"Kecantikan bukan berada pada raut wajah, dia terpancar bagai serunai sinar dari dalam hati.” – Khalil Gibran

Perempuan identik dengan dunia kecantikan. Kecantikan sendiri dicirikan dengan kondisi fisik perempuan yang berkulit putih, tubuh yang langsing, tinggi badan yang ideal, serta kondisi fisik lainnya yang bermuara kepada kesempurnaan. Kriteria tersebut secara langsung menimbulkan kecemburuan sosial apalagi di antara perempuan.

Kriteria tersebutlah yang menjadi penyebab terbentuknya standar kecantikan di lingkungan rumah, sekolah, maupun masyarakat. Standar kecantikan yang tercipta memaksa kita sebagai perempuan untuk mencapainya.

Standar yang diciptakan ternyata tidak selalu memberikan dampak yang baik terhadap seorang perempuan itu sendiri. Standar tersebut memaksa kita sebagai seorang perempuan untuk meraihnya agar kita termasuk kedalam golongan perempuan yang dapat diterima dengan baik oleh sebuah lingkungan.

Cara perempuan dalam mencapai standar tersebut pun beragam. Mulai dengan melakukan perawatan yang biayanya terjangkau hingga perawatan dengan biaya yang cukup mahal.

Apasih standar kecantikan itu?

Standar memiliki pengertian, yaitu tolok ukur atau patokan dalam mencapai sesuatu. Dengan adanya standar tersebut, berarti kita harus dapat mencapai setidaknya minimal dari sesuatu yang ingin dicapai. 

Dalam kehidupan ini kita tentu sering menjumpai beberapa standar dalam hal apa pun yang harus kita capai. Salah satunya ialah standar kecantikan. 

Standar kecantikan merupakan tolak ukur penilaian kecantikan terhadap perempuan. Siapa sih yang membuat standar tersebut? Tentu perkembangan zaman yang terus berkembang serta hadirnya tokoh-tokoh tertentu yang memberikan warna baru dalam hal kecantikan fisik.

Penyebab adanya standar kecantikan

Saat ini, dalam kehidupan seorang perempuan sedang krisis sekali akan sebuah standar kecantikan. Mengapa harus ada standar kecantikan? Dari mana standar tersebut hadir?

Perempuan memiliki fitrah atau naluri untuk dapat berpenampilan cantik. Terkhusus dalam hal penampilan fisik seperti wajah, tubuh, dan lainnya. Perempuan dapat dikatakan cantik jika ia memiliki kulit yang putih, tubuh yang langsing, serta postur tubuh yang ideal.

Perkembangan zaman yang terus berkembang pun menjadi salah satu penyebab adanya standar kecantikan. Teknologi yang terus berkembang selaras dengan kebutuhan hidup yang makin kompleks. 

Saat ini, dunia kecantikan telah ditopang oleh alat perawatan yang sangat canggih. Banyaknya jenis perawatan selaras pula dengan efek dari perawatan tersebut. Semakin mahal maka makin baik pula dampak yang dirasakan.

Kondisi ekonomi yang tidak merata, membuat hanya segelintir orang yang dapat melakukan perawatan diri. Dengan demikian, bagi perempuan yang mengalami keterbatasan biaya tentu ia akan melakukan perawatan sesuai dengan kemampuannya. 

Sayangnya, perempuan yang tidak memiliki biaya yang cukup banyak akan mencoba berbagai cara yang dinilai terjangkau agar ia bisa mendapatkan perawatan untuk dirinya.

Keinginan yang begitu ambisius, menjadikan perempuan saat ini selalu membanding-bandingkan dirinya dengan perempuan lain. Ia akan memandang buruk dirinya sendiri sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap kepercayaan dirinya. 

Misalnya, artis korea yang berkulit putih menciptakan standar kecantikan bahwa ‘wanita yang berkulit putih itu cantik’ sehingga perempuan yang memiliki skintone lebih gelap berusaha untuk mencapai ‘putih’ tersebut.

Dampaknya untuk perempuan di Indonesia

Standar kecantikan yang hadir tersebut secara langsung membuat perempuan berusaha sekuat tenaga dalam mencapainya. Bagaimana pun caranya. Mulai dari cara yang masih masuk akal, hingga cara yang berbahaya. Hal-hal tersebut dilakukan demi dapat terlihat cantik di depan orang lain.

Saya atau mungkin kita semua pernah berada di sebuah lingkungan yang menurut saya sangat toxic. Di sana, orang-orangnya sangat menjujung tinggi standar kecantikan. Mereka menganggap bahwa perempuan yang cantik, ialah perempuan yang berkulit putih serta berbadan tinggi. 

Sebagai contoh, saat itu perempuan yang berkulit putih lah yang mendapatkan perlakuan baik oleh mereka. Bagaimana dengan perempuan yang tidak memenuhi standar? Tentu mereka akan mendapatkan diskriminasi.

Tidak ada manusia yang ingin didiskriminasi dalam hal apapun. Terlebih lagi mengenai warna kulit. Wanita Indonesia memiliki ciri khas dalam hal warna kulit yaitu sawo matang. 

Seharusnya, kita bangga dengan hal tersebut. Kulit sawo matang sudah menjadi identitas warga negara Indonesia. Namun, semua itu dilenyapkan oleh sebuah standar kecantikan yang dibuat oleh masyarakat.

Tak bisa kita pungkiri, masyarakat Indonesia sudah termakan oleh stereotip bahwa cantik itu ialah yang berkulit putih, cantik itu berhidung mancung, cantik itu bertubuh tinggi, dan sebagainya. Hal-hal tersebutlah yang semakin membuat para perempuan yang tidak seperti itu menjadi insecure.

Kita sebagai manusia tentu diciptakan oleh tuhan dengan kelebihan, kekurangan, serta keunikannya masing-masing. Kita tidak pernah meminta untuk diciptakan seperti apa dan bagaimana. Tugas kita ialah, selalu bersyukur atas apa yang tuhan ciptakan kepada kita. Jadikan sebuah kekurangan sebagai modal dari kelebihan.

Seorang teman saya pernah memberikan sebuah video motivasi kepada saya, yang kemudian membuat saya tersadar akan suatu hal. Kalimat yang saya ingat dalam video tersebut ialah “Saya hitam dan dekil, dan saya bingung mengapa orang-orang membenci itu. Saya heran, banyak manusia yang ingin dimanusiakan tetapi lupa bagaimana memanusiakan manusia”.

Jadi, sudah seharusnya kita melek dan sadar akan keberagaman yang ada. Memang benar jika kita tidak dapat memaksakan seseorang untuk menyukai apa yang kita miliki.

Namun setidaknya, kita bisa menghargai apa yang orang lain miliki. Hentikan diskriminasi. Teruslah menjadi diri sendiri dan terus menghargai orang lain. Jika bukan kita yang mencintai diri sendiri, lalu siapa lagi?