Researcher
3 tahun lalu · 2212 view · 6 menit baca · Saintek darwin_s_tree_by_jhonnesouza-d4mmbbc.jpg

Spiritualitas Darwinisme

Dua hari yang lalu, 12 Januari 2016, tepat 207 tahun yang lalu seorang anak manusia bernama Charles Robert Darwin dilahirkan. Ia adalah seorang pencetus atau yang mempopulerkan teori evolusi. Teori ini dianggap sebagai teori paling revolusioner dalam dunia biologi dan memiliki pengaruh yang sangat besar hingga saat ini.

Pada awalnya teori ini mendapat banyak pertentangan dari para ilmuwan saat itu. Tapi saat ini, kedudukan teori evolusi sudah sangat kokoh dalam dunia sains. Didukung oleh ilmu genetika, anatomi, kedokteran, psikologi, hingga astronomi, dan banyak bidang lainnya.

Rasanya hampir mustahil untuk menggoyahkan teori evolusi. Darwin mengatakan bahwa evolusi makhluk hidup itu nyata melalui proses seleksi alam. Ia menemukan spesies yang sama tapi memiliki beberapa perbedaan dalam bentuk fisik di beberapa daerah yang berbeda pula.

Dari sinilah ia mengambil hipotesis bahwa makhluk hidup beradaptasi dengan menyesuaikan dirinya dengan alam. Intinya, semua makhluk hidup menurut Darwin akan berusaha beradaptasi dengan lingkungannya. Siapa yang paling mampu beradaptasi maka ia lah yang bertahan. Inilah inti dari seleksi alam.

Sebagai contoh, jerapah memiliki leher panjang karena ia harus berkompetisi dengan makhluk herbivora lain yang memakan rumput, maka jerapah mencoba menggapai dahan yang lebih tinggi agar bisa terus hidup. Lama kelamaan agar bisa terus mempertahankan spesiesnya, jerapah menyesuaikan diri dengan memanjangkan lehernya melalui proses evolusi yang memakan waktu lama.

Pertanyaannya adalah mengapa banyak dari kita yang menolak teori evolusi Darwin? Kebanyakan orang menganggap teori Darwin bertentangan dengan ajaran agama yang dianggap mutlak dan tidak mungkin salah ini. Kitab Perjanjian Lama dalam surat Kejadian menyatakan bahwa manusia langsung diciptakan secara instan oleh Tuhan, maka teori evolusi dianggap bertentangan dengan kitab suci.

Perjanjian Lama adalah kitab monotheis tertua sehingga memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap penganut monotheis berikutnya (Kristen dan Islam). Agama monotheis (yang dimaksud adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam) menyatakan bahwa manusia pertama di dunia adalah Adam yang diciptakan langsung oleh Tuhan dengan wujud sempurna tanpa melalui proses evolusi. Apakah benar begitu?

Hemat saya, teori evolusi melalui seleksi alam adalah nyata dan fakta-faktanya sulit dipatahkan. Mengutip filsuf Muslim, Ibn Rusyd “Kami tahu betul bahwa berpikir logis tidak akan sampai menentang agama, karena kebenaran tidak akan menentang kebenaran. Justru kebenaran yang satu akan menguatkan kebenaran yang lainnya”. Baiklah, mari sedikit kita kupas teori evolusi melalui perspektif Islam.

Al-Quran tidak menerangkan secara detil tentang proses penciptaan manusia. Perhatikan surat Al-Baqarah, ayat 30, yang menjelaskan penciptaan manusia “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” 


Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Al-Baqarah:30).

Redaksi dari ayat tersebut adalah “Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Aku tidak memahami bahasa Arab, tapi setelah kutanyakan pada seorang kawan yang cukup menguasai bahasa Arab, redaksi tersebut memang benar. 

Kebanyakan kata menjadikan diganti oleh menciptakan padahal dalam bahasa Arab kata menjadikan dan menciptakan berbeda jauh sehingga hanya kemungkinan kecil redaksi tersebut salah.

Saya pikir, kata “menjadikan” menandakan bahwa sebenarnya sudah ada manusia yang hidup saat itu sehingga Allah hendak menjadikan seorang khalifah dari beberapa manusia yang sudah ada. Pada akhirnya, pilihan itu jatuh pada nabi Adam.

Lagipula, jika belum ada manusia pada saat itu, mengapa malaikat bisa mengetahui bahwa calon khalifah itu adalah orang yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah? Menurutku, seandainya saat itu belum ada satupun manusia, tidak mungkin malaikat mengetahui bahwa calon khalifah itu (manusia) adalah orang yang membuat kerusakan.

Cih, sebenarnya terlalu rumit pembahasan ini. Kebanyakan kita yang menolak teori evolusi bahkan mungkin tidak mengetahui ayat tersebut. Dalam observasi dan wawancara kecil-kecilan terhadap orang yang menolak teori evolusi hanya menyatakan argumen “Emang lo mau kalo nenek moyang lo itu monyet?” Ah, penolakan seperti ini nampaknya hanya egoisme manusia saja yang terlalu sombong hingga tidak ingin disamakan dengan binatang.

Darwinisme yang faktual hanya ditolak oleh alasan-alasan yang sama sekali berlandaskan egoisme manusia. Dalam beberapa agama memang dinyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna, karena pemahaman yang didapat dari sinilah mereka dengan sombongnya menolak dirinya adalah keturunan binatang.

Tapi, ada kesalahan persepsi tentang manusia adalah keturunan dari monyet. Darwin sendiri menolak bahwa manusia adalah keturunan monyet! Darwin menyatakan bahwa manusia dan monyet memiliki nenek moyang yang sama. Sama halnya dengan singa dan harimau, mereka sama-sama berasal dari keluarga kucing. Manusia dan monyet sama-sama berasal dari keluarga primata.

Paham Darwinisme dianggap bertanggung jawab atas pembantaian besar-besaran yang dilakukan Adolf Hitler serta Nazi-nya. Karena Hitler dianggap menganut paham darwinisme yang berbunyi “Hanya yang kuatlah yang bertahan”, sehingga paham darwinisme dianggap tidak memiliki nilai positif sama sekali tapi hanya melahirkan permusuhan untuk berkompetisi dalam kelangsungan hidup. 


Padahal Darwin tidak berkata demikian, ia justru mengatakan bukan yang terkuat dan terpintarlah yang bertahan, melainkan yang mampu beradaptasi.

Saya kira, Darwinisme memiliki nilai positif atau spiritualitas yang sangat tinggi. Benang merah yang didapatkan dari semua agama adalah “Cintailah saudaramu seperti kau mencintai dirimu sendiri”, “Jangan lakukan sesuatu pada saudaramu sesuatu yang tidak ingin orang lakukan padamu”, dan masih banyak lagi.

Orang-orang bijak seperti Nabi Muhammad SAW, Yesus, Buddha Gautama, Plato, hingga Mahatma Gandhi menyampaikan pesan yang serupa. Karen Armstrong, dalam bukunya yang berjudul Compassion menyatakan bahwa pesan-pesan semacam itu adalah kaidah emas dan terdapat dalam setiap agama.

Kaidah emas tersebut dapat dikaitkan dengan darwinisme dengan begitu manis. Darwinisme menganggap bahwa semua makhluk hidup berasal dari satu nenek moyang, semua spesies lahir dari seleksi alam yang akhirnya menghasilkan perbedaan sesuatu dengan adaptasi pada lingkungannya.

Bukankah ini mengandung nilai ketauhidan? Kita berasal dari yang satu. Hal ini juga berarti manusia dengan pohon adalah saudara. Manusia dengan lalat juga saudara. Manusia dengan macan juga saudara. Intinya makhluk hidup yang ada di dunia ini adalah saudara.

Kaidah emas dalam setiap agama mengatakan “Cintailah saudaramu seperti kau mencintai dirimu sendiri”. Hal ini berarti kita harus mencintai semua makhluk hidup, termasuk tumbuhan dan hewan. 

Dengan begitu, tidak ada lagi eksploitasi atau pemahaman positivisme klasik yang menyatakan bahwa dunia harus tunduk pada manusia. Memang manusia adalah khalifah dan dunia ditundukkan untuk manusia, tapi hal ini tidak berarti kita bebas melakukan eksploitasi besar-besaran pada alam!

Semua makhluk hidup adalah saudara. Manusia harus mencintai semua makhluk hidup. Tugas khalifah atau pemimpin adalah membantu tujuan penciptaannya. Pemimpin yang baik dalam suatu organisasi adalah membantu anggotanya mencapai kesempurnaan yang ingin dicapai anggotanya. Begitupun tugas manusia sebagai pemimpin dunia.

Sebagai contoh, tujuan penciptaan tanaman apel adalah untuk menjadi kebutuhan pangan manusia. Oleh sebab itu manusia harus membantu tujuan penciptaan tanaman apel tersebut. 


Menurut Quraish Shihab, dalam Islam tidak diperbolehkan memetik buah yang belum matang karena berarti hal itu membuat kita merusak tujuan penciptaannya. Justru kita harus membantu pohon apel menghasilkan buah apel yang matang untuk disantap manusia.

Spiritualitas darwinisme menurutku justru sangat baik. Dengan pemahaman semacam ini dunia akan terus seimbang karena manusia tidak melakukan eksploitasi besar-besaran pada alam. 

Pemahaman ini juga mengurangi konflik horizontal manusia, sebab kita semua bersaudara maka dianjurkan untuk tidak melakukan sesuatu pada orang lain yang tidak ingin dilakukan orang lain pada kita. Apakah ada manusia yang mau didiskriminasi atas latar belakangnya? Saya yakin tidak ada.

Artikel Terkait