Sebuah judul artikel dari media online terkenal lewat di beranda Facebook. Judul yang cukup menarik untuk dikomentari, "Cuma Jualan Ayam Potong, Wanita ini Hadiahi Suaminya Mobil Mewah atas Kerja Kerasnya".

Sebetulnya tidak ada yang aneh dengan judul tersebut. Tulisan yang disampaikan juga bukan suatu kontroversional, tetapi justru memberikan semangat buat pedagang yang pernah diejek dan diremehkan pekerjaannya justru bisa menjawab dengan keberhasilan ekonomi.

Penulis hanya merasa risih dengan kata "cuma" dalam judul tersebut. Seolah-olah ada stigma bahwa pedagang itu pekerjaan sepele dengan hasil kecil dan tidak pantas membeli mobil mewah seperti dalam cerita di atas. 

Pernyataan seperti itu bukan cuma sekali atau dua kali sampai ke ruang publik. Pernah juga ada tulisan yang berisi anak seorang pedagang gorengan bisa lulus UGM. 

Hal senada juga sering dibicarakan dalam masyarakat luas. "Hebat ya, cuma jualan beras anaknya bisa jadi polisi". Ungkapan tersebut membawa pesan takjub dan tidak percaya.

Hasil berjualan memang tidak pasti, namun kita yakin rezeki itu pasti dan tidak tertukar. Hasil dari berjualan juga dihitung dari setiap interaksi, meskipun untung sedikit namun interaksinya berulang. 

Misal pedagang ayam, dia beli ayam dari petani @25rb/ayam (harga bisa berbeda setiap petani). Satu ayam kurang lebih 2 kg daging, sedangkan kepala, cakar ayam, dan ampela ati serta usus itu masuk bonus saja.

Kalau 1 kg daging Rp35.000, maka satu ekor ayam 2 x 35.000 = 70.000 + kepala ayam (2000) + cakar (1000) + usus, ati, ampela (3000). Hasilnya, 76.000 - 25.000 = Rp51.000/ekor ayam.

Itu contoh kecil saja. Pedagang lain pun punya kegiatan ekonomi yang hasilnya tidak kecil seperti yang mungkin diperkirakan mereka yang tidak menekuni dunia usaha. Seperti penjual gorengan, angkringan, dan penjual (kecil) lainnya. 

Stigma seperti di atas biasanya dilemparkan begitu saja oleh kalangan pekerja. Mungkin karena siapa saja bisa menempati posisi penjual, tanpa ada syarat ijazah tertentu, atau pengalaman kerja tertentu dan terlihat tanpa ada tantangan untuk memulainya seperti yang terjadi di dunia kerja. 

Para karyawan harus mendaftar dengan adanya peluang ditolak. Di sinilah siapa yang bisa lolos seleksi mempunyai daya saing tersendiri.

Seperti halnya Aparatur Sipil Negara dan sejajarnya memiliki kelas tersendiri dalam masyarakat kerja. Karena tidak semua orang bisa menjadi ASN, makanya posisi mereka yang lolos tes ASN menjadi istimewa. Mereka dianggap orang-orang terpilih dengan segala kemudahan yang diberikan pemerintah, bahkan sampai pensiun. Anggapan ini sudah mendarah daging,

Begitu juga dengan kelas pekerja yang lain yang memiliki pengakuan sosial yang bertingkat-tingkat sesuai hasil dan jenis pekerjaannya, lalu pedagang kecil menempati kelas bawah seberapa pun hasil yang diperoleh.

Padahal Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), termasuk di sini para pedagang ayam dan gorengan tadi, memiliki peran besar terhadap perekonomian nasional, yaitu 99,9 persen dan penyerapan tenaga kerja 97 persen. 

Saat ini, UMKM menyumbang PDB sebesar 60,34 persen. Pemerintah sedang gecar menaikkan kelas UMKM dari usaha kecil ke tingkat menengah. 

Bantuan modal berupa pinjaman mudah sudah diberikan, pelatihan wirausaha banyak diadakan, birokrasi yang mudah dan murah untuk menunjang jalannya usaha, serta pasar domestik yang luas akan memudahkan semua kalangan masyarakat bisa berkembang bersama lewat UMKM.

Apakah dengan pemerataan kesejahteraan rakyat ini masih ada kelas-kelas ekonomi? Para pegawai menjadi kelas tinggi sedang pedagan menempati kelas rendah? Sehingga kata "cuma" bisa leluasa disematkan dalam tema pembicaraan untuk pedagang?

Harusnya tidak. Menjadi pengusaha atau pedagang itu bukan alternatif terakhir sebuah karier. Itu adalah pilihan jiwa. Meskipun sekolah sampai jenjang pendidikan tinggi, tidak ada salahnya memilih berdagang. 

Menjadi ASN dan sejajarnya atau bekerja di sebuah instansi juga pilihan. Tidak semua orang mau menjalaninya dengan berbagai alasan. Jadi, semua pekerjaan mempunyai kelas yang sama di negeri ini. Buang jauh-jauh stigma merendahkan untuk sebuah profesi.

Kalau kita menemukan pedagang sukses, punya barang-barang prestisius, punya uang banyak, tidak perlu heran. Itu tandanya transaksi yang dilakukan memberikan untung yang banyak meskipun jenis transaksinya sederhana. Bisa juga mereka pandai mengelola keuangan sehingga hasil kerjanya bisa dikumpulkan dengan baik.

Bukankah 9 dari 10 pintu rezeki ada pada perdagangan? Jadi kenapa kita berikan kelas rendah untuk pekerjaan yang nabi saja menekuninya?

Selama seseorang bekerja dengan jujur dan profesional di bidangnya, maka usahanya takkan menghianati hasil. Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih baik. Bekerja hanya cara kita mengetuk ngetuk pintu rezeki lalu menengadahkan tangan untuk menjemputnya.

Stigma rendah terhadap pedagang memang tidak setajam dulu. Makin ke sini makin banyak orang memutuskan berdagang. Bahkan mereka yang bekerja bisa sambil berjualan, baik secara online maupun offline

Banyak juga yang memutuskan untuk berhenti bekerja dan beralih menjadi pedagang dengan alasan efektivitas waktu dan hasil yang lebih banyak. Apalagi perempuan yang bisa menjalankan usahanya dari rumah tanpa meninggalkan kewajiban sebagai ibu dan istri.