Anda kaya raya? Apa yang akan Anda lakukan jika memiliki uang 45,6 miliar Won?

Apakah orang-orang kaya raya itu sepenuhnya “bahagia”? atau malah justru sebaliknya? Bagaimana jika mereka menciptakan suatu gim (permainan) dengan niat memuaskan hasratnya dengan cara “mengondisikan” orang-orang untuk dibunuh atau saling bunuh?

Semua itu dibingkai sadis dalam serangkaian permainan anak-anak yang mematikan seperti lampu merah, lampu hijau hingga tarik tambang. Gim itu dinamai Squid Game. Anda penasaran? Mari kita mulai permainannya.

Saya Evan, salah satu penonton film Squid Game yang tayang di Netflix per 17 September 2021. Saya harap Anda sudah menonton film ini dengan harapan kita bisa sama-sama berbagi perspektif dari pengalaman usai menonton film Squid Game. Saya sudah selesai menamatkan film Squid Game (2021) yang terdiri atas sembilan episode itu. Saya tidak berencana menganalisisnya lebih dalam. Ini tentu berbeda bagi Anda yang memiliki kebutuhan membedah film ini secara lebih komprehensif, bisa untuk keperluan skripsi, tesis, atau jurnal ilmiah. Oleh karena itu, saya juga akan menuliskan beberapa pertanyaan yang barangkali menggelitik Anda untuk mengembangkan tulisan ini.

Saya telah melacak di internet, penasaran, kira-kira bagaimana cara pandang media massa dan media sosial membingkai atau “menyajikan” ulang film ini—dan kebanyakan—tidak semua—membahas perihal deskripsi film Squid Game, siapa saja pemainnya, bagaimana aturan mainnya, keterkaitan gim ini dengan gim lain di berbagai negara, viralnya boneka ikonik di film itu, alasan kepopuleran, kesuksesan, dan jumlah penonton yang streaming film ini, sorotan usia penonton, merchandise Squid Game, nomor ponsel yang viral, Squid Game dan film bertemakan permainan bertahan hidup lainnya, hingga komentar Youngmi Mayer (@ymmayer) yang menyoal alih bahasa (subtitle).

Saya berupaya untuk tidak mengulang-ulang pembahasan yang sudah banyak disinggung di media massa atau media sosial yang telah saya singgung sebelumnya. Apalagi mendeskripsikan film ini secara rinci. Oleh sebab itu, tulisan ini sengaja saya rangkai, terutama untuk Anda yang sudah menyaksikan film ini.

Saya akan tetap mengambil beberapa poin yang diduga punya potensi lain untuk diekspose dan dikembangkan lagi meskipun memang perspektif yang saya tawarkan nanti berpeluang menjadi biasa-biasa saja. Biasa dalam arti akan menjadi tulisan yang diulang-ulang dibahas.

Mari kita mulai dengan aktor di balik film Squid Game. Aktor yang saya maksud adalah para pemain yang terlibat di film ini. Saya membaginya menjadi enam aktor kunci yakni The Leader (tuan rumah gim), The Front Man (ketua pelaksana gim), Tamu VIP yang menyaksikan gim, Para Staf yang membantu kerja The Front Man, The Salesman, 456 pemain (gamers), Polisi (detektif), dan Masyarakat biasa. Masyarakat biasa yang dimaksud adalah warga Korea Selatan dalam konteks film ini. Mereka tidak akan saya bahas semua. Beberapa saya pilih atas dasar upaya untuk menyibak kegelisahan saya setelah menonton film ini seperti The Salesman, The Leader, gamers, dan beberapa adegan yang mendukungnya. Lantas, apa keterkaitan mereka semua di film ini?

Pintu Gerbang Utama Masuk di Squid Game

Sebanyak 456 orang peserta mengikuti Squid Game tahun 2021. Keterlibatan mereka diduga kuat berkat tangan dingin Sang Salesman. The Salesman bertugas merekrut mereka, yakni orang-orang yang terlilit utang atau dicari-cari rentenir. Beberapa posisi pemain tersebut sudah diujung tanduk.

Persoalan sosial ekonomi yang makin mencekik warga Korea Selatan pun tergambar jelas di film ini dan belakangan dipertegas dalam artikel yang berjudul “Behind the Global Appeal of ‘Squid Game,’ a Country’s Economic Unease,” karya Jin Yu Young. Pertanyaan menariknya adalah kira-kira dari mana Sang Salesman tahu data-data pribadi para pemain secara detail mulai dari nama lengkap hingga jumlah nominal utang-utangnya? Bahkan, Sang Salesman bisa dengan mudah menemukan calon target.

Apa karena sejak awal pencipta gim ini seorang crazy rich sehingga hal itu mudah sekali diduga? Banyak cara bisa dilakukan, atau ada kemungkinan lainnya? Ya, ada, biasanya pemberi utang akan meminta data-data pribadi Anda sebelum memutuskan apakah akan menggelontorkan sejumlah uang ke kantong Anda. Itu praduga yang bisa dicek validitasnya jika Anda tertarik perihal sistem utang yang berlaku di Korea Selatan. Dalam konteks Indonesia, hal itu lumrah terjadi, pernah dapat SMS spam pinjaman online atau sejenisnya, bukan? Pernah bertanya dari manakah mereka tahu nomor ponsel kita?

Dalang Di Balik Matinya Ratusan Orang di Squid Game

The Leader diduga kuat sebagai dalang di balik matinya puluhan orang di gim ini. Ia ternyata salah satu orang pemain yang juga terlibat dalam gim tersebut bernomor urut 001. The Leader ternyata sudah mempersiapkan gim ini secara matang. Sebagai salah satu contoh, kita bisa mengamatinya di episode pertama di mana para staf membawa senjata dengan tujuan sebagai pengaman apabila para pemain memberontak usai gim pertama selesai.

Kita juga bisa melihat bahwa The Leader merupakan aktor kunci yang memiliki kuasa penuh terhadap Squid Game. Gim ini tentu menyoal siapa yang berkuasa, dan siapa menaklukkan siapa. Selain itu, para penonton akan diajak jalan-jalan di ruang kerja para staf dan menunjukkan kerja-kerja para staf yang sedang mengawasi para pemain dari beberapa sudut melalui mata kamera (sebut saja CCTV). Segala sesuatunya direkam di Squid Game, dikecualikan di toilet. Ruang ini dipercaya sebagai salah satu ruang privat bagi para pemain Squid Game.

Selanjutnya, beberapa pertanyaan ini barangkali bisa diajukan untuk menyibak sosok dan motif pencipta Squid Game. Mengapa gim ini diciptakan? Apa tujuannya? Apakah ingin membersihkan sampah biologis di dunia ini? Jika, iya, maka peraturan ketiga Squid Game dalam permainan itu kurang lebih berbunyi: “Apabila mayoritas para pemain setuju menghentikan gim maka game over”. Derma? Tapi membunuh? Mengapa yang mati di gim pertama juga mendapat santunan uang? Apakah memang para “penikmat” gim ini mendapatkan kesenangan “hakiki” melihat pemain yang mati di lokasi permainan? Atau karena pencipta gim ini punya banyak uang ("tak terkendali") sehingga bingung uangnya mau dipakai untuk apa? Tercetuslah ide membuat gim ini, tapi mengapa gim ini? Apakah mental, psikis pencipta Squid Game “sehat”? Sejumlah pertanyaan saya ini bisa gugur jika melihat ending Squid Game musim pertama ini, namun kegelisahan tetap harus dibangun.

Salah satu percakapan di film Squid Game menyatakan bahwa: “Squid Game di Korea Selatan memang terbaik. Oleh karena itu, kami datang jauh-jauh ke Korea Selatan untuk menyaksikan pertandingannya secara langsung”. Hal itu mengisyaratkan bahwa Squid Game boleh jadi ada di negara-negara lain di dunia. Artinya, di setiap negara memiliki tuan rumah pertandingan masing-masing. Pencipta Squid Game juga masih misterius, bisa satu orang atau lebih. Saya menduga ada dewan pengawas Squid Game dan elemen-elemen lainnya yang mendukung terlaksananya gim ini layaknya sebagai sebuah organisasi internasional misterius.

Nasib Nahas Mayat Para Pemain

Para pemain yang mati dibumihanguskan, walaupun ada juga para staf dan pemain yang membelot dengan cara mengambil organ tubuh para pemain yang mati untuk diperjualbelikan. Namun, masih ingatkah Anda di salah satu dialog film ini bahwa ternyata para pemain yang tidak kembali lagi di gim ini tetap diawasi. Siapa yang bertugas mengawasi masih misteri. Mengapa mereka mengawasi? Mungkin para pemain dianggap seperti “kuda”, di Squid Game itu butuh “kuda” agar gim pacuan kuda tetap terus berjalan, beregenerasi, dan tentunya membahagiakan sebagian crazy rich.

"Kesetaraan Gender", Kesenjangan Sosial, dan Lahirnya Para Budak

Sekilas kalau diperhatikan antara perempuan dan laki-laki itu equal, sama, tidak dibeda-bedakan dalam hal pakaian atau seragam yang dikenakan para pemain gim. Namun, ternyata di salah satu narasi cerita, dalam konteks lain ternyata pria masih dianggap terkuat, sementara perempuan lemah. Ini bisa Anda temui di dalam gim tarik tambang. Menariknya, hal itu sempat didobrak oleh ide salah satu pemain bahwa yang “kuat” tidak melulu berkaitan dengan otot , namun yang memiliki strategi, kekompakan juga memiliki potensi yang sama untuk memenangkan gim tarik tambang. Jadi, sebenarnya masih adakah kesetaraan itu yang digadang-gadang dalam gim ini? Atau kesetaraan itu hanyalah ilusi belaka?

Selain itu, kita bisa melihat jelas bahwa ada ketidaksetaraan dan kesenjangan sosial ekonomi di Squid Game. Masyarakat yang tidak memiliki uang atau terlilit utang diperlakukan seperti "budak" (catur mainan) bagi orang-orang kaya. Mereka dilibatkan atau "dikondisikan" di lingkungan yang menuntut persaingan ketat. Pilihannya hanya ada dua, hidup atau mati. Orang yang bertahan adalah orang-orang terkuat. Ini juga menyoal perihal yang kuat dan yang lemah, yang kuat menaklukkan yang lemah, yang lemah diinjak-injak.

Saya jadi teringat K-POP di Korea Selatan. Apakah bintang K-POP itu juga "budak" yang sengaja diciptakan oleh perusahaan-perusahaan ternama di Korea Selatan? Jika, iya, wajarlah Korea Utara memberlakukan denda atau penjara bagi warganya yang kedapatan menikmati "hiburan" ala-ala Korea Selatan. K-DRAMA "Crash Landing On You" (2019) tampaknya cocok bagi Anda untuk melihat sisi lain dari Korea Utara.

Privasi Data Pribadi Nasabah dan “Nurani” Pihak Perbankan

Salah satu adegan yang menarik dalam film Squid Game adalah ketika salah satu pihak bank di Korea Selatan menemui pemenang Squid Game tahun 2021, Seong Gi-Hun. Pihak bank tersebut bermaksud menawarkan pelayanan VIP kepada Seong Gi-Hun atas dasar layanan tabungan sebelumnya hampir tidak ada bunga bank (semoga saya tidak salah menafsirkan karena saya menggunakan subtitle Bahasa Indonesia ketika menonton). Bagi pihak bank mungkin ini suatu yang wajar. Gimana enggak! Seong Gi-Hun mempunyai uang sekitar 45.599.990 Won di rekeningnya dan pihak bank melihat “tidak ada” pergerakan yang signifikan di rekeningnya itu. Singkatnya, ini kesempatan emas yang bisa jadi dapat dimanfaatkan oleh pihak bank supaya saling menguntungkan kedua belah pihak. Namun, sayangnya Seong Gi-Hun tidak menggubris tawaran itu dan justru meminjam uang 10.000 Won kepada pihak bank.

Sebagai seorang outsider yang sengaja tidak mencari tahu perihal sistem dan mekanisme pelayanan beberapa bank di Korea Selatan, kita bisa sama-sama belajar lewat film Squid Game ini bahwa salah satu pihak Bank di Korea masih punya “hati nurani” dengan meminta izin terlebih dahulu kepada nasabah untuk beralih ke layanan VIP atau tidak (walaupun di film ini nama Bank tersebut secara gamblang terlihat, namun saya sengaja tidak menuliskannya di sini).

Ini menarik karena jika dikorelasikan dengan konteks perbankan konvensional di Indonesia, maka hal itu boleh jadi berbanding terbalik karena kesepakatan antara pihak bank dan nasabah sudah “selesai” di awal ketika nasabah membuka rekening bank. Ini berdasarkan pengalaman saya sebagai nasabah bank di Indonesia. Berikut beberapa syarat dan ketentuannya.

Saya dengan ini memberikan persetujuan kepada Bank X untuk memberikan data saya kepada pihak lain di luar Bank X yang bekerja sama dengan Bank X dalam rangka kegiatan promosi atau untuk tujuan komersial lainnya.

Saya setuju terhadap pernyataan pada bagian Pernyataan Nasabah.

Saya setuju dengan syarat dan ketentuan tersebut.

Itu beberapa contoh syarat dan ketentuan ketika nasabah akan membuka rekening baru di bank. Bisa jadi redaksinya berbeda di tiap-tiap bank. Pertanyaannya kemudian, Apakah semua nasabah membaca secara detail syarat dan ketentuan tersebut?

Syarat dan ketentuan pada bank bagian ini juga menarik untuk sorot: “Saya dengan ini memberikan persetujuan kepada Bank X untuk memberikan data saya kepada pihak lain di luar Bank X yang bekerja sama dengan Bank X dalam rangka kegiatan promosi atau untuk tujuan komersial lainnya. Kenapa menarik? Karena kita tidak tahu sejauh mana data pribadi kita yang diberikan kepada pihak bank itu “dieksploitasi”.

Beberapa bank konvensional di Indonesia biasanya mempunyai hak “memutar uang” nasabah untuk diinvestasikan ke pihak lain yang bekerja sama dengan bank tersebut. Keuntungan yang didapat dari “perputaran uang” itu akan diberikan ke nasabah, salah satunya dalam bentuk bunga uang (riba).

Bersambung, karena keterbatasan jumlah kata …

Squid Game | 2021 | Sutradara: Hwang Dong-hyuk | Penulis: Hwang Dong-hyuk | Produksi: Siren Pictures Inc. | Negara: Korea Selatan | Pemeran Kunci: Lee Jung-jae, Park Hae-soo, Wi Ha-jun | Distributor: Netflix