Dialog dapat menjadi sebuah medium untuk mengenal satu sama lain. Di saat masyarakat saling terbelah karena pilihan, srawung menjelma sebagai oase di tengah padang pasir. Ia meneduhkan, memberi kesegaran dalam lingkar api perpecahan. Ia blak-blakan tanpa sekat. Prinsipnya, ketebukaan merupakan kunci utama menjaga persaudaraan.

Tanggal 27-28 Juli kemarin, saya mengikuti kegiatan srawung (Jawa: kumpul) yang diadakan oleh komunitas Srawung di Jogjakarta. Beragam orang muda lintas agama berkumpul di sana untuk berdialog dan bertukar pandangan tentang masalah di negeri ini. 

Dalam satu aula, kita bersama-sama mendiskusikan beragam topik masalah di Indonesia, mulai dari keberagaman sampai isu sampah.

Sekitar enam puluhan pemuda/i bersama-sama menikmati agenda kegiatan yang telah disusun oleh para panitia. Dari mulai talkshow yang diisi oleh komunitas “ketjhil bergerak” sampai dengan acara dinamika kelompok dengan tema “Permasalahan di Kota Jogja”.

Tak lupa, acara diakhiri dengan prosesi doa bersama dengan menunjuk satu orang perwakilan dari setiap agama yang hadir. Bersama, kita melebur ke dalam semesta doa dalam persaudaraan yang hakiki.

Acara Srawung dapat menjadi obat akan pekatnya kehidupan beragama di Indonesia akhir-akhir ini. Pengkultusan agama yang sering dilakukan oleh kaum fundamentalis, banyak memicu granat perpecahan antar golongan di bumi pertiwi. 

Oleh mereka, agama dijadikan sebagai alat pembuktian. Bahwa apa yang saya anut adalah benar, dan apa selain itu merupakan kesalahan.

Sayangnya, ajaran agama garis keras ini telah merebak ke dalam tatanan sosial masyarakat, terutama generasi muda. Kaum milenial yang menyukai sesuatu yang instant menjadi target point dalam penyebaran ideologi radikal ini. Akibatnya, banyak muncul fenomena hijrah di kalangan muda.

Hijrah yang mereka lakukan merupakan hijrah simbolis, yaitu hijrah yang lebih mengutamakan penampilan dibanding substansi dalam beragama. Mempunyai jenggot dan berjidat hitam merupakan pertanda orang itu alim dan memakai cadar merupakan kewajiban bagi para perempuan, pikir mereka.

Parahnya lagi, para kaum hijrah ini tidak segan-segan untuk menyalahkan individu yang mempunyai pandangan berbeda darinya. Rasa merasa paling benar sudah lazim ditemukan pada setiap tindakan mereka, seakan mereka adalah utusan langsung dari tuhan, dan semua orang harus menaatinya.

Fenomena ini sebenarnya mampu menciptakan trend positif dalam masyarakat. Gagasan anti-pacaran dan menutup aurat bagi muslimah merupakan salah satu dampak positif gerakan ini. Namun, sangat disayangkan hal ini dibarengi dengan rasa pembenaran diri dan mudah dalam menyalahkan orang lain yang berbeda pandangan dengannya.

Agaknya, hal ini secara langsung menimbulkan keretakan pada atap persaudaraan di Indonesia. Sikap saling tuduh dan menyalahkan sepihak ini menciptakan kesenggangan, terutama pada saudara lintas agama. Menyebut kafir terhadap orang yang mempunyai keyakinan berbeda menandakan intoleransi masih acap terjadi dalam masyarakat kita.

Oleh karena itu, kegiatan srawung lintas agama dapat menjadi oase di tengah padang perpecahan. Hadirnya memberikan keteduhan bagi keadaan masyarakat yang sedang bergejolak. Dengan berdialog, ia membuka ruang-ruang diskusi baru bagi permasalahan yang ada di tengah masyarakat.

Dengan prinsip keterbukaan, dalam srawung, kita bisa saling menyampaikan realitas yang terjadi di sekitar kita tanpa adanya rasa pakewuh yang berlebih. Tidak hanya apa yang ada dalam pikiran, melainkan apa yang ada dalam perasaan kita pun semua bisa diungkapkan.

Dari situlah kita belajar untuk menghormati pendapat orang lain, meski itu kontradiktif dengan pendapat kita sendiri. Di sana, kita tidak mengenal orang melalui agamanya. Mau orang itu beragama A, atau B, atau bahkan tidak beragama sekalipun, kita melihatnya pada tindak-tanduknya berhubungan dengan sesama manusia.

Gus Dur pernah berkata, “Tidak penting apa pun agama atau sukumu; kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu.” Kiranya perkataan sang guru bangsa ini perlu kita hayati dan renungkan kembali.

Seruan untuk berbuat baik kepada sesama tanpa memandang suku, ras, agama dan golongan harus dilakukan oleh setiap manusia. Semua agama di dunia ini, baik Islam, Kristen, maupun Judaisme, sejatinya mengajarkan untuk berbuat baik terhadapa sesama. Tidak ada satu pun agama yang mengajarkan umatnya kekerasan maupun membenci orang lain.

Kalau sudah membenci, lantas perlu ditanyakan ajaran agamanya yang salah atau orang yang menganutnya? Seperti yang sudah dipaparkan di atas, tidak ada satu pun ajaran agama yang menyuruh umatnya pada kekerasan. Kalau sudah begitu, lantas yang perlu dipertanyakan adalah orangnya bukan ajaran agamanya.

Dalam ber-srawung, kita diajarkan untuk menerima perbedaan dan keragaman. Dengan mengedepankan prinsip keterbukaan, kita bisa mencurahkan segala apa yang menjadi keluh kesah kita tanpa adanya rasa saling tuduh dan curiga.

Semua orang mencurahkan isi hatinya bukan untuk berdebat, melainkan bersama-sama untuk memecah kebuntuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia . Negara Indonesia yang terdiri dari masyarakat majemuk kiranya dapat menjadi contoh kerukunan agama yang baik bagi negara-negara lain.

Maka, semangat saling menghargai, menghormati dan berbuat baik terhadap sesama, kiranya harus tertanam dan diwujudkan oleh umat beragama di Indonesia. Jika hal ini dilakukan, akan terwujud negara yang masyarakatnya adil, damai, dan beradab.