Saya memiliki satu falsafah hidup yang sampai dengan saat ini masih saya pegang teguh, yakni hobi atau minat seseorang tidak bisa dipaksakan. Hal tersebut tentu menjadi hak prerogatif setiap orang, tergantung selera masing-masing. Termasuk istri saya yang pada akhirnya memilih bermain game sebagai salah satu hobi yang masih ia tekuni dari sewaktu SD, hingga saat ini.

Ia bercerita, minatnya bermain game tumbuh ketika kali pertama bermain Xbox dengan kedua abangnya. Awalnya hanya melihat, sampai akhirnya mencoba main. Eh, akhirnya berlanjut hingga dewasa, dan menjadi rutinitas tersendiri setiap harinya. Iya, setiap hari!

Semua genre game ia mainkan satu per satu, baik console, PC, maupun mobile. Semuanya disikat habis. Dua game yang menjadi favoritnya hingga sekarang adalah Assassins Creed dan Call of Duty Mobile. Selain itu, banyak juga game yang sudah ia mainkan, selesaikan, lalu dimainkan lagi. Bahkan, ada beberapa game yang dimainkan hingga berulang kali.

Sebagai seorang suami, saya selalu setia mendukung istri saya saat sedang bermain game. Toh, saya juga punya hobi yang bisa dijadikan alternatif kegiatan sewaktu bosan atau pun penat.

Kendati demikian, dukungan yang saya berikan kepada istri saya tidak selamanya berjalan lurus juga beriringan dengan stereotip dan segala pertanyaan yang melekat pada pemikiran orang sekitar, baik secara langsung maupun dunia maya.

Pertanyaan seperti: “Terus, bagi waktu sama anaknya gimana kalau main game terus?”; “Suaminya nggak diurus? Kok main game terus?”; “Liat hape aja kerjaannya, kok anaknya didiemin aja, sih?”; dan seterusnya, dan seterusnya.

Awalnya saya sedikit mangkel mendengar pertanyaan julid tersebut. Pasalnya bukan hanya sekali, tapi berkali-kali dan dari orang yang berbeda-beda.

Namun, setelah dipikir ulang, itu kan hak mereka. Lagian, untuk apa saya tersinggung jika pada kenyataannya—walau istri saya sering dan hobi bermain game—istri saya masih bisa bermain dengan anak dan mengurus rumah tangga, termasuk membagi waktu dengan saya, sebagai suaminya.

Memang, istri saya pernah main game hampir seharian penuh selama beberapa hari saking antusiasnya. Istirahat hanya saat salat dan makan saja, tidur pun seadanya. Alhasil, ia sakit typus dan wajib bedrest selama beberapa hari. Kami selalu tertawa jika membahas perkara ini.

Belum lagi soal beberapa gamer laki-laki, khususnya ketika bermain Call of Duty Mobile, lalu voice chat pada permainan diaktifkan, mereka sering kali bertanya, “Woi! Lu cewek atau cowok, sih?!!” padahal, istri saya sudah memasang foto profil dirinya sendiri. Aseli. Seakan sangsi bahwa, sebagai perempuan, istri saya terbilang jago dan hampir selalu jadi MVP. Statistik permainannya pun terbilang paripurna.

Selain kendala tersebut, istri saya juga sering curhat, ia sering sekali mendapat chat dari lelaki yang mengajaknya berkenalan dan meminta nomor WhatsApp, entah memang genit atau sekadar memastikan, apa betul yang bermain adalah seorang perempuan.

Ya jelas nggak dikasihlah sama istri saya. Bukan hanya karena ia sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak, tapi nomor hape itu kan privasi. Masa iya disebarluaskan secara cuma-cuma.

Sebagai opsi, biasanya istri saya selalu memberikan nama akun Instagramnya. Setelah itu, para gamer cowok tersebut tidak lagi melanjutkan chat sok akrabnya. Mungkin, karena akhirnya tersadar bahwa perempuan yang mereka chat betul-betul sudah berkeluarga.

Padahal, bagi istri saya, jika mereka memang hanya ingin berteman, apalagi dalam permainan, boleh-boleh aja, lho.

Dalam dunia game, para gamer pasti familiar dengan istilah HoDe (Homo Detected), yang berarti bahwa seorang gamer lelaki yang menyamar sebagai perempuan atau sebaliknya. Dan istri saya, sering kali dianggap sebagai salah satu gamer HoDe.

Buanyak banget yang bertanya kepada istri saya via fitur chat dalam permainan tersebut. Satu yang paling frontal dan saya ingat, ada gamer yang chatnya ngegas seperti ini: “LU HODE YA BANGSAT!”

Lha, yang kalah dan nggak jago dia, marah-marahnya kok ke istri saya, sih. Memangnya perempuan nggak boleh jago main game, gitu? Biar sampeyan tau, Ngab. Istri saya nggak terima digituin. Kalah ya kalah aja, nggak usah cari-cari alasan, apalagi pake drama marah-marah dan kirim chat seperti itu.

Di antara segala makian tersebut, yang bikin istri saya mangkel setengah mampus adalah dikira nge-cheat (curang). Dan lagi-lagi, kejadiannya ketika sedang bermain Call of Duty Mobile, hanya karena menggunakan VTOL.

Singkatnya, VTOL akronim dari Vertical Take off and Landing, scorestreak tertinggi dalam CODM dengan skor 1600. Dengan senjata ini, pemain CODM  bisa mengaktifkan pesawat yang mampu menembakkan banyak peluru, dan menghasilkan banyak kill. Sehingga berpotensi mengalahkan banyak lawan.

Untuk mendapatkannya, pemain CODM harus meraih poin tinggi dalam satu match. Dan untuk mendapatkan poin yang tinggi, cara meraihnya di setiap mode permainan itu berbeda.

Nah, karena sering mendapat poin tinggi dan mengaktifkan VTOL, istri saya sering dituduh nge-cheat.

Wajar kalau istri saya sampai mangkel dan misuh sendiri di depan saya. Selain dituduh nge-cheat, mereka juga seakan nggak percaya bahwa, seorang perempuan juga handal dalam bermain game. Kalah mah kalah aja, Ngab. Nggak perlu nuduh orang lain main curang. Karena nggak sedikit juga gamer yang keluar gitu aja dari suatu match, padahal permainan belum berakhir.

Kan, menyebalkan. Padahal hanya main game aja, lho. Sebegitu sulitnya, ya, menerima kekalahan dalam suatu permainan?