Ketua DPD Golkar DKI
9 bulan lalu · 1507 view · 9 menit baca · Buku 29467_13000.jpg
Steven Pinker. Foto: dublinfestivalofhistory.ie

Steven Pinker dan Ide Pencerahan

Resensi Buku Steven Pinker: Enlightenment Now

Amerika sekarang seperti masyarakat yang sedang terkapar dalam puing penderitaan. Kaum elite menari di atas kesusahan rakyat. Pabrik tutup. Ibu dan anak terjebak dalam kemiskinan tanpa akhir. Para pemimpin makin kaya, tetapi selebihnya adalah keputus-asaan di seantero negeri.

Kira-kira seperti itulah salah satu bagian yang ada dalam pidato inaugurasi Donald Trump saat dilantik menjadi presiden AS lebih setahun silam. Kata kunci yang dia gunakan adalah carnage, sisa pembantaian yang menusuk.

Steven Pinker, profesor psikologi di Universitas Harvard, menulis buku ini bukan untuk menanggapi langsung presiden AS yang mantan raja kasino itu. Pendapat Trump mungkin terlalu ngawur untuk ditanggapi seorang pemikir serius. Namun suasana kelam yang ada di balik pidato inaugurasi tersebut adalah cermin pesimisme di tahun-tahun terakhir ini, sebentuk meta-narasi yang memicu munculnya populisme serta sentimen anti-kemapanan, khususnya di AS dan Eropa.

“Saya ingin menunjukkan,” kata Pinker di awal buku setebal 556 halaman ini, “penjelasan yang kelam seperti itu terhadap kondisi dunia sekarang keliru - bukan hanya sedikit keliru, tetapi sangat keliru... keliru sampai ke ubun-ubun.” Kalau dibiarkan tanpa pembelaan, bagi Pinker, pesimisme tersebut bisa berbahaya sebab ia mengikis fondasi intelektual peradaban modern.  

Cara yang dia pilih untuk melakukan pembelaan bersemangat ini adalah dengan menunjukkan secara kongkret, lewat angka dan grafik, bahwa dunia sekarang - yang merupakan manifestasi berlanjut dari gagasan yang lahir di Zaman Pencerahan - jauh lebih baik dari sebelumnya.

Dia membela Kant, Hume, Adam Smith, Locke, Montesquieu dan pemikir abad ke-18 lainnya bukan dengan membuat traktat filsafat baru, tetapi dengan menyajikan bukti bahwa lewat inspirasi ide-ide mereka progresi masyarakat memang terjadi, dan dalam banyak hal kemajuan ini bersifat eksponensial. Itulah yang dia maksud sebagai “penegasan kembali cita-cita Zaman Pencerahan dalam bahasa dan konsep abad ke-21.”

Menurut saya, tanpa terjebak dalam panglossianisme, penjelasan dia memang meyakinkan, baik dalam soal kesejahteraan, teknologi, lingkungan hidup, maupun soal yang berhubungan dengan demokrasi, kesehatan, hingga tingkat dan perkembangan kepuasan hidup manusia. Dalam hal ini, pada sosok Steven Pinker kita melihat seorang intelektual publik yang tekun, bertenaga, mampu mengintegrasikan berbagai sumber data dengan teliti serta dengan rasa ingin tahu yang seolah tanpa batas.

Dan berbeda dengan buku sejarawan Yuval Harari terbaru (Homo Deus, 2017), sebuah karya cemerlang yang ditutup dengan distopia, buku ini menyiratkan optimisme dari ujung ke ujung, sebuah sikap terbuka yang dilandasi oleh pengetahuan dan pengalaman selama ini. Atau dalam kata-kata Steven Pinker sendiri, “I am a very serious possibilist.” Kemajuan besar sudah terjadi, dan manusia tidak akan berhenti mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapinya, baik yang ada di depan mata maupun yang akan datang kelak.

*

Salah satu contoh menarik bisa dilihat pada penjelasannya soal kemakmuran dan ketimpangan, sebuah isu hangat yang terus menjadi perdebatan akademis, antara lain oleh penulis Prancis Thomas Piketty. Walau bukan seorang ekonom, Steven Pinker mampu menyarikan persoalan secara tepat, seraya memberi perspektif.

Setelah cakrawala baru terbentang di Zaman Pencerahan, “kini kemakmuran dunia telah berlipat 200 kali” serta pada saat yang sama, khususnya dalam 35 tahun terakhir, “kemiskinan ekstrem berkurang dari 90 persen menjadi 10 persen.” Sebelum itu, selama lebih seribu tahun, bahkan beribu tahun, tidak ada kemajuan berarti. Manusia umumnya berada dalam lautan kemiskinan, buta huruf, serta dikitari oleh dogma, penyakit menular, dan ancaman perang terus-menerus.

Sekarang, di Eropa dan Amerika usia rakyat secara umum bisa mencapai lebih 70 tahun, sementara dua abad lalu semua orang berumur pendek, sekitar 30 tahun rata-rata. Dengan umur lebih panjang, dilengkapi fasilitas dan teknologi modern - listrik, air bersih, toilet pribadi, antibiotik, sarana transportasi, jaringan perkotaan yang relatif teratur, televisi, kulkas, internet, iphone, google, wikipedia, dan sebagainya - tingkat hidup rakyat kelas menengah bawah sekalipun akan membuat cemburu Raja Inggris dan Kaisar Prussia di abad ke-18.

Kesalahan ekonom seperti Thomas Piketty, menurut Steven Pinker, adalah karena dia larut dalam retorika yang terlalu bergelora sehingga “terjebak pada the lump fallacy.” Dalam bukunya yang menjadi best-seller beberapa tahun silam, Capitalism in the Twenty-First Century (2013), Piketty memang berkata bahwa rakyat kecil di tahun 2010 hanya menikmati 5 persen dari total kekayaan (wealth), dan proporsi ini sama dengan angka di tahun 1910 - jadi dengan ukuran ini, yang ada hanyalah stagnasi, bukan loncatan kemajuan. Buat Steven Pinker, proporsi ini mungkin benar, tetapi ia mengaburkan fakta bahwa kue ekonomi sekarang jauh lebih besar, sehingga kaum kelas bawah pun “are far richer” dibanding kelompok yang sama seratus tahun lalu.

Selain di Eropa dan Amerika, di belahan dunia lain peningkatan yang sama juga terjadi, malah dengan laju lebih cepat serta lebih fantastis. Orang harus terus diingatkan pada fakta ini: kalau Eropa dan Amerika butuh dua abad untuk sampai ke tingkat kemajuan seperti sekarang, beberapa negara lain yang semula tertinggal, seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Singapura, mampu mencapainya hanya dalam satu atau dua generasi.

Dan kini dua negara terbesar, China dan India, juga mulai menyusul dan mengubah semua asumsi pesimistis tentang angka kemiskinan - menurut hitungan The Economist, jumlah orang yang berada dalam kemiskinan ektrem di dunia berkurang 137 ribu setiap hari selama 25 tahun terakhir.

Dalam uraiannya, Steven Pinker juga menyinggung beberapa konsep yang berkembang di kalangan ekonom mainstream, seperti the great convergence (Richard Baldwin) dan the Kuznets curve (Simon Kuznets). Namun saya kira, salah satu yang paling instruktif adalah pemaparannya tentang “kurva gajah” yang terkenal itu, sebuah analisis yang dibuat Branko Milosevic beberapa tahun silam dalam menggabungkan berbagai angka pertumbuhan serta ketimpangan dunia, termasuk Afrika, dalam tiga puluh tahun terakhir.

Dari kurva ini tergambar jelas bahwa memang pertumbuhan kumulatif terendah (10%) dialami oleh kelas menengah bawah di negara maju. Namun hal ini tidak sama dengan pemiskinan atau penurunan tingkat kesejahteraan, sebab dalam kelompok ini pertumbuhan tetap terjadi, walaupun kecil. Selebihnya, menurut Steven Pinker, pada kelompok lain di semua negara, kurva tersebut menunjukkan dengan terang-benderang: “the winners include most of humanity.”

Bersamaan dengan peningkatan kesejahteraan itu, dunia juga mengalami transformasi menjadi semakin demokratis. Di zaman Adam Smith, praktis hanya 1% manusia yang menikmati situasi relatif bebas tanpa tirani atau opresi berlebihan. Setelah itu - dalam hal ini Pinker mengutip Samuel Huntington - yang terjadi adalah gelombang demokratisasi yang terus berlanjut. Pada 2015 jumlah negara yang masuk dalam kategori demokratis atau hampir demokratis mencapai angka 120, dan di dalamnya tercakup dua pertiga umat manusia.

Sisanya memang masih berada dalam kantong-kantong tirani dan otokrasi. Namun, kata Steven Pinker, “bahkan di Rusia dan China, walau belum bergerak ke arah liberalisasi politik, situasinya kini sudah lebih longgar, dengan tingkat penindasan yang jauh berkurang dibanding kondisi mereka pada zaman Brezhnev dan Mao.”

*

Dalam mengikuti berbagai penjelasan di buku ini, sekali lagi kita harus ingat bahwa Steven Pinker adalah seorang doktor psikologi, dan lebih khusus lagi evolutionary psychology (dua bukunya yang terkenal sebelum ini berhubungan dengan bahasa, evolusi, otak, dan kognisi manusia: The Language Instinct dan How the Mind Works). Keberaniannya memasuki berbagai bidang studi di wilayah lain, ilmu ekonomi dan ilmu politik misalnya, dan langsung masuk ke jantung persoalan dengan penuh percaya diri, patut diberi catatan tersendiri.

Adapun tentang soal-soal mendasar dalam bidang studi Steven Pinker sendiri, yaitu isu di seputar subyektifitas, kualitas hidup, dan kebahagiaan manusia modern yang ada dalam buku ini, tidak ada reaksi lain yang pas bagi kita selain mengacungkan dua jempol. Pembahasannya incisive, tajam, juga dilengkapi data dan grafik, serta mampu menguraikan berbagai hal yang memang menjadi pertanyaan penting serta akhir-akhir ini memperoleh relevansi baru.

Benarkah, misalnya, di tengah kemajuan yang terjadi seperti tadi, manusia abad ke-21 menjadi unhappy, terasing dengan dirinya sendiri dalam globalisasi yang semakin cepat, kesepian di tengah riuh-rendah percakapan di sosmed, atau menjadi makhluk individualis tanpa pegangan, tanpa Tuhan sebagai pembimbing, manusia komersial yang “tipis” dari segi kebudayaan, dan sebagainya?

Esensi pertanyaan seperti ini bukan sesuatu yang baru. Bahkan sejak awal munculnya Zaman Pencerahan, Jean-Jacques Rousseau, filsuf Prancis dalam generasi yang sama dengan Voltaire dan Immanuel Kant, telah melakukan counter-reaction, serangan balik yang romantik terhadap konsepsi dasar modernitas (isu ini menjadi salah satu tema yang dibahas dengan menarik dalam karya terbaru Pankaj Mishra, The Age of Anger, 2018).

Terhadap semua itu, jawaban Steven Pinker tercermin dalam kalimat bernas ini: “Jika semua tambahan umur dan kesehatan, semua peningkatan pengetahuan, waktu senggang, keamanan, kebebasan, demokrasi, dan jaminan hak-hak asasi - jika semua ini memang membuat manusia tidak lebih senang dan bahagia, tetapi justru menjadi kesepian dan cenderung ingin bunuh diri, it would be history’s greatest joke on humanity.”

Penjelasan dia jelas. Transformasi yang telah terjadi terus-menerus, baik dalam kondisi material (listrik, mobil, mesin cuci, iphone) maupun non-material (demokrasi, kebebasan, waktu luang), telah membuka kemungkinan lebih besar bagi manusia untuk mengurangi tekanan hidupnya dan, sebagai akibatnya, lebih mudah melakukan berbagai hal untuk menempuh hidup yang lebih bermakna.

Dalam hal ini, walaupun dalam statistik tingkat kebahagiaan cenderung beriringan dengan tingkat kemakmuran, Steven Pinker mengakui bahwa memang tidak ada cara yang mudah untuk membandingkan kebahagiaan hidup, baik antar-waktu maupun antar-negara. Kebahagiaan adalah konsep yang elusive, susah dipegang.

Karena itu, dia membedakan dua hal: hidup yang berbahagia dan hidup yang berarti, meaningful. Kebahagiaan adalah konsep sesaat, naik dan turun bergantung pada banyak hal, termasuk suasana hati, karakter, lingkungan dan sebagainya. Sebaliknya, konsep “berarti” mengandaikan kehidupan yang memiliki narasi tentang masa lampau dan tujuan masa depan. Terkadang, dalam mengejar tujuan masa depan, seseorang akan mengalami tekanan atau kecemasan, dan untuk sementara hidupnya akan terasa tidak bahagia - tetapi justru dalam proses jatuh dan bangun inilah kehidupan akan menemukan maknanya yang lebih mendalam.

The goal of progress,” demikian Steven Pinker menyimpulkan, “cannot be to increase happiness indefitely... but there is plenty of unhappiness that can be reduced, and no limit as to how meaningful our lives can become.”     

*

Kita tentu dapat membahas berbagai hal lagi yang ada dalam buku ini, termasuk pandangan dia sebagai seorang humanis sekuler dalam melihat posisi agama dan nilai-nilai religius dalam problematika modernitas saaat ini.

Namun pada titik ini, setelah melihat beberapa contoh pemaparan di atas, kita bisa berkata bahwa Steven Pinker adalah Manusia Pencerahan yang hidup di zaman now. Ia seperti Adam Smith, seorang filsuf moralitas yang menulis tentang ekonomi sebelum lahirnya ilmu ekonomi. Atau mungkin lebih tepat, ia seperti David Hume, kawan dekat Adam Smith di Edinburgh, Skotlandia, yang menulis sama baiknya tentang sejarah, politik, epistemologi, bahasa, serta pasar dan perdagangan.

Kita juga bisa bertanya: sejauh mana sebenarnya pembelaan seperti ini efektif dalam menahan laju reaksi balik terhadap modernitas di awal abad ke-21, dalam bentuk populisme ekstrem di kiri dan kanan, atavisme, atau politik identitas dan kaum agamawan yang militan, sebagaimana yang disinggung di awal buku ini?

Sejauh mana bukti dan penjelasan tentang “the stirring narrative (of success)” dari perjalanan manusia sejauh ini sanggup mencegah munculnya pemimpin demagog, seperti Donald Trump? Di manakah tantangan terbesarnya, pada perluasan kesadaran, pada politik dan proses kekuasaan, atau pada siklus naik turun sejarah yang memang bersifat impersonal dan tak mungkin dipengaruhi siapa pun, bahkan oleh penulis sebaik Steven Pinker?

Tidak ada jawaban yang mudah. Dalam soal politik dan proses kekuasaan, misalnya, Trump dan Trumpism telah mendapat serangan dan kritik yang tajam, sistematis, dan terus-menerus dari ekonom-ekonom terbaik Amerika, seperti Paul Krugman dan Lawrence Summers. Kritik yang sama, dari sudut berbeda, juga telah dilakukan oleh para intelektual publik terdepan, seperti George Will dan Charles Krauthammer. Tapi sejauh ini belum ada tanda-tanda yang meyakinkan bahwa basis kekuasaan Trump telah terkikis karenanya.

Tentu saja tidak ada yang bisa menebak ke arah mana semua itu akan berujung. Namun saya kira Steven Pinker benar, bahwa setidaknya kaum pro-pencerahan telah berusaha mengatakan kebenaran yang dilandasi oleh akal sehat dan simpati kemanusiaan.

Dan untuk itu semua, kita patut menyambut buku ini sebagai sebuah pencapaian besar yang patut mendapat apresiasi semestinya.