia human trafficking mesti menjadi opsi utama guna menyelamatkan para TKW asal NTT.

Manusia NTT (TKW) –sama seperti manusia lainnya- bukanlah komoditi yang pantas diperdagangkan. Wacana memerangi mafia human trafficking haruslah dibarengi aksi nyata. Untuk menyelamatkan TKW asal NTT tidak bias kita serahkan sepenuhnya tugas ini kepada pihak kepolisan dan pemerintah. Idealnya ialah tanggungjawab bersama seluruh masyarakat NTT.

Sebagai insan terdidik, terlebih khusus di sini saya mengajak seluruh teman mahasiswa sepersada flobamora; mari kita wujudkan aksi nyata kita memerangi human trafficking dengan terlebih dahulu memberdayakan lapisan kesadaran masyarakat di sekitar kita.

NTT kita bukanlah bumi yang tidak tentu nasibnya. NTT tidak miskin, Cuma stigmatisasi. Stigma buruk ini diperparah dengan mental pragmatis –konsumeristik. Inilah akar masalah mengapa manusia NTT gampang diperdagangkan. Mari kita patahkan pandangan serta mental pragmatis-konsumeristik ini, mental masyarakat NTT kita.

Uang ada untuk manusia bukan sebaliknya. Jadi tidak ada alasan manusia menghambakan diri pada uang.   Jangan tanyakan pada NTT apa yang sudah dibuatnya untuk kita, tapi tanyakan pada diri kita masing-masing, apa yang telah dan ingin kita buat untuk membangun NTT menjadi lebih baik. Memerangi human trafficking demi menyelamatkan NTT merupakan salah satu pemberian diri kita untuk membangun NTT. Stop bajual orang NTT, save NTT. Salam liberasi! #LombaEsaiKemanusiaan