Banyak yang bilang, menjadi anak bungsu itu menyenangkan, dimanja dan selalu menjadi kesayangan keluarga. Katanya sih, semua yang diinginkan anak bungsu akan selalu dituruti. Makanya, para kakak biasanya selalu iri sama si anak bungsu.

Padahal, menjadi anak bungsu nggak melulu soal kesenangan. Ia bisa juga menyebalkan. Namun sayangnya, bagi sebagian orang, anak bungsu justru dapat membentuk stereotip buruk dan berdampak nggak baik dalam kehidupannya.

Stereotip tersebut tentunya terbentuk dari banyak hal. Mulai dari pola asuh orang tua, lingkungan si bungsu, hingga perilakunya yang terbentuk atas sikap para keluarga di sekitarnya. Berikut ini beberapa stereotip yang biasanya melekat anak bungsu.

#1 Sering Dianggap Anak Kecil

Anak bungsu sering kali mendapatkan label sebagai anak kecil. Meskipun sekarang usianya mungkin sudah kepala dua. Ketika ada pembicaraan keluarga yang menjurus serius, anak bungsu biasanya akan disuruh minggir dengan dalih, ‘Ini bukan urusan anak kecil.’ Dalam urusan keluarga, suara anak bungsu biasanya lebih sering dianggap sebagai angin lalu saja.

Setiap kali ada pekerjaan ataupun acara dalam keluarga besar dan si bungsu ingin membantu, para tante dan budhe biasanya sering nyahut, ‘Nggak usah dibantu, main aja sana.’ Atau mengajukan pertanyaan mendiskreditkan, seperti: ‘Memangnya kamu bisa?’. Hal tersebut tentu saja sangat menyebalkan.

Jika si bungsu nggak pernah mendapatkan kesempatan untuk speak up dan turut berkontribusi dalam kegiatan di keluarga besarnya, memangnya kapan si bungsu akan belajar tentang kehidupan?

Padahal, anak bungsu memerlukan masanya sendiri untuk beraktualisasi dengan dunia luar. Belajar mengenai hal-hal baru, mencari passion dan mimpi-mimpinya di masa depan, dan terpenting nggak selalu bergantung dengan power yang dimiliki orangtua dan para kakaknya.

Untuk bisa menjadi mandiri dan nggak melulu dianggap sebagai anak kecil, si bungsu harus berusaha dua kali lipat lebih besar dari para kakaknya. Ia nggak cuma perlu membuat pembuktian bagi dirinya sendiri, namun juga bagi keluarganya. Jika perlu, bahkan bagi lingkungan sekitarnya. Percayalah, itu sangat melelahkan.

#2 Label Sebagai Anak Manja

Stereotip anak bungsu juga dekat dengan label sifat manja. Nggak tahu siapa yang menciptakan stereotip itu sedari awal. Entah, apakah zodiak, ramalan cuaca ataupun primbon Jawa. Pokoknya, anak bungsu itu manja! Titik. Kira-kira, seperti itulah stereotip yang diberikan pada anak bungsu.

Bagi sebagian orangtua, anak yang terlahir bungsu memang biasanya akan lebih dimanja. Hal tersebut berkenaan dengan status usianya yang paling muda dalam hierarki keluarga. Orang tua berusaha memberikan yang terbaik untuk si bungsu—yang sekiranya jauh lebih baik daripada para kakaknya.

Label manja ini juga semakin diperparah dengan perilaku beberapa anak bungsu yang seolah dengan bangga dan sukarela menganugerahkan dirinya sendiri dengan label manja. Mungkin dalam pemikirannya, manja terdengar sangat imut dan manis, dan mungkin lebih disukai lawan jenis. Padahal, realitasnya tentu saja nggak seperti itu. Label manja itu identik dengan rapuh dan lemah.

Lagi pula, stereotip anak manja yang melekat pada si bungsu ini benar-benar jelek jika diterjemahkan secara harfiah. Stereotip manja versi anak bungsu yang beredar di masyarakat adalah: anak mama (yang nggak bisa melakukan apa pun tanpa bantuan orangtuanya), lemah dan selalu bergantung pada orang lain.

Melihat kenyataan ini, para orangtua sudah sepatutnya untuk nggak lagi terlalu memanjakan si bungsu. Selain untuk menghindari konflik antar saudara yang seringnya menimbulkan kecemburuan satu sama lain, juga supaya anak bungsu belajar untuk bertanggung jawab pada hal-hal dalam hidupnya.

#3 Nggak Bisa Mandiri

Beberapa orangtua kerap kali memperlakukan anak bungsu dengan berlebihan. Mereka menganggap bahwa anak bungsu nggak akan pernah cukup besar untuk mampu melakukan semua hal sendirian. Orangtua selalu merasa perlu untuk mendampingi, mengikuti, dan kalau bisa menemani ke mana pun si bungsu akan pergi.

Oleh karena itulah, beberapa anak bungsu merasa kesulitan untuk keluar dari lingkaran orang tuanya. Bahkan untuk sekadar bermain ke rumah temannya, si bungsu juga memerlukan izin yang agak rumit dari orangtuanya. Apalagi jika ia adalah anak bungsu dengan jenis kelamin perempuan. Tentu akan semakin susah. Seolah label nggak bisa mandiri sudah melekat padanya.

Padahal, realitasnya banyak sekali anak bungsu yang berusaha tertatih-tatih untuk belajar mengambil sikap mandiri—meskipun terkadang ada yang masih merasa nggak percaya diri. Ada juga anak bungsu yang terpaksa menyembunyikan mimpi dan hobinya karena berpikir keluarganya nggak akan percaya bahwa ia bisa mandiri.

#4 Egois dan Semaunya Sendiri

Banyak yang beranggapan bahwa tipikal anak bungsu itu egois dan suka seenaknya sendiri. Tentu saja stereotip seperti ini terbentuk karena hampir semua kemauan anak bungsu selalu dipenuhi oleh orangtuanya. Keinginannya nggak pernah ditolak. Jadi, jangan kaget kalau beberapa anak bungsu memiliki perilaku egois dan semaunya sendiri.

Padahal, realitasnya tentu berbeda. Ada anak bungsu yang berusaha keras untuk menjadi teman bagi kakaknya—meski terkadang usianya terlampau jauh. Pada akhirnya, si kakak yang justru nggak tertarik untuk bermain dengan adiknya. Belum lagi jika si kakak memiliki perasaan iri karena si bungsu mendapatkan semua perhatian orangtuanya, dst.

Stereotip seperti ini akan terus berkembang selama budaya di lingkungan masyarakat masih terus menormalisasi perilaku memanjakan, membedakan dan mengkhususkan anak bungsu. Makanya, mulai sekarang, jangan suka membeda-medakan anak bungsu, ya.