Hal pertama yang harus kita pahami adalah apa itu miras (minuman keras) atau minuman beralkohol, serta bagaimana pemerintah mengaturnya, akan sangat memalukan Ketika kita generasi muda hanya berkoar-koar di media sosial tanpa mengetahui yang sebenarnya.

Disadari atau tidak, pola pikir yang sedikit radikal itu perlu. Jika kita mecoba untuk memahami lebih jauh, sejatinya banyak pelaku usaha yang memproduksi miras, dan tidak sedikit dari kita yang ikut menikmatinya.

kebijakan dari pemerintah terkait minuman keras

Disebutkan dalam 1 angka 1 peraturan presiden (perpres) nomor 74 tahun 2013 tentang pengendalian dan pengawasan minuman beralkohol, bahwa minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etil alcohol atau etanol (C2H50H) yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau feremntasi tanpa destilasi.

Sedangkan klasifikasinya disebutkan dalam pasal 3 ayat (1). Bahwa miras dibagi menjadi tiga golongan. Pertama, minuman yang mengandung etil alkohol dibawah 5%, kedua antara 5% -20%, dan ketiga antara 20% - 55%. Dan ketiga golongan tersebutlah yang ditetapkan sebagai barang dalam pengawasan.

Dalam perpers nomor 10 tahun 2021 tentang bidang usaha penanamna modal, Disebutkan dalam lampirannya bahwa industry minuman keras yang mengandung alcohol dimasukkan kedalam daftar usaha dengan persyaratan tertentu.

Syaratnya ialah pertama, untuk penanaman modal baru dapat dilakukan pada provinsi bali, NTT, Sulawesi utara, dan papua, dengan memperhatikan budaya dan kearifan setempat. Kedua, penanaman modal diluar ketentuan pertama, dapat ditetapkan oleh kepala badan koordinasi penanaman modal berdasar usulan gubernur.

Adanya lampiran perpres terkait dengan legalisasi investasi miras mendapat penolakan keras dari mayoritas masyarakat. Saya tidak faham apa maksud dan tujuan dari penolakan ini, bahkan teman saya yang kerjaannya mabuk, ikut-ikutan teriak di medsos-nya menolak perpres tersebut.

Jika kita berpikir lebih jauh, selama ini begitu banyak pelaku usaha yang memproduksi miras secara illegal, hal ini terjadi karena selain sulitnya mengurus perizinan, pelaku usaha tersebut tidak ingin produksinya distop karena mendapat penolakan oleh warga. Disatu sisi, permintaan pasar yang cukup tinggi, yang tejadi adalah menghalalkan segala cara.

Anehnya lagi banyak para tokoh masyarakat yang berpendapat bahwa miras adalah salah satu factor yang dapat merusak peradaban anak muda dan masa depan bangsa. Pertanyaannya sekarang adalah “memangnya selama ini kita sudah beradab.?, jika memang iya, tolak ukur orang dikatakan beradab itu seperti apa dan bagaimana.?”. 

Para pemimpin kita yang mengatakan dirinya bersih dan bijak, sebelum mengemban amanahnya disumpah atas nama tuhan disertai kitab suci diatas kepalanya, pada akhirnya banyak juga yang tertangkap oleh KPK atas kasus korupsi. Apa itu dikatakan beradab.

Mari Berpikir Lebih Praksis

Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama islam. didalam ajarannya, islam melarang setiap penganutnya untuk meminum segala hal yang memabukkan baik itu khamr, bir, arak, dll. Sedangkan faktanya, tidak sedikit dari mereka menikmati miras tersebut.

Hal ini sama halnya dengan bagaimana respon masyarakat terhadap prostitusi. Banyak yang menolak keberadaan lokalisasi tersebut, tetapi tidak menutup kemungkinan dari mereka juga ikut menikmati, kenapa hal ini bisa terjadi.?

Analogi saya, Manusia / mahluk mana yang tidak membutuhkan seks, orang yang suka miras atau suka pergi ke tempat prostitusi sama halnya dengan orang yang kebelet be-a-be. Mereka akan mengupayakan segala cara agar dapat memuaskan hasratnya, jika tempat atau lokasisasi tersebut tidak ada, maka mereka akan buang kotoran sembarangan.

“makanya nikah”, kata teman sambil menampakan ekspresi bercandanya. Pertanyaan saya “memangnya semua orang mau menikah.?”. disadari atau tidak miras dan prostitusi merupakan ladang bisnis yang menjanjikan, terlepas dari segala resikonya, kita tidak boleh menutup mata.

Saya muslim, saya paham betul bagaimana agama saya melarang umatnya mengkonsumsi segala hal yang memabukkan. Sampai sekarang usia saya sudah 22 tahun, setetespun belum pernah meneguk bir, arak, dll. Akan tetapi kali ini saya setuju dengan Langkah pemerintah untuk menerbitkan peraturan terkait legalisasi investasi minuman keras (syarat dan ketentuan berlaku), apalagi ditengah pandemi seperti sekarang, sepatutnya pemerintah bekerja lebih ekstra lagi.

Jika pun ada yang berpendapat bahwa pemerintah kurang kreatif, dalam hal ini terkait dengan Langkah yang diambil pemerintah untuk memulihkan perekonomian, silahkan sampaikan gagasan kreatif anda, saya yakin pemerintah akan lebih respect terhadap warganya.

Yang harus kita pahami Bersama adalah bahwa minuman beralkohol termasuk kedalam bidang usaha terbuka bagi kegiatan penanaman modal. Jika peraturan presiden tentang penanaman modal tersebut dicabut, itu berarti tidak ada rincian yang jelas terkait dengan batasannya, yang berarti bahwa investasi terkait minuman beralkohol boleh dilakukan di seluruh Indonesia, tidak lagi terbatas pada beberapa daerah/provinsi saja.