Merokok merupkan kegiatan konsumtif yang sudah menjadi hal lumrah di kalangan masyarakat. Seorang pecandu rokok mampu menghabiskan berbungkus-bungkus rokok dalam sehari. Namun kegiatan merokok masih menjadi suatu hal yang tabu, apabila pegiatnya adalah seorang perempuan. Setidaknya begitulah dalam lingkungan masyarakat tempat saya tinggal.

Di masa Roro Mendut sendiri, yang tertulis Dalam Teks Babad Tanah Jawi, seorang perempuan merokok dinarasikan sebagai simbol kemandirian dan perlawanan pada sistem patriarki. Roro Mendut memperlihatkan kemandiriannya dengan berjualan rokok yang dilinting menggunkan air liurnya. 

Namun seiring waktu berjalan perempuan perokok sering kali mendapat diskriminasi berupa citra buruk dalam masyarakat, serta dilabeli dengan sebutan ‘wanita nakal’. Tak jarang perokok perempuan dianggap murahan dan diidentikkan dengan gaya hidup yang hedonis. 

Kokohnya stigma buruk tersebut juga diakibatkan karena adanya konstruksi sosial yang diciptakan melalui filem-filem yang mempresentasikan kehidupan perempuan-perempuan perokok yang sering kali digambarkan berperilaku menyimpang.

Kurangnya emansipasi antara laki-laki dan perempuan juga turut menjadikan perempuan perokok lebih sering menerima stigma buruk dibandingkan dengan perokok laki-laki yang sudah dianggap biasa saja. 

Perokok laki-laki juga sering kali menunjukkan kritikan ketidaksukaannya kepada perokok perempuan. Seperti yang pernah terjadi oleh teman perempuan saya yang merupakan pecandu rokok, ia mendapat kritikan pedas oleh teman lelakinya yang juga seorang perokok berat. Padahal teman perempuan saya telah cukup umur dan sedang tidak hamil.

Tentunya hal ini menandakan bahwasannya budaya patriarkial belum sepenuhnya hilang dalam sebuah tatanan  masyarakat. Perempuan masih dianggap sosok yang lemah fisiknya dan tidak boleh merokok agar tetap menjadi seorang wanita dengan label ‘baik-baik’. 

Perempuan merokok juga dianggap tidak memiliki moral karena dapat menjadi contoh yang buruk, apalagi jika perempuan tersebut telah memiliki anak. Terkadang kalangan konservatif juga masih belum bisa menerima bahwasannya perempuan ‘tidak apa-apa jika merokok’.

Bahkan perempuan yang bekerja di perkebunan di kawasan yang dingin cenderung merokok untuk menghangatkan tubuhnya. Memang jika ditinjau dari segi kesehatan merokok bukanlah hal yang dianjurkan, karena dapat merusak kesehatan. 

Karena rokok di jaman sekarang telah mengandung nikotin, berbeda dengan rokok tembakau lintingan di masa lampau. Tetapi resiko kesehatan bukan hanya menyerang perempuan saja, tetapi perokok laki-laki juga. Lantas kenapa harus menghalangi perokok perempuan saja. Karena konsekuensi dalam merokok ditanggung oleh tubuh masing-masing pecandunya, baik laki-laki maupun perempuan.

Jika dilihat dari sisi Demokrasi pun, merokok juga menjadi hak kaum perempuan. Selama mengikuti aturan dan ketentuan dalam merokok. Sama seperti mayoritas perokok laki-laki yang memiliki alasan mengapa dirinya memutuskan untuk merokok. 

Perempuan juga pasti memiliki alasan tertentu mengapa dirinya memutuskan untuk menjadi seorang perokok, dengan konsekuensi yang lebih berat dibandingkan perokok laki-laki.

Seharusnya pimikiran kolot tentang tabunya seorang perempuan merokok tidak lagi dipelihara, karena keproduktifan dan baik buruknya seorang perempuan tidak bisa dinilai dari merokok atau tidaknya perempuan tersebut. 

Memang ada juga sebagian perempuan yang merokok dan tidak produktif. Tapi apakah seorang perempuan yang tidak merokok juga bisa dipastikan akan produktif? Sama sekali tidak kan.

Mari kita melihat realitas yang ada, bahwasannya telah banyak kita temukan perempuan-perempuan merokok yang telah terbukti keproduktifannya. Baik yang tersorot oleh publik maupun tidak. Saat ini pun kita memiliki sosok-sosok perempuan tersohor tanah air yang juga seorang perokok. 

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti merupakan salah satu pesohor tanah air yang terkenal akan ketegasannya saat menjabat sebagai Mentri Kelautan dan Perikanan terhadap penangkapan ikan ilegal. Bahkan beliau tidak segan-segan memberikan sanksi tegas terhadap kapal-kapal ilegal yang telah tertangkap. 

Selain memamerkan tato yang berada di kakinya, beliau juga tidak segan merokok di hadapan banyak orang. Terbukti dengan banyaknya foto-foto yang beredar ketika beliau sedang menikmati rokoknya.

Lalu kita juga memiliki penulis dengan label “sastra wangi”, yakni Djenar Maesa Ayu, sosoknya merupakan seorang penulis sastra berbau feminisme yang merupakan perokok aktif. Dunia tulis menulis berhasil menghantarkan sosok Djenar menjadi seorang aktivis perempuan dan artis film. 

Melalui cerpen-cerpen dan novelnya yang kental akan feminism, Djenar mampu mendobrak batas ketabuan penulisan sastra di Indonesia dengan narasi-narasi vulgarnya. Keberaniannya dalam menulis dengan tema feminisme dianggap sebagai kebangkitan pengarang perempuan era 2000-an.

Seniman muda Danilla Riyadi, merupakan musisi wanita yang telah aktif sejak tahun 2013 hingga saat ini. Sosoknya merupakan penyanyi indie yang namanya mungkin tidak asing lagi di kalangan anak muda. 

Ia banyak digemari karena suaranya yang khas dan unik, ia pun pandai dalam memainkan gitar dan pianika. Wanita bertato ini juga menjadi menarik karena dirinya yang selalu merokok ketika sedang bernyanyi di atas panggung.

Beberapa perempuan diatas telah membuktikan bahwasannya rokok tidak menghambat seorang perempuan dalam berkarya. Sebagai masyarakat yang menganut sistem Demokrasi, sudah seharusnya kita menghormati dan menghargai keputusan seorang perempuan untuk merokok, selagi ia merokok sesuai dengan ketentuan yang berlaku.