Abad 21 ini tak menghalangi masyarakat Indonesia untuk memberikan anggapan-anggapan serta stigma yang membatasi manusia lainnya. Stigma-stigma tersebut acapkali disematkan dalam diri perempuan. 

Sehingga dengan adanya stigma tersebut perempuan tak lagi bebas dengan dirinya sendiri. Stigma yang acapkali disematkan pada diri perempuan yakni mengenai masak, manak, macak. 

Stigma tersebut seakan menjadi sifat dasar yang patut dimiliki serta diberikan bagi perempuan sebagai tugas dasar dalam hidupnya. Dengan adanya stigma tersebut, perempuan tak lagi bisa dan tidak bisa mencari serta menemukan dirinya secara otentik.

Pada tulisan kali ini penulis akan memberikan gagasan mengenai stigma yang melekat dalam diri perempuan mengenai masak, manak, macak. Stigma tersebut tentu membenai perempuan dan meniadakan perempuan akan kebebasan dan otensisitas dalam dirinya. 

Oleh sebab itulah, penulis meninjau ulang stigma tersebut dengan menggunakan pemikiran dan konsep mengenai perempuan yang berdaya menurut pandangan Simon de Beauvoir. 

Ia merupakan seorang filsuf feminis serta rekan diskusi sepanjang hidup dari Jean Paul Sartre. Lantas bagaimanakah stigma masak, manak, macak ditinjau dan dikritisi oleh pandangan perempuan berdaya menurut Simon de Beauvoir?

Stigma Masyarakat bagi Perempuan

Masyarakat Indonesia di abad 21 ini masih memiliki anggapan atau stigma bagi perempuan. Stigma yang acapkali diberikan bagi perempuan-perempuan Indonesia tersebut ialah masak, manak, macak. 

Stigma tersebut telah ada sejak zaman dulu. Hal ini tentu tak lepas dari pengaruh sistem pemerintahan feodal di zaman lampau serta budaya patriarki yang sangatlah kuat dalam kehidupan sosial dan masyarakat Indonesia. 

Bahkan hingga saat ini pun segala upaya tersebut masih terus digalakkan yakni upaya untuk membebaskan diri dari kungkungan stigma tersebut serta menumbuhkan perempuan yang tangguh serta pandangan yang positif dan tidak melemahkan dari segenap masyarakat terhadap perempuan.

Stigma masak, manak, macak cenderung bernuansa negatif sebab hanya membatasi kemampuan perempuan sebatas itu saja. Bahkan ada sebuah ungkapan yang terkesan berat sebelah dan merendahkan bagi perempuan yakni, "ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya hanya di dapur dan di kasur?" 

Stigma dan ungkapan tersebut memiliki pandangan seolah-olah perempuan tidak dapat berkembang secara lebih lagi serta tidak dapat menentukan dirinya dengan kebebasan pilihannya dan jalan hidupnya ke depan. 

Perempuan seolah-olah hanya berkembang sebatas bentukan dari budaya masyarakat sekitar yang lebih mengedepankan pemikiran dan budaya patriarki. 

Selain itu pula, stigma tersebut juga mengandaikan bahwa laki-laki berhak untuk memberikan peran perempuan sebatas masak, manak, macak dan tidak lebih dari itu.

Stigma masak, manak, macak juga sama halnya mengubur habis-habis mimpi-mimpi serta segala potensi yang ada dalam diri perempuan. 

Tak hanya itu, pandangan tersebut juga cenderung menyamaratakan semua perempuan dan sebagai tolok ukur perempuan yang sejati dan sebenarnya haruslah memiliki kemampuan masak, manak, macak. 

Sehingga dengan demikian ada konsekuensi lainnya yakni apabila perempuan hanya sebatas stigma tersebut maka sama halnya ia tidak lagi bebas untuk menentukan dirinya. Sebab ketentuan dalam dirinya sudah ditentukan oleh masyarakat umum. 

Selain itu pula, apabila perempuan tidak sesuai dengan stigma masak, manak, macak maka dapat dikatakan bahwa perempuan tersebut bukanlah perempuan baik-baik dan bukanlah perempuan sejati. Lalu bagaimanakah perempuan harus bertindak di zaman yang sudah berkembang pesat ini?

Perempuan Berdaya dari Kaca Mata Simon de Beauvoir

Emansipasi subjek menurut pandangan Simone de Beauvoir ialah manusia secara kodrat dicipta berbeda tapi tidak lebih rendah dari manusia lainnya. Sehingga dengan demikian terdapat kesetaraan antar subjek. 

Namun dalam kehidupan masyarakat secara umum dan turun-temurun ialah memandang rendah perempuan di bawah lelaki.

Pandangan tersebut bukanlah pandangan kodrati melainkan pandangan bentukan yang dapat diubah. Perubahan pandangan tersebut haruslah bersifat resiprokal/saling berbalas. 

Maksudnya yakni perubahan tersebut bukan semata dari kaum perempuan semata, melainkan pula membutuhkan peran kaum lelaki. Sebab sebagian besar yang membuat peranan tersebut ialah lelaki.

Tindakan yang perlu diupayakan untuk mewujudkan perempuan yang berdaya ialah para lelaki harus menggugurkan gagasan bahwa subjektivitasnya menjadi penuh ketika mengobjekkan perempuan. 

Hal lainnya ialah perempuan harus mengembangkan subjektivitasnya yakni dengan cara mengembangkan kecerdasannya, ketrampilan, serta bakat dan talentanya. 

Hal tersebut bertujuan supaya para perempuan dapat ikut serta berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Simon de Beauvoir, seorang perempuan yang sadar akan kebebasannya akan mampu untuk memilih serta menentukan jalan hidupnya secara bebas dan leluasa dan yang lebih penting dari hal tersebut yakni seorang perempuan akan mampu untuk menolak keadaannya dirinya dari pengobjekan diri. 

Pemikiran dan gagasan dari Simon de Beauvoir dapat menjadi pemantik semangat bagi semua perempuan di dunia untuk berjuang meraih kebebasannya dan tak hanyut dalam pandangan serta stigma masyarakat.

Stigma Perempuan VS Perempuan Berdaya

Stigma bagi perempuan Indonesia mengenai masak, manak, macak masih sangat melekat hingga abad 21 ini. Hal ini sungguh tak mengherankan sebab stigma tersebut merupakan warisan budaya pemerintahan feodal serta budaya patriarki yang mendarah daging dalam kehidupan sosial dan budaya segenap masyarakat Indonesia. 

Stigma masak, manak, macak tersebut tentu membatasi ruang gerak perempuan Indonesia untuk dapat mengembangkan diri. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip dan gagasan dari Simon de Beauvoir mengenai emansipasi subjek. 

Pandangan emansipasi subjek dari Simon de Beauvoir menekankan bahwa manusia secara kodrat diciptakan berbeda namun setara yakni tidak lebih rendah dari manusia lainnya.

Stigma mengenai masak, manak, macak yang berlaku di kalangan masyarakat Indonesia tersebut merupakan sebuah anggapan yang merendahkan perempuan. 

Sebab pandangan tersebut seolah membatasi perempuan yang hanya memiliki kemampuan sebatas masak, manak, macak dan tidak lebih dari itu. Melihat hal tersebut, secara gamblang bahwa stigma masak, manak, macak yang ada dalam masyarakat Indonesia sangat bertentangan dengan kodrat manusia yang diciptakan setara tanpa merendahkan yang lainnya. 

Stigma tersebut dinilai merendahkan sebab hanya mengukur perempuan dari tiga kemampuannya saja yakni masak, manak, macak dan tidak bisa serta tidak boleh lebih dari itu.

Pandangan masak, manak, macak tersebut bukan hanya merendahkan perempuan namun juga bertentangan dengan kodrat manusia yang diciptakan berbeda-beda. 

Stigma mengenai masak, manak, macak memberikan pembatasan perempuan dan cenderung menyamaratakan bahwa perempuan memiliki tolok ukur serta kualifikasi seperti pada stigma tersebut. 

Stigma tersebut tidak bisa membuat perempuan untuk bertindak lainnya dan hanya tiga hal itu saja. Tak hanya itu, pandangan masak, manak, macak merupakan bentukan dari budaya patriarki yang ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehingga dengan hal itulah perempuan tidak bisa membentuk dirinya sendiri menjadi pribadi yang otentik.

Stigma mengenai masak, manak, macak tersebut membuat perempuan tidak bisa berkembang lebih lagi. Oleh sebab itulah dibutuhkan upaya untuk dapat keluar dari zona batasan stigma masyarakat tersebut. 

Upaya tersebut menurut Simon de Beauvoir dikenal sebagai perubahan resiprokal. Perubahan ini mengajak untuk berubah dengan saling berbalas. 

Hal ini mengartikan bahwa perubahan stigma tersebut bukan hanya diupayakan oleh perempuan saja melainkan pula peran dari laki-laki sebab stigma tersebut merupakan bentukan dari budaya patriarki yang sangatlah kental di kalangan masyarakat Indonesia.

Kesimpulan

Stigma masak, manak, macak seakan melekat erat dalam kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini tentu membuat perempuan tak lagi bebas dengan dirinya sendiri serta tidak bisa menentukan dirinya secara lebih lagi. 

Dengan hal tersebutlah Simon de Beauvoir mengajak perempuan dan segenap masyarakat untuk berjuang membebaskan diri dari adanya hal-hal yang tak sesuai dengan kesetaraan manusia baik laki-laki ataupun perempuan. 

Gagasan yang ditawarkan yakni emansipasi subjek yang bersifat resiprokal atau saling berbalas. Dengan gagasan tersebut perempuan diajak untuk menjadi berdaya bagi masyarakat. 

Selain itu pula laki-laki juga diajak untuk mendukung peruntuhan stigma masak, manak, macak dengan tidak memandang perempuan secara sebelah mata dan tidak membatasi kemampuan dan potensi perempuan sebatas masak, manak, macak namun bisa lebih dari hal itu. Sebab manusia bisa berkembang secara bebas bagi dirinya sendiri.